Sabtu, 25 Agustus 2012

Tugas-1 Autobiografi Kanya Pradipta




16 tahun suka duka hidup ini      

 Berikut ini merupakan 16 tahun perjalanan hidup saya di dunia ini. Perkenalkan, nama saya Kanya Pradipta Sarashvati. Seringkali dipanggi “kanya” oleh teman-teman dan keluarga saya. Tetapi beberapa keluarga saya memanggil saya “nunia” dikarenakan sewaktu saya kecil, saya sendiri tidak dapat mengucapkan kata “kanya” sehingga yang keluar dari mulut saya adalah “nunia”. Selain itu, saya juga sering dipanggil “Anya” oleh keluarga dekat saya. Saya lahir pada Rabu Pahing, 7 Februari 1996 pada pukul 11.19 WIB. Saya lahir pada hari ke-17 bulan puasa ramadhan 1416 H. Saya lahir di Rumah Sakit Bersalin YPK, di daerah menteng, jakarta pusat. Saya adalah anak kedua dari 2 bersaudara. Ayah saya bernama Arie Suseno Nartomo (alm) dan Ibu saya bernama Rina Tamara Koentjaraningrat. Saya mempunyai satu kakak bernama Bhima Adhiguna Ganendra yang memiliki jenjang 4 tahun lebih tua daripada saya.
saya sewaktu baru lahir


            “Putih dan gendut” begitulah panggilan saya ketika saya baru lahir. Karena saya lahir dengan berat 3500 gram, yang bagi ukuran bayi baru lahir, termasuk sangat berat. Selain itu, sewaktu saya lahir, kulit saya sangatlah putih.  Pada saat saya lahir, sangat banyak bencana yang terjadi. Salah satunya yaitu pesawat latih PLP curug jatuh di bandung, kereta api anjlok di jabar, KMP Gurita tenggelam di sabang serta bencana alam seperti gempa dan gelombang tsunami di biak dan manado. Tanggal 6 Januari 1996, terjadi banjir yang disebabkan oleh kali ciliwung yang meluap. Sampai pada puncaknya, satu hari setelah saya lahir, kamar operasi untuk bersalin pun tergenang oleh air. Untunglah pada hari itu saya sudah lahir. Sewaktu saya kecil, saya paling dekat dengan nenek saya dari bunda, yang sampai sekarang saya panggil “uti”. Menurut ibu saya, setiap kali saya melihat eyang uti, saya selalu merengek minta digendong. Selain itu, setiap saya mau tidur, saya selalu minta diputar musik “merry go round” yang menggantung di atas tempat tidur saya. Apabila tidak diputar, maka saya tidak akan tidur.
saya berumur 1 minggu berada di tempat tidur saya bersama boneka-boneka
saya berumur 6 bulan
saya bersama ayah saya 

saya berumur 10 bulan
saya berumur 1 tahun bersama kakak saya



Pada umur 3 tahun, saya masuk playgroup yang bernama “tumble tots”. Tidak banyak yang saya ingat dengan pengalaman saya di tumble tots. Saya hanya ingat bahwa disana, seharian hanya bernyanyi dan bermain saja. Lalu pada umur 4 tahun, tepatnya pada tanggal 17 Juli 2000, saya masuk taman kanak-kanak pada pertama kalinya. TK saya bernama Tadika Puri, yang terletak tidak jauh dari rumah saya, di rawamangun, jakarta timur. Pada saat saya di taman kanak-kanak, pelajaran yang paling saya sukai adalah melukis. Saat TK A, saya mendapat peringkat 1 di kelas. TK tadika puri merupakan sekolah yang sangat aktif mengikuti berbagai macam lomba. Dari mulai tari tradisional, paduan suara, menggambar, membaca puisi, dan lainnya. Sering sekali saya menang berbagai macam lomba pada saat saya berada di taman kanak-kanak. Saat TK A selesai, saya mendapat sekitar 10 piala dari semua lomba-lomba yang saya ikuti. Pada saat saya TK B, peringkat saya turun menjadi peringkat 3. Dikarenakan saya sempat tidak masuk sekolah selama 1 bulan, karena suatu kejadian yang menurut saya sangat menakutkan sampai sekarang. Pada saat itu, saya hendak mengikuti perlombaan tari tradisional di dufan, ancol. Seperti biasanya, tari tradisional ketika diperagakan tidak mengenakan alas kaki apapun. Panggung yang akan kami gunakan untuk menari merupakan panggung yang tidak ada atapnya, sehingga terbuka dan panas. Ketika kami mau tampil, saat itu kira-kira pukul 12.00 dimana pas sekali matahari sangat terik. Sewaktu mau tampil, saya berada di barisan paling depan, yang pertama kali masuk ke panggung. Dengan melepas sepatu, saya naik keatas panggung yang sangatlah panas. Saya menaiki panggung dengan setengah berlari karena panggungnya sangat panas. Setelah saya sampai diatas panggung, saya merasa bawah kaki saya sangat sakit. Ketika saya lihat, ternyata kedua telapak kaki saya sudah berkerut dan melepuh. Pada saat itu juga, saya dilarikan ke P3K dufan. Setelah diobati, saya pulang kerumah dan saya tidak bisa berjalan sekitar 3 minggu. Sehingga saya harus kembali ke masa bayi ketika saya harus merangkak keliling rumah saya. Ketika saya hampir sembuh, guru-guru TK tadika puri menjenguk saya ke rumah sambil membawakan hadiah. Sewaktu itu saya sangatlah senang. Tak lama kemudian, sekitar 1 minggu setelah itu saya kembali masuk ke sekolah. Namun kejadian tersebut tidak akan saya lupakan sampai kapanpun. Lalu pada saat saya berusia 5 tahun, saya memulai les piano. Guru saya pertama kali adalah ibu Juli Adin, di sekolah musik Faasto yang didirikan oleh ibu Otti Jamalus, ibu Rien Jamalus, dan lainnya. Pertama kali saya memulai di tingkat paling dasar. Setelah beberapa bulan les piano, Ibu Juli berbicara kepada ibu saya dan mengatakan bahwa saya bisa naik tingkat dari dasar 1 menjadi tingkat 1, yaitu melompat 3 tingkat ke tingkat yang lebih tinggi. Tetapi dengan syarat saya harus lebih rajin melatih scale atau tangga nada.
saya berumur 3 tahun

            Pada saat saya berusia 6 tahun, saya masuk ke Sekolah Dasar bernama SD Tarakanita 5 di rawamangun, jakarta timur. Tarakanita merupakan sekolah untuk anak beragama katolik. Sehingga saya yang beragama islam harus belajar pendidikan agama katolik. Saya masuk ke SD Tarakanita 5 karena kemauan saya sendiri. Entah mengapa saya memilih sekolah itu. Mungkin karena dahulu saya melihat seragam kotak-kotak khas tarakanita yang menurut saya bagus (maklum masih anak kecil). Di SD saya mulai dikenalkan dengan menulis dengan tulisan sambung. Selama disana, kami siswa SD tarakanita diharuskan untuk menulis dengan tulisan sambung. Pada saat saya kelas 1, saya mengikuti ekstrakurikuler melukis. Tidak banyak yang saya ingat pada saat saya kelas 1. Sewaktu saya naik ke kelas 2, di sd tarakanita 5 mempunyai sistem masuk siang untuk kelas 2 saja. Sehingga pada hari senin sampai kamis saya masuk pukul 10.20. sedangkan pada hari jumat dan sabtu saya masuk pukul 9.45. Sewaktu sd, yang mengantarkan saya ke sekolah adalah ayah saya. Karena ibu saya harus kerja pada pagi hari. Sewaktu kelas 3, saya ingat wali kelas saya yaitu ibu purwaningsih atau biasa dipanggil ibu pur. Sewaktu kelas 3, saya mengikuti ekstrakurikuler ensamble yang diajar oleh alm. Bapak Juminto. Pada ekskul itu, saya memainkan suling. Lalu saya pun naik ke kelas 4. Di kelas 4 ini, wali kelas saya bernama ibu Ika. Di kelas 4 inilah sistem belajar mulai berubah. Saya tidak lagi belajar sendiri atau duduk satu meja hanya berdua saja. Tetapi di kelas 4 ini ada kurikulum yang mengharuskan kita untuk belajar berkelompok. Sehingga satu meja terdiri dari beberapa meja yang digabungkan dan berisi sekitar 5 sampai 6 orang. Banyak kejadian yang terjadi di kelas 4 ini. Salah satunya adalah saya secara tidak sengaja dipukul sama anak laki-laki bernama jeffry sampai kening saya berdarah. Selain kejadian itu, di kelas 4 ini saya bersama teman-teman sekelas saya pernah protes ke para guru karena membela teman saya yang dituduh bersalah atas kasus gigi patahnya anak lain. Padahal sebenarnya dia tidak bersalah. Saya dan teman-teman saya juga pernah protes untuk penggantian guru komputer yang sering menghina orang secara tidak jelas.Yah, banyak yang terjadi di kelas 4 SD ini. Lalu saya pun naik kelas ke kelas 5.

saya berumur 8 tahun


Pada saat liburan kenaikan kelas ini, saya pergi ke melbourne, australia selama kurang lebih 1 bulan untuk liburan dan ikut semacam summer camp. Pada saat di australia, kakak saya masuk ke avalon college, semacam sekolah winter untuk belajar bahasa inggris. Avalon college ini berada diluar melbourne, tepatnya di Geelong. Selama 1 bulan ini saya melakukan banyak hal di melbourne. Seperti pergi ke mount  buller, yaitu gunung di melbourne atau luar melbourne (saya tidak ingat) yang tertutup dengan salju. Karena pada saat itu, di melbourne  terjadi musim dingin, tetapi di kota tersebut tidak ada salju. Sehingga untuk melihat salju kami harus pergi ke mount buller. Di melbourne, kami tinggal di apartemen yang berlokasi di daerah victoria. Sedikit jauh dari city, tetapi persis di depan gedung apartemen terdapat tram station. Di melbourne, saya mengunjungi berbagai hal. Yang saya ingat adalah saya mengunjungi melbourne zoo, melbourne scienceworks museum and planetarium, dan menonton pertunjukan ballet di city. Persis di sebelah apartemen yang saya terdapat taman yang ada danaunya. Di jalanan sekitar taman itulah jalanan yang digunakan untuk F1 (saya lupa nama tamannya).

Setelah pulang dari melbourne, saya pun kembali menjalani rutinitas saya seperti biasanya. Saya masuk ke kelas 5. Karena liburan saya tersebut, saya terlambat masuk selama satu minggu lebih. Pada saat itu, SD Tarakanita 5 sedang merenovasi gedung sekolahnya. Sehingga saat itu kelas 5 E berpindah ke ruang guru. Wali kelas saya pada saat saya kelas 5 adalah ibu Susi. Di kelas 5 inilah Tarakanita mulai meliburkan siswa-siswinya pada hari sabtu. Sehingga kami hanya masuk dari hari senin hingga jumat. Setelah kira-kira belajar selama 2 sampai 3 bulan di kelas sementara, akhirnya kami berpindah ke ruangan kelas kami yang asli. Ibu Susi, wali kelas saya sewaktu kelas 5 merupakan orang yang sangat baik, murah senyum, tetapi tegas dalam waktu yang bersamaan. Beliau mengajarkan saya banyak hal yang bukan hanya pelajaran biasa saja. Melainkan budi pekerti, sikap, dan yang lainnya. Di kelas 5 ini saya mengikuti ekstrakurikuler basket. Entah mengapa saya memilih basket. Mungkin karena saya ingin mencoba ekskul yang belum pernah saya coba sebelumnya. Sewaktu kelas 5 ini, saya meminta ganti guru les piano saya. Dari tadinya ibu Juli, menjadi ibu Clemi. Ibu Clemi merupakan guru piano yang sangat baik. Sangat pengertian. Beliau selalu sabar mengajar saya. Karena pada tahap itu, saya sedang jenuh bermain piano. Sehingga saya sering sekali pergi ke les tanpa latian sebelumnya. Di kelas 5 ini, semua siswa diharuskan untuk mengikuti ekstrakurikuler pramuka. Sehingga saya diajarkan banyak hal mengenai pramuka. Seperti masak, sandi semaphore, tali temali, baris berbaris, dan lainnya.

Sewaktu saya mau naik ke kelas 6, saya harus pindah rumah. Yang tadinya berada di jakarta timur, harus pindah ke tangerang karena keluarga saya merasa rumah saya yang dulu sudah terlalu tua. Sampai akhirnya saya pindah ke cirendeu. Pada tahun pertama saya menyewa rumah di sekitar tanah rumah saya yang sekarang. Karena rumah saya dalam proses pembangunan. Karena pindah rumah yang sangat jauh, saya terpaksa untuk pindah sekolah juga. Dari tadinya SD Tarakanita 5 menjadi SD Tarakanita 1. Ya, tetap di Tarakanita juga. SD tarakanita 1 ini berlokasi di daerah barito, kebayoran. Pada saat kelas 6 ini, saya selalu datang yang paling pagi ke sekolah karena rumah saya yang sangatlah jauh. Sehingga apabila saya berangkat lebih siang, maka saya akan terlambat. Butuh waktu untuk adaptasi di sekolah yang baru ini. Apalagi saya juga sudah harus memikirkan untuk ujian nasional. Kebetulan angkatan saya ini merupakan angkatan sekolah dasar pertama yang syarat lulusnya harus menggunakan NEM (nilai ebtanas murni) yang diperoleh dari ujian nasional. Tetapi pada akhirnya saya mendapat banyak teman. Pada saat kelas 6 ini, terjadi lagi suatu kejadian yang mengerikan. Kali ini wajah saya yang melepuh dikarenakan tersiram minyak mendidih ketika saya sedang memasak. Untunglah sekarang tidak ada bekas luka bakar di wajah saya. Pada saat itu, untung saja saya sudah foto untuk buku tahunan. Sehingga di buku tahunan saya, saya belum memakai perban. Saya pun lulus dari SD Tarakanita 1 dengan NEM yang sangat memuaskan. Lalu saya memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke SMP Tarakanita 5 yang bertempat di seberang SD Tarakanita 1.

Di awal SMP Tarakanita 5, semua siswa baru harus mengikuti kegiatan orientasi, yang dinamakan MOS (Masa Orientasi Siswa). MOS berlangsung selama 3 hari, dan dibimbing oleh kakak-kakak osis. Setelah melewati mos, saya masuk ke kelas 7-4 dengan wali kelas Bapak Budi. Di SMP ini, seluruh siswa kelas 7 diharuskan untuk mengikuti ekstrakurikuler pramuka lagi. Namun di smp ini diajarkan pelajaran pramuka secara lebih dalam. Lalu kami pun pergi camping di camping ground yang berada di ciawi, bogor. Saya naik ke kelas 8 dengan nilai yang sangat memuaskan. Saya mendapatkan ranking 1 di kelas. Tradisi di tarakanita, apabila mendapat ranking 3 besar, maka akan mendapat pin bertuliskan “excellent student”. Lalu saya pun naik ke kelas 8. Di kelas 8, saya masuk ke organisasi “OSIS” seksi P3K. Saya melewati banyak kejadian sewaktu saya kelas 8 ini. Salah satunya adalah Kepergian ayah saya tercinta. Ayah saya meninggal dunia karena berbagai macam penyakit. Mulai dari jantung, lambung, dan lainnya. Ayah saya dimakamkan di San Diego Hills, karawang. Di kelas 8 ini, saya mengikuti ekstrakurikuler cheerleading. Namun karena fisik saya kurang kuat, kelas 9 saya berhenti dari ekstrakurikuler tersebut dan mengambil ekstrakurikuler photography.  Sebelum saya naik ke kelas 9, saya pindah ke Otti Jamalus Music House (OJ Music House)untuk les piano dan vocal. Guru les piano saya yang sekarang adalah kak Mely, sedangkan untuk vocal, diajarkan langsung oleh ibu Otti Jamalus. Di kelas 9 ini, saya mendapat kelas 9-1 dengan wali kelas ibu Hermina.  Di kelas 9 ini sudah sibuk dengan persiapan ujian nasional, try out, ujian praktek, ujian sekolah, dan lainnya. Sehingga selama saya kelas 9, kehidupan saya dipenuhi dengan belajar dan belajar. Lalu saya pun lulus dari SMP Tarakanita 5 dengan nem yang sangat memuaskan. Setelah pengumuman kelulusan, terdapat libur yang sangat panjang. Selama libur tersebut, banyak acara seperti prom night, dan pembuatan buku tahunan. Saya merupakan salah satu dari panitia pembuatan buku tahunan. Sehingga walaupun saya sudah lulus, saya tetap harus pergi ke sekolah setiap hari untuk membuat buku tahunan bersama teman-teman saya lainnya.  Setelah lulus smp, saya mencoba untuk tes masuk di SMA Tarakanita 1, yang merupakan sekolah lanjutan untuk SMP Tarakanita di jakarta. Saya diterima disekolah tersebut. Tetapi saya memutuskan untuk melepasnya karena saya sudah bertekad untuk SMA di Labschool. Sehingga akhirnya saya mengikuti Tes PSB di SMA Labschool Kebayoran, dan Alhamdulillah saya keterima di SMA Labschool Kebayoran.

 saya kelas 8 smp bersama teman-teman saya bermain kuncir dua
saya mengikuti ekskul cheers kelas 8 (saya di base paling belakang yang tengah)

saya kelas 9 smp bersama teman-teman terbaik saya
saya di majalah girlfriend bersama uthe dan nania
saya bersama suster olivia kepala sekolah smp tarakanita dalam pelepasan
prom night smp tarakanita 5 di hotel sultan jakarta


Awal masuk SMA, kami diharuskan untuk mengikuti kegiatan MOS, yang dibimbing oleh kakak-kakak osis dan mpk. Saat pra-MOS, kami diharuskan untuk membuat name tag. Saya kaget ketika melihat design name tagnya. Karena sewaktu saya smp, saya tidak pernah membuat name tag sesusah ini. Tetapi setelah 3 jam bersama teman-teman 1 kelompok saya, jadilah name tag tersebut. Lalu kegiatan MOS pun dimulai. Hal yang baru pertama kali saya temui semenjak di Labschool adalah lari pagi setiap hari jumat (tetapi ketika mos setiap hari), lalu makan komando, yaitu makan a la tentara dengan dihitung. Setelah mengikuti proses MOS selama 3 hari, kami menjalankan rutinitas kami, yaitu belajar. Di kelas X ini saya mengikuti ekstrakurikuler dazzling. Setelah beberapa bulan belajar, bulan Ramadhan datang. Salah satu program labschool di bulan Ramadhan adalah PILAR (pesantren ramadhan). Kami para siswa kelas X yang muslim diharuskan untuk mengikuti kegiatan ini. Kegiatan ini berlangsung 3 hari 2 malam di SMA Labschool Kebayoran. Setelah kegiatan ini, datanglah program wajib labschool lainnya, yaitu Trip Observasi. Trip Observasi merupakan kegiatan tinggal di rumah warga, di desa. Sebelum Trip Observasi, terdapat Pra-Trip Observasi. Dimana angkatan 11 dibina untuk menjadi suatu angkatan yang kompak dan solid. Setelah melalui proses yang panjang selama 2 hari, terbentuklah angkatan DASA EKA CAKRA BAYANGKARA (Dasecakra). Dengan 3 ketua angkatan. Setelah Pra-TO, maka kami melaksanakan TO. Kami pergi ke desa parakan ceuri, purwakarta untuk tinggal di rumah warga setempat selama 5 hari 4 malam. Banyak sekali kejadian dan kenangan menyenangkan yang terjadi selama trip observasi. Setelah selesai trip observasi, kami para siswa kelas x dapat bernapas sejenak dari seluruh program labschool. Tetapi di semester 2, terdapat program wajib terakhir kelas x, yaitu BINTAMA. Dimana kami, angkatan dasecakra harus menginap dan dilatih di serang, banten, di group 1 Kopassus selama 6 hari 5 malam. Bisa dibilang pengalaman yang berharga sekaligus menyakitkan sekaligus mengesankan. Karena ketika kami meninggalkan group1 kopassus, kami merasa kangen dengan para pelatih disana. Untuk yang ingin menjadi osis dan mpk, diwajibkan untuk mengikuti LAPINSI (latihan kepemimpinan siswa) dan mengikuti TPO. Saya pun mengikuti kegiatan tersebut karena saya ingin menjadi pengurus osis. Dengan mengikuti lapinsi dan tpo, alhamdulillah saya menjadi Capsis (calon pengurus osis) yang akan melaksanakan lari lintas juang sejauh 17 km pada tanggal 9 September 2012 mendatang. Saya pun naik ke kelas XI dan mendapatkan jurusan yang dari dulu saya inginkan, yaitu IPS. Lalu autobiografi ini merupakan tugas sejarah di kelas XI. Saya berharap semoga nilainya bagus ya pak! Amin


 saya sewaktu trip observasi di pos seksi kesenian
saya bersama teman-teman sewaktu study tour bandung

saya bersama X-A!
saya bersama astrid dan tasbel sewaktu lari pagi terakhir





Tidak ada komentar:

Posting Komentar