Sabtu, 25 Agustus 2012

Tugas-1 Autobiografi Kanisha Delaras Zahrah

16 Tahun Pelangi Kehidupan Zahrah Keren


15.12.95 (MASA KELAHIRAN)

Mungkin aku adalah kado terindah untuk kedua orangtuaku. Aku lahir di RS YPK Menteng, Jakarta Pusat melalui proses normal pada 15 Desember 1995 pukul 08.25 WIB, tepat saat mereka merayakan hari jadi pernikahan yang pertama. Saat itu, berat badanku hanya 2,6 kg dengan panjang  49 cm. “Ngelahirin kamu tuh gampang. Kayak buang air besar.”, kenang Mama.

Atas pemikiran Mama dan Papa, aku diberi nama Kanisha Delaras Zahrah yang lebih dikenal dengan panggilan Zahrah. Kalau kata Papa, Kanisha itu diambil dari kata Kanisius, biar lebih universal. Delaras gabungan dari bulan kelahiranku (Desember), nama Mama (Mela), dan inisial nama Papa (Rozalis Affan Sandang). Zahrah dalam Bahasa Arab artinya bunga.

Di dalam diriku mengalir darah Sunda yang diturunkan dari keluarga Mama bercampur dengan Aceh dan Palembang warisan dari keluarga Papa. Oma dan Aki, begitu panggilan Nenek dan Kakek dari keluarga Mamaku, bahagia dapat menimang cucu pertamanya. Namun, di keluarga Papa, aku adalah cucu keenam.
Makan sambil main
Papa dan Mama bekerja sebagai karyawan swasta di perusahaan yang berbeda. Kami bertiga tinggal di rumah Oma dan Aki, di Rawamangun, Jakarta Timur, karena rumah yang akan ditempati masih dalam tahap pembangunan. Disana, aku juga tinggal bersama ketiga Omku. Mereka menyambut hangat kedatanganku sebagai keponakan pertama.

Waktu kecil aku sangat susah makan. Aku harus makan di depan TV sambil duduk di kursi makan khusus bayi yang menggunakan seatbelt agar tidak banyak bergerak. Mama selalu kesal setiap menyuapiku, karena aku selalu mengemut makanan. Lebih menyebalkannya lagi, aku hanya mau makan saat iklan, sehingga Mama harus mencari saluran TV yang sedang iklan.

Merayakan ulang tahun ke-1
 
MASA AKTIF (MASA BALITA)

Memasuki usia 3 tahun, Mama mulai mencari sekolah yang cocok untukku. Setelah melakukan survey di beberapa sekolah, Mama memutuskan untuk mendaftarkanku ke sebuah sekolah yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah Oma. Aku bersekolah di Playgroup Kiddie Center, Kelapa Gading. Disana sebagian besar proses pembelajaran menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar sehari-hari. Hampir sama seperti Kelompok Bermain pada umumnya, disana aku bermain sambil belajar hal-hal lain, seperti mewarnai, menggambar, dan bernyanyi. 

Naik mobil-mobilan
Setelah masuk sekolah, perkembanganku menjadi lebih pesat. Aku menjadi anak yang periang, aktif, dan cenderung tidak bisa diam. Aku suka menyanyi dan menari sendiri di rumah. Mama pun berinisiatif untuk menyalurkan bakatku dengan mendaftarkan les vokal di Bina Vokalia dan les Ballet. Sayangnya, tidak sampai satu tahun, aku berhenti les karena harus pindah rumah.
Sekitar Agustus 1998, Alhamdulillah aku bersama kedua orang tua sudah dapat menempati rumah baru kami di daerah di Pondok Gede, Bekasi. Meskipun jauh dari mana-mana, namun rumah ini cukup asri dan jauh dari kebisingan kota Jakarta. Beberapa bulan kemudian setelah tinggal disini, Mama mengandung anak kedua. Aku sangat senang bisa punya adik baru. Aku suka mengelus-ngelus perut Mama, sambil berkata, “Adeknya lagi apa ya di dalem?”. Ketika Mama sedang hamil Adek, beliau sering ngidam makanan Italia, seperti spaghetti, pizza, dan sandwich. Pada 22 Juli 1999, adikku lahir secara normal di rumah sakit yang sama saat Mama melahirkanku, RS YPK Menteng, Jakarta Pusat. Adikku diberi nama Nadhifah Adinda Salsabila, biasa dipanggil Nadhifah. Perbedaan usia antara aku dan adikku adalah 3 tahun. Namun, kami bisa dibilang cukup dekat dan sering bermain bersama.

Sama adek waktu masih bayi

BANDEL TAPI BERPRESTASI (MASA TAMAN KANAK-KANAK)

Pencarian sekolah dimulai lagi. Kali ini, Mama mencari sekolah yang berbasis Islam, karena dirasa perlu untuk membangun karakterku di usia ini. Aku bersekolah di TK Islam Al-Azhar 11 Kemang Pratama. Di Al-Azhar, aku mulai belajar membaca, menulis, mengaji, dan ibadah-ibadah lainnya. 
Memakai kostum marching band
Saat duduk di bangku TK A, aku pernah melakukan bullying terhadap teman sekelas, Fikar. Ketika itu, aku sedang bermain balok untuk membuat rumah-rumahan. Tiba-tiba keisenganku muncul.  Kuambil balok yang paling besar, kira-kira seberat 2 kg. Kemudian, aku pukul kepala Fikar dengan menggunakan balok. Fikar langsung menangis dan kepalanya berdarah. Keesokan harinya, ibu dari Fikar datang ke sekolah ingin bertemu denganku. Aku pun meminta maaf kepada ibunya karena telah mencelakakan Fikar.

Naik kelas ke TK B, aku berubah menjadi anak yang lebih baik. Aku mengikuti ekskul marching band, karena menurutku marching band merupakan ekskul yang keren. Cita-citaku saat masuk marching band, aku ingin menjadi majorette atau pemimpin marching band. Aku berjuang keras demi mendapat posisi itu. Sampai pada akhirnya, ibu guru menunjukku sebagai majorette. Aku merasa bangga, karena impianku dapat tercapai.

Aku melanjutkan les vokal di Elfa Music School dan les ballet di Namarina, serta mencoba mengikuti les piano di Studio Lima. Aku juga mengikuti les Kumon untuk melatih kemampuan berhitung agar tidak kaget dalam menghadapi pelajaran matematika ketika masuk SD.

Menjadi majorette saat Akhirussanah TK
Menari burung camar
6 TAHUN YANG PANJANG (MASA SEKOLAH DASAR)

Waktu TK, aku berjanji kepada diri sendiri akan berbicara dengan teman menggunakan kata-kata “Gue-Lo” ketika masuk SD. Ya, dari sinilah aku mulai berbicara menggunakan bahasa gaul kepada teman-teman. 
Menginjak usia 6 tahun, aku duduk di bangku SD. SDku hanya dipisahkan oleh tempat parkir dengan TKku sebelumnya, yaitu SD Islam Al-Azhar 9 Kemang Pratama. Banyak teman TK yang meneruskan sekolah disini, sehingga tidak terlalu susah beradaptasi dengan murid-muridnya. 
Aku usia 6 tahun
Kesan pertamaku saat memasuki SD adalah seru. Aku dapat menambah teman baru dan pelajaran baru yang masih mudah. Selama kelas 1-3 SD Alhamdulillah aku selalu mendapat peringkat 3 besar di kelas. Ketika memasuki kelas 4 SD, peringkatku mulai menurun, karena aku bertemu dengan pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang cukup sulit bagiku. 
Konser piano di Goethe Haus
Menerima piala kumon

Bagian paling berwarna dari Sekolah Dasar ada di tahun kelima. Sekelas dengan teman-teman yang seru, pelajarannya juga  tambah ‘seru’. Semakin seru saat aku mengenal beberapa orang yang menamakan diri mereka Nidji. 

Koleksi album, kaos, dan pic guitar Nidji
Pertama kali aku mendengar mereka di radio. Single mereka yang berjudul “Sudah” terdengar aneh di kupingku. Tidak ada band Indonesia yang memainkan jenis musik seperti ini sebelumnya. Lambat laun, mereka muncul di TV. Nidji berasal dari kata Niji yang dalam bahasa Jepang artinya pelangi. Giring, sang vokalis gayanya sangat unik. Giring yang berambut kribo, selalu menggunakan syal, dan gayanya seperti memetik buah jambu ketika bernyanyi membuat diriku semakin anti-Nidji. 

Ternyata teman-temanku banyak yang menyukai Nidji. Beberapa dari mereka gemar memainkan lagu Nidji setiap hari sambil memukul-mukul meja di kelas saat tidak ada guru. Awalnya aku merasa terganggu dengan kebiasaan aneh mereka. Namun, semakin sering mendengar lagu-lagu Nidji di radio, TV, dan di kelas, aku jadi suka sama Nidji. Karma berlaku. Aku pun bergabung dengan mereka dan mengikuti mereka melakukan kebiasaan aneh itu. Aku resmi menjadi Nidjiholic hingga detik ini.

Sehabis HUT Hardrock Cafe (ki-ka: Nadhifah-Rama "Nidji"-Aku)
Menginjak kelas 6 SD, aku sekelas dengan seorang temanku bernama Wandya. Ketika itu, aku, Wandya, dan beberapa temanku yang lain sedang memadukan nama orang dengan kata sifat. Aku sangat menyukai kata ‘keren’ selama SD. Tiba-tiba, Wandya bilang, “Coba nama lo Zahrah Keren. Disingkat jadi Zaren. Enakan manggil Zaren kan daripada Zahrah?”. Aku langsung tertawa karena lucu dan suka mendengar nama cetusan Wandya yang diberikan kepadaku. Menurutku, Zaren adalah nama yang aneh, namun unik dan sangat earcatchy. Dari perbincangan itu, aku memutuskan untuk mengganti nama akun Friendsterku menjadi “zaReN NIDJIholic”.

Di kelas 6 SD pula aku pertama kali mengikuti les privat di rumah karena harus mempersiapkan diri untuk mengikuti UASBN (Ujian Akhir Sekolah Bertaraf Nasional). Alhamdulillah berkat usaha keras belajar siang malam, dan doa, aku lulus SD dengan nilai yang cukup memuaskan dan dapat meneruskan jenjang pendidikan di SMP Labschool Kebayoran.

SCAVOLENDRA TALVOREIGHT (MASA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA)

Aku mengikuti tes masuk SMP di beberapa sekolah. Sebagai percobaan pertama, aku mengikuti tes masuk SMP Islam Al-Azhar 1 Pusat untuk kelas akselerasi. Sayangnya, aku gagal saat memasuki tahap psikotes. Selanjutnya, aku mencoba tes di SMP Labschool Kebayoran. Sebenarnya, aku ingin masuk SMP Labschool Jakarta yang ada di Rawamangun, karena dulu Rama “Nidji” bersekolah disana. Namun, Mama mengarahkanku untuk tes di SMP Labschool Kebayoran, karena lebih dekat dengan kantor orangtuaku, sehingga mobilitasnya lebih mudah. 

Hari pengumuman penerimaan siswa baru pun tiba. Aku sudah optimis tidak diterima di Labschool. Aku tidak peduli akan hasil tesnya dan enggan mengecek website Labschool. Ketika aku sedang bersantai di rumah, Mama menelponku,  lalu berkata, “Teh, mama bangga banget sama kamu. Selamat ya, kamu diterima di Labschool!”. Langsung kututup telponnya, lalu menangis sekencang-kencangnya. Aku marah besar. Semua barang di kamar aku lempari. Aku sangat kesal karena aku diterima di SMP Labschool Kebayoran dan tidak bisa pindah ke SMP Labschool Jakarta melanjutkan jejak idolaku. Dengan terpaksa, aku harus bersekolah di SMP Labschool Kebayoran.

Wajah suram anak baru
Kaget. Itulah hal yang kurasakan saat Labs Fresh School Day (MOS) di Labschool. Aku adalah satu-satunya orang yang berasal dari SDku yang dulu. Belum lagi bertemu dengan nametag yang ribet, kakak OSIS yang kerjanya membentak, rambut dikuncir 6, PBB (Pelajaran Baris Berbaris) disuruh cium tanah, dan lari pagi melelahkan setiap hari saat MOS selama 5 hari. Labschool memiliki budaya yang sangat berbeda dengan SDku dulu. Setiap muridnya dituntut untuk menjadi lebih disiplin, aktif, dan kreatif dalam berbagai macam kegiatan. Setelah MOS berakhir, pembagian kelas diumumkan.

7B atau Autobots nama kerennya adalah kelas pertamaku di SMP Labschool Kebayoran. Saat semua murid mengenalkan diri satu per satu, aku mengenalkan diriku sebagai “Zahrah”. Setelah perkenalan berlangsung, beberapa orang menambahkanku sebagai teman di Friendster. Berkat Friendster, aku lebih dikenal dengan nama panggilan Zaren. Di kelas 7B, aku mulai beradaptasi dengan teman-teman di sekolah yang baru. Mengikuti kegiatan sekolah yang segudang mulai dari studi lapangan (AKTUAL ) di Pasir Mukti, bakti sosial Showing Sympathy for The Needy (SSN) di panti asuhan, membuat stand ACEX, dan kegiatan lainnya.
Kelompok tugas majalah Bhs Indonesia

Saat buka puasa bersama 7B (ki-ka: Dyah-Aku-Amita-Zhafira)

Pada semester 2, dilangsungkan kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS), yaitu kegiatan yang wajib diikuti bagi siswa-siswi yang ingin menjadi pengurus OSIS maupun MPK. Saat itu, aku berminat untuk menjadi pengurus MPK (Majelis Perwakilan Kelas). Aku lulus LDKS dan dapat melanjutkan ke tahap berikutnya, yaitu Orientasi. Orientasi berisi aneka macam tes, mulai dari tes agama, tes bakat, tes fisik, hingga tes presentasi. Alhamdulillah, aku lulus Orientasi dan berhasil menjadi CAPMPK (Calon Pengurus Majelis Perwakilan Kelas). Masuk ke tahap selanjutnya, yaitu Pra OL (Pra Orientasi Lanjutan) dan OL (Orientasi Lanjutan) yang bertujuan untuk lebih melatih CAPSIS dan CAPMPK agar mampu bekerjasama dalam suatu organisasi. Pada 17 Agustus 2009, aku melakukan LALINJU dari Gedung Menpora hingga Labschool Kebayoran. Aku dilantik sebagai Koordinator Kesenian MPK Hasthaprawira Satya Mahadhika, yang artinya Angkatan 8 yang jujur dan istimewa.
LALINJU 2009

Naik jabatan, Bung!
Naik ke kelas 8, aku ditempatkan di sebuah kelas yang mayoritas orang-orangnya menyukai K-Pop. Itulah 8A atau mys8Ace. Aku yang awalnya buta tentang K-Pop, sekarang jadi tahu sedikit banyak tentang Korea. Bersama 8A, aku melakukan salah satu program kerja OSIS Sie.Kesenian berjudul EKSASKY (Ekspresi Siswa Labsky), yaitu sebuah pertunjukkan drama yang dipentaskan per kelas. Di kelas 8 pula dilakukan kegiatan Bina Mental Siswa (BIMENSI) di SPN Lido. BIMENSI mengajarkanku untuk dapat sigap dalam berbagai kondisi dan disiplin dalam mengerjakan segala hal.

Bersama teman-teman 8A, setelah ujian praktik drama bhs Inggris
Tidak terasa sudah mulai memasuki tahun terakhir di SMP Labschool Kebayoran. Hastha juga harus mengakhiri masa jabatannya pada tanggal 9 Agustus 2010. Aku belajar banyak hal dari Hastha. Sedih rasanya, tetapi regenerasi tetap harus berjalan.

LALINJU 2010 (turun jabatan)
Buka bersama Hastha, udah jadi Mansis ;')

Saat aku kelas 9, angkatanku mempunyai nama angkatan. Dari beberapa nama yang menjadi nominasi, akhirnya terpilih nama Scavolendra Talvoreight, yang artinya eight is a typical entity which figure never ending story, jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia berarti angkatan delapan adalah kesatuan yang ceritanya tidak akan pernah berakhir. 
Scavolendra
Tahun ketiga di Labschool, mengantarkanku belajar di kelas 9D, Empire of Mon9Dolia. Aku dan 9D melalui suka dan duka Paket (pemantapan materi) dan Try Out untuk mempersiapkan diri menuju Ujian Nasional. Selain itu, kami juga melakukan sesi foto untuk buku kenangan kelas kami yang bertema oriental di Pelabuhan Sunda Kelapa.
Refleksi 9D di Anyer

Setelah mengalami jatuh bangun sekolah di SMP Labschool Kebayoran, akhirnya aku dapat lulus dengan nilai yang cukup baik. Meskipun berat rasanya meninggalkan teman-teman tercinta, aku memutuskan untuk meneruskan sekolah di SMA Labschool Kebayoran.
Farewell (ki-ka: Nana-Aku-Amita-Jako-Deina-Miranda-Karina)

LULUS!!!!!!!!!!!!!!!!
 

MASA REMADJA (MASA SEKOLAH MENENGAH ATAS)

Awal masuk SMA, rasanya seperti mengulang lagi kegiatan saat masuk SMP, namun di tempat yang berbeda. Mengulang semuanya dari 0 lagi. Aku masuk SMA Labschool Kebayoran sebagai angkatan ke 11 serta mengikuti masa orientasi pada 3 hari pertama sekolah. 

Kelas pertamaku di SMA adalah XA. Kelas yang penuh dengan lawakan tidak lucu di awal pertemuan serta berakhir dengan tidak mau berpisah. Aku menjalani hari-hari susahnya pelajaran SMA bersama XA.
Ultah Pak Yusuf wali kelas 'tercinta' (aku mengambil gambar)

alfa
Lari pagi terakhir (ki-ka: Astrid Levina-Teuku Fazhamy-Nabil Argya, aku paling depan)

Setelah MOS, kami mengikuti PILAR (Pesantren Islam Ramadhan). Masih ada kegiatan selanjutnya bernama Observasi (TO). Sebelum mengikuti TO, kami harus mengikuti Pra TO terlebih dahulu. Pra TO dilaksanakan di sekolah selama 3 hari, untuk mempersiapkan hal-hal yang diperlukan saat mengikuti TO, seperti pengecatan tongkat, pembuatan nametag, simulasi memasak, pentas seni, dll. Selain itu, saat Pra TO pula kami mempunyai nama angkatan serta ketua angkatan. Nama angkatan kami adalah Dasa Eka Cakra Bayangkara atau yang biasa dipanggil Dasecakra yang berarti Angkatan 11 yang menjaga keseimbangan roda kehidupan, dengan ketua angkatan Bayu, Maga, dan Abon. Setelah selesai melaksanakan Pra TO, barulah kami siap berangkat ke desa Parakan Ceuri, Purwakarta untuk melakukan TO. Selama 5 hari, kami hidup membaur dengan warga desa disana. Tak hanya sekedar tinggal di desa, kami juga diberikan tugas PDP, yaitu melakukan penelitian tentang kehidupan warga sekitar.

Istirahat penjelajahan saat TO (ada yang nongol di belakang)
Reuni TO (ki-ka: Aku-Irdita-Safira-Rama-Nday-Kannia)
 Di awal semester 2, kelasku kehilangan dua orang anggotanya, Alvin pindah ke SMAN 8 Jakarta dan Ujang pindah ke SMA Labschool Jakarta. Namun, XA juga kedatangan dua orang sahabat baru bernama Zhafran, murid pindahan dari SMAN 82 Jakarta dan Bella dari kelas akselerasi. Sampai pada akhir semester 2, formasi XA berjumlah 36 orang.
Trio Kece XA (ki-ka: Aku-Alfath-Hisyam)
Kegiatan selanjutnya adalah study tour ke Bandung. Aku mengunjungi PT. DI, Museum Geologi, dan Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura bersama teman-teman Dasecakra. Sepulang dari study tour, kami harus membuat laporan tertulis bersama kelompok kerja masing-masing. Study tour berakhir, Labschool masih punya kegiatan menantang lainnya, yaitu BINTAMA (Bina Mental Siswa). Sayang sekali aku tidak dapat mengikuti BINTAMA tahun ini. 1 hari sebelum BINTAMA, aku harus dirawat di RS Brawijaya karena terkena typhus, demam berdarah, dan hepatitis, dan ini merupakan kali pertama aku diopname di rumah sakit selama 6 hari.
Di PT. DI

Pembuatan MV LAMURU

Pada bulan Februari 2012, seorang temanku bernama Addo menawarkanku untuk bergabung di dalam bandnya sebagai vokalis bersama Eki, Rozan, Irsyad, dan Bagus. Aku bersedia menerima tawaran Addo, kemudian membentuk sebuah band bernama Madland Fourteen yang diambil dari alamat Labschool Kebayoran, Jl. K.H. AhMAD DahLAN No.14.

Ini bandku........eits salah, ini Nidji (minus RunD)

Ya, ini bandku. (ki-ka: Irsyad-Rozan-Aku-Eki-Bagus-Addo)
Sesudah kegiatan BINTAMA yang aku lewatkan, aku mengikuti LAPINSI (Latihan Kepemimpinan Siswa). LAPINSI wajib diikuti bagi mereka yang ingin menjadi pengurus OSIS dan MPK. Sebenarnya, aku masih berminat untuk menjadi pengurus OSIS, namun karena aku tidak mengikuti BINTAMA, aku mengubur dalam-dalam keinginanku dan membulatkan tekad untuk menjadi pengurus MPK.

Sekarang aku belajar di kelas XI IPA 1. Setelah melewati  diskusi panjang dengan kedua orangtua, akhirnya aku mengambil keputusan untuk memilih jurusan IPA. Sesuai dengan keinginanku, Alhamdulillah aku berhasil menjadi CAMPK atas dukungan dari teman-teman sekelasku.

Setelah menceritakan 16 tahun perjalanan hidupku, rasanya bersyukur sekali dapat terlahir ke bumi, mengukir banyak kenangan indah di dalamnya. Hidup itu kayak pelangi. Berwarna-warni dan jarang muncul di langit. Kalau dianalogikan ke dalam kehidupan, hidup itu penuh suka duka dan cuma satu kali. Aku berharap, semoga aku dapat menjadi manusia yang lebih baik serta mampu membahagiakan kedua orang tua dan keluarga. Satu impian terbesarku  yang ingin aku wujudkan suatu hari nanti, yaitu main bareng Nidji dalam satu panggung dan membuat project bersama mereka. Gimana bang Giring?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar