Kamis, 23 Agustus 2012

Tugas-1 Autobiografi Kamila Nanda Eriana

LIKA-LIKU 16 TAHUN, DAHULU DAN KINI

Hari itu, tepat tanggal 13 Februari 1996 lahirlah seorang bayi perempuan dengan berat 3,7 kg dan panjang 48 cm dari pasangan Nuryana Hidayat dan Erna Heryanti di Rumah Sakit Bersalin YPK, Menteng, Jakarta Pusat. “Dulu, Aki Dirman sama Nini Iin pengen punya cucu nama panggilannya Ami soalnya kayanya bagus gitu, terserah nama panjangnya apa pokoknya dipanggilnya Ami.” kata Mama. Ya, itulah saya, Kamila Nanda Eriana dan hingga saat ini saya akrab dipanggil Ami.
Usia 5 hari, ketika  baru pulang  dari rumah sakit
MASA BATITA

Ketika saya masih bayi, saya bersama kedua orangtua saya tinggal di rumah Mbah Hanafiah dan Mbah Siti di Jalan Salam IV no. 8, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. “Dulu waktu kamu masih bayi, mama, Mbah Siti, Tante Nurul, sama Om Ipung tiap pagi sibuk ngejemur kamu di lantai atas deket tempat ngejemur baju.” lanjut Mama.
Dijemur di bawah sinar matahari pagi
Usia 3 bulan
Bermain stroller
Menginjak usia 14 bulan, saya bersama kedua orangtua saya pindah ke rumah Aki Dirman dan Nini Iin di Jalan Panglima Polim V no. 29, Melawai, Jakarta Selatan. Waktu acara akikah kamu, kamu nangis pas dicukur Pak Wahab, ituloh tukang cukur langganan papa, gara-gara bunyi alat cukurnya kan berisik banget, terus Aki Dirman deh yang gendong kamu sampe berenti nangisnya, lucu deh.” lanjut Mama.
Usia 7 bulan, saat acara akikah
Setiap sore, Aki Dirman dan Tante Dian selalu mengajak saya bermain air di kolam yang berada di belakang rumah.  “Dulu kamu kalo lagi ada acara kumpul-kumpul dirumah Aki Dirman, atau lagi pergi ke Anyer, pokoknya ke tempat yang banyak orangnya gitu deh, pasti kamu sakit panas, bikin repot.” lanjut Mama.
Usia 14 bulan, saat terserang sakit panas
Aki Dirman adalah orang yang paling antuasias menanyakan setiap perkembangan saya kepada mama, bahkan ketika beliau sedang mengalami masa-masa kritis di rumah sakit. Sangat disayangkan, Aki Dirman mengembuskan napas terakhirnya pada tanggal 22 Desember 1997, tepat di hari ulang tahun sepupu saya, Raditya Pratamandika.
Bersama Aki Dirman
Belajar berjalan bersama mama
Ulang tahun ke 1 tahun
Ulang tahun ke 2 tahun, bersama Fauzan dan Faikar
Ulang tahun ke 3 tahun

MASA KELOMPOK BERMAIN

Menginjak usia 3 tahun, saya didaftarkan oleh mama saya di Kelompok Bermain Sanggar Bobo, Falatehan, Jakarta Selatan. Kelompok Bermain Sanggar Bobo setiap tahunnya selalu mengadakan operet saat pentas perpisahan. Masih teringat di benak saya, ketika itu saya terpilih untuk memerankan sekuntum bunga karena kelihaian saya menari saat tampil di Mall Citraland. Namun ketika latihan, saya selalu takut oleh musiknya yang begitu mencekam. Pada akhirnya saya selalu menangis dan tidak ada keinginan untuk melanjutkan latihan. Ketika itulah saya selalu merengek-rengek meminta dibelikan teh botol dan boneka Barbie yang dijual di meja administrasi. Mama hanya bisa menggelengkan kepalanya saat akhirnya saya memilih untuk memerankan seekor bebek  pada pentas perpisahan karena musiknya yang lebih ceria.
Hari pertama masuk KB
Tampil di Mall Citraland
Menjadi seekor bebek saat pentas perpisahan
Teringat pula, ketika saya takut dicium lumba-lumba saat karyawisata ke Gelanggang Samudera Ancol. Kelompok Bermain Sanggar Bobo menjadi tempat dimana saya mendapatkan teman-teman pertama saya yang akrab bermain dengan saya yaitu Nisa, Farhan, dan Adisti.
Takut dicium lumba-lumba saat karyawisata

MASA TAMAN KANAK-KANAK

Menginjak usia 4 tahun, saya didaftarkan oleh kedua orangtua saya di TK Aisyiyah Bustanul Athfal, Limau, Jakarta Selatan. Saat-saat TK inilah, Nini Iin adalah orang yang paling bersemangat mengantar saya ke sekolah dan menjemput saya dari sekolah. Beliau juga selalu mengajak saya menemaninya ke pengajian setiap Kamis dan Jumat di rumah eyang Soebono, mengajak saya menemaninya ke acara arisan, dan mengajak saya berbelanja di Hero Supermarket. Dan lagi-lagi di TK inilah, saya kembali bertemu dengan Nisa dan Farhan. Sangat disayangkan karena Adisti memilih untuk bersekolah di TK Dwi Matra.
Mesha dan Iken adalah teman yang akrab bermain dengan saya ketika di TK. Di tahun 2001, Mesha harus berpisah dengan kami berdua karena dia lulus TK lebih dahulu dari kami berdua. Ketika TK, saya mengikuti ekstrakurikuler marching band. Alhamdulillah saya mendapatkan posisi majorette bersama teman saya, Ghinaa yang merupakan posisi idaman setiap murid. Kami mengikuti lomba yang diadakan di Batalyon Kavaleri 9/Penyerbu, Tangerang. Alhamdulillah, kami meraih Juara Harapan II Kategori Display. Namun sangat disayangkan, ketika hari kelulusan TK tiba, Ghinaa harus pindah keluar kota bersama keluarganya.
Ulang Tahun ke 4 tahun
Usia 5 tahun

MASA SEKOLAH DASAR

Menginjak usia 6 tahun, saya didaftarkan oleh kedua orangtua saya di SD Muhammadiyah 5 yang letaknya bersebelahan dengan TK Aisyiyah Bustanul Athfal. Lagi dan lagi, saya bertemu dengan Nisa dan Farhan. 6 tahun kami sekelas. 6 tahun pula saya dan Nisa mengikuti ekstrakurikuler yang sama, yaitu Tari Tradisional. Alhamdulillah saya dapat menguasai tari Piring, tari Minang, dan tari Yapong yang diajarkan oleh pelatih tari saya, Bu Fitri.
Mama adalah sosok yang paling mendukung saya untuk mempelajari tari-tari tradisional karena dahulu beliau adalah penari dan selalu menjuarai Lomba Tari Sunda ketika remaja. Beliau yang paling semangat mempersiapkan segalanya ketika saya mengikuti lomba tari tradisional dan tak lupa selalu mengajari saya tari Topeng dan tari Jaipong di sela-sela kesibukannya mengurus rumah.
Lomba Tari Minang Kreasi, saya kedua dari kiri
Kelas 1, saya adalah pribadi yang selalu menangis setiap saat. Hal ini dikarenakan saya sulit beradaptasi dengan mendikte dan tugas-tugas sekolah yang ada karena saya terhitung murid yang ‘lelet’. Begitu pula teman-teman saya yang tak henti-hentinya selalu iseng kepada saya. Bu Esih adalah guru yang paling sabar dalam mengendalikan emosi saya ketika di kelas saat itu.
Hari pertama masuk SD kelas 1
Lagi-lagi saya selalu menangis karena tidak mampu menghafal perkalian yang pada akhirnya setiap pelajaran matematika saya harus berdiri di pojok kelas saat berada di kelas 2. Namun, di kelas 2 inilah saya dikaruniai adik pertama saya, Nadhifa Putri Eriana atau akrab disapa Dhifa pada tanggal 23 Februari 2003 di Rumah Sakit Bersalin Asih, Jakarta Selatan. Saya amat senang karena saya begitu mengidam-idamkan seorang adik perempuan sejak TK. Sangat disayangkan ketika bulan Februari 2004 tiba, saya bersama keluarga saya harus pindah rumah ke Jalan Cibulan VII no. 5 Petogogan, Jakarta Selatan yang sekarang pun masih saya tempati bersama keluarga saya.
Baru pulang dari sekolah, bersama mama dan Dhifa
Saya hampir sulit beradaptasi dengan selalu pulang pukul 15.00 setiap hari Senin dan Kamis karena adanya Diniyah (pelajaran tambahan Alquran wajib untuk murid kelas 3-5) saat berada di kelas 3. Namun saya dapat mengatasinya dan saya berhasil. Saat Diniyah, ketika teman-teman seumuran saya mulai memasuki kelas Alquran, saya dan salah satu teman saya, Nabilla memasuki kelas Tahfidz (kelas menghafal Alquran) yang seharusnya ditujukan untuk murid kelas 4. Dan di kelas 3 inilah, saya dikaruniai adik kedua saya, Vanita Rahma Eriana atau akrab disapa Vani pada tanggal 29 Agustus 2004 di rumah sakit yang sama dengan tempat Dhifa dilahirkan.
Liburan Semester Kelas 3, bersama Dhifa dan Vani
Tampil bersama kelas Tahfidz, saya kedua dari kiri di barisan kedua
Bermain bersama Vani
Kelas 4 merupakan masa-masa awal gemilang saya. Alhamdulillah saya mampu menghafal Juz 30. Untuk pertama kalinya saya meraih Juara II Cerdas Cermat LOKETA (Lomba Keterampilan Agama) Tingkat Kebayoran Baru. Itu semua berkat jasa Bu Murni, guru yang selalu memotivasi saya untuk selalu berprestasi.
Foto Keluarga, saat liburan kenaikan kelas
Di kelas 5 inilah, saya khatam Alquran. Untuk pertama kalinya saya berada di posisi 3 besar prestasi hasil belajar tertinggi. Untuk pertama kalinya pula, saya mengikuti Olimpiade Matematika Nalaria Realistik walaupun hanya sampai ke babak penyisihan.
Kelas 6 adalah saat-saat dimana saya harus bersaing dengan Nabilla yang selalu menjadi nomor 1. Saat-saat yang melelahkan ketika untuk pertama kalinya pemerintah mengadakan UASBN SD se-Indonesia, ketika harus belajar lebih keras dan belum mendapatkan bayangan bagaimana nantinya soal-soal yang akan diujikan. Bu Martina dan Pak Asep adalah guru yang paling banyak menyita waktunya demi melayani kami mempersiapkan semuanya untuk UASBN. Alhamdulillah saya lulus SD. Saya meraih Peringkat II Prestasi Nilai Tertinggi dan meraih NEM 26,40. Pada saat Wisuda Kelulusan SD, saya bersama teman saya, Boy berkesempatan untuk menyampaikan Pidato Kelulusan di hadapan Ketua Yayasan PCM Muhammadiyah Kebayoran Baru.
Acara Perpisahan Kelas 6
Saat Wisuda Kelulusan SD
Bersama teman-teman SD

MASA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA

Masa-masa SMP merupakan masa-masa paling indah. Alhamdulillah saya diterima di SMPN 19 Jakarta. Pertama kalinya mengalami MOS (Masa Orientasi Siswa), dimana saya dan teman-teman seangkatan saya diajarkan PBB dan Wawasan Wiyata Mandala oleh kakak-kakak OSIS, dimana saya dan teman-teman seangkatan berusaha memecahkan teka-teki makanan dan minuman yang diberikan oleh kakak-kakak OSIS, dan dimana saya dan teman-teman saya berusaha susah payah mendapatkan tanda tangan kakak-kakak OSIS. Alhamdulillah saat kelas 8 dan 9 saya ditempatkan di kelas Akademik (kelas yang ditujukan untuk murid berprestasi) karena hasil prestasi belajar saya yang cukup memuaskan ketika di kelas 7 dan 8.
Bersama teman-teman kelas 7H
Bersama kelas 8E Akademik
Bersama kelas 9H Akademik
Di SMP inilah, saya mengikuti ekstrakurikuler Paduan Suara, tempat saya belajar bagaimana teknik menyanyi yang baik dan benar. Alhamdulillah, tim Paduan Suara SMPN 19 Jakarta meraih Juara II pada Kompetisi Seni Pelajar Tingkat Kota Administrasi Jakarta Selatan.
Bersama Tim Paduan Suara SMPN 19 Jakarta
Bulan November 2009, di jemur di tengah teriknya matahari saat Seleksi Pengurus OSIS Periode 2009-2010 pada akhirnya menjadikan saya berada di posisi 5 besar. Sibuk berkampanye untuk menjadi seorang Ketua Umum OSIS tentunya sangat melelahkan. Saya pun harus bersaing dengan teman-teman dekat saya yaitu Fika, Dinda, dan Bella. Walaupun hasil perolehan suara membuat saya pada akhirnya menjadi Sekretaris Umum, namun saya tetap senang.
Bersama Pengurus OSIS SMPN 19 Jakarta Periode 2009-2010
Sibuk mempersiapkan program kerja terbesar Pengurus OSIS SMPN 19 Jakarta Periode 2009-2010 yaitu 19CUPIII Carousel! merupakan pengalaman yang tak terlupakan. Berkenalan dengan kakak-kakak EO (Event Organizer) yang akan membantu jalannya acara, jadwal rapat yang padat, lelahnya menyusun proposal, susahnya mendapatkan izin dari Kepala Sekolah, susahnya mencari tanggal yang sesuai karena hampir selalu bertabrakan dengan event-event besar yang diadakan SMP-SMP di sekitar Jakarta Selatan, serta susahnya mencari dana dan sponsor pada akhirnya membuahkan hasil yang manis. Acara pun berjalan lancar dan sukses.
Bersama Panitia 19CUPIII Carousel!
Closing Party 19CUPIII Carousel!
Kelas 9 merupakan saat-saat dimana saya kembali harus belajar lebih keras untuk mempersiapkan UN. Datang ke sekolah pukul 06.00 untuk mengikuti pendalaman materi dan pulang pukul 17.00 untuk mengikuti bimbingan belajar tambahan lagi di BTA 8 Mayestik tentunya sangat melelahkan. Setiap Try Out yang ada pun saya ikuti. Saya pun mengikuti Seleksi Penerimaan Siswa Baru di SMA Labschool Kebayoran dan SMAI Al-Azhar 1. Alhamdulillah semua usaha dan kerja keras saya membuahkan hasil. Saya lulus SMP dengan NEM 36,80 dan diterima di SMA Labschool Kebayoran.
Bersama teman-teman BTA 8 Mayestik, saya pertama dari kiri
Senang? Tentu. Semua sesuai dengan harapan saya. Sedih? Sangat. Saya harus berpisah dengan angkatan 22, dimana suka maupun duka selalu dilalui bersama.
Photo Session Acara Prom Night
Angkatan 22
Pengumuman Kelulusan, saya pertama dari kiri

MASA SEKOLAH MENENGAH ATAS

Disinilah, SMA Labschool Kebayoran, saya kembali bertemu dengan teman TK saya, Ghinaa. Sulitnya beradaptasi dengan lingkungan Labschool pada saat MOS dari mulai lari pagi hingga makan komando dan banyaknya kegiatan wajib yang harus diikuti siswa kelas 10 tidak membuat saya putus asa begitu saja. Terpilih menjadi MPK di kelas XB bersama Rayhan Bayu, menjadi Komisi Kesehatan dan Kemanusiaan, Lari Lintas Juang (Lalinju) dari Kalibata hingga Labschool Kebayoran, hingga MPK Aryasangga Bawalaksana dilantik merupakan suatu kebanggaan tersendiri.
Lalinju 2011
Bersama kelas XB
Bersama MPK Aryasangga Bawalaksana
Pra Trip Observasi (Pra TO) dan Trip Observasi (TO) di bulan Oktober 2011 merupakan kegiatan yang tak terlupakan. Disinilah Dasa Eka Cakra Bayangkara (Dasecakra) lahir. 5 hari bersuka cita di Purwakarta, sulitnya membuat nametag, lelahnya mengecat tongkat, lelahnya membuat makalah dan display penelitian, jaga vendel setiap malam, berburu pita hijau, menulis surat cinta untuk kakak-kakak OSIS, memasak, menyapu, tidak ada handphone, melewati berbagai rintangan saat penjelajahan, kebersamaan saat api anggun, hingga serunya siaga tongkat, barikade, dan lintas budaya sungguh menyenangkan. Tour Bandung Dasecakra pun menjadi salah satu media untuk lebih menyatukan Dasecakra. Pengalaman saya pun bertambah ketika saya menjadi salah satu panitia Sky Battle 2012 yang merupakan kompetisi olahraga dan seni terbesar SMA Labschool Kebayoran. Berkorban untuk pulang lebih lama dari biasanya karena jadwal shift yang padat pada akhirnya membawa acara ini sukses pada tahun ini.

Lintas Budaya, saya yang memegang papan defile
Penjelahan, saya ketiga dari kiri
Hari terakhir Trip Observasi 2011, saya ketiga dari kiri
Tour Bandung Dasecakra
Closing Sky Battle 2012, saya kedua dari kanan
Bintama (Bina Mental Kepemimpinan Siswa) di Grup 1 Kopassus juga salah satu kegiatan yang saya ikuti. Pada awalnya selalu membuat hati dongkol, namun pada akhirnya mengesankan hati. Disini, saya belajar tentang bagaimana sulitnya menjalani kerasnya hidup dari latihan-latihan dan materi-materi yang diberikan oleh pelatih-pelatih dari Kopassus. Setiap hari bertatapan dengan teriknya matahari, makan komando dengan porsi yang menggunung, bangun lebih pagi, hingga caraka malam menjadikan Dasecakra pribadi-pribadi yang kuat dan tangguh.
Selanjutnya, Lapinsi (Latihan Kepemimpinan Siswa) dan TPO (Tes Potensi Organisasi) pun saya ikuti. Kegiatan ini diperuntukkan untuk siswa yang ingin menjadi pengurus OSIS. Mulai dari kelompok-kelompok Lapinsi yang selalu diuji kekompakannya, membuat makalah TPO yang hampir menyita waktu belajar saya, mengikuti Tes Kesegaran Jasmani dan Rohani yang sungguh menguras tenaga, hingga presentasi makalah TPO akhirnya membuahkan hasil. Saya menjadi salah satu diantara 60 siswa yang terpilih menjadi Calon Pengurus OSIS.
Di SMA ini, saya kembali lagi mengikuti ekstrakurikuler Tari Tradisional seperti di SD dulu. Alhamdulillah Tim Saman Dasecakra sudah pernah tampil di acara SMESCO UKM, lalu mengikuti perlombaan Tari Saman pada Saman Skyfest dan Swable Cup. Walaupun belum meraih juara, namun merupakan pelajaran yang berarti bagi saya tentang kekompakan dalam menari.
Bersama Tim Saman Dasecakra
Saman Skyfest, saya kedua dari kanan
Saat ini, saya masuk program IPA dan berada di kelas XI IPA 2 dengan wali kelas Bu Indriati Wulandari. Semoga untuk seterusnya saya dapat sukses dunia dan akhirat, tentunya pula selalu menjadi kebanggaan kedua orangtua saya. Amin.

1 komentar:

  1. Subhanallaah... pada sejumlah autobiografi yang saya baca, jarang saya temukan seorang hafidzah. Kali ini saya menjumpainya.

    Allaah memang menanamkam hafalan al-Quran pada orang-orang tertentu, dengan jumlah yang tertentu juga. Artinya, Kamilah termasuk orang tertentu yang terpilih. Seberapapun jumlah hafalan yang sanggup dipertahankan, itulah keutamaan yang didapatkan sebagai seorang hamba Tuhan.

    BalasHapus