Sabtu, 18 Agustus 2012

Tugas-1 Autobiografi Irsyad Rafianda

16 Tahun:Jalan Panjang Menuju Kesuksesan

Di hari itu, Jum’at tengah malam menjelang Sabtu jam 02.00 tanggal 25 Mei 1996 telah lahir seorang anak laki-laki di Rumah Sakit Harapan Ibu, Medan.  Ibu dari sang anak bernama Ade Octavianita dan ayah sang anak bernama Arinda Suwardi.  Ayah dan ibu anak tersebut bertemu pertama kali ketika kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB) dan mereka saling mengenal dan akhirnya menikah pada 18 November  tahun 1993.  Setelah menikah pasangan tersebut pindah ke Medan akibat pekerjaan sang ayah dan dua anaknya pun lahir di sana. Anak pertama diberi nama Deninda Fairuzahra yang lahir pada tanggal 2 September 1994 dan anak kedua diberi nama Irsyad Rafianda yaitu saya yang  tulisannya sedang dibaca oleh anda.
Masa Dilahirkan
Ibu mulai mengandung saya saat kakak saya baru berumur 11 bulan, sehingga beda umur antara saya dan kaka saya tidak jauh hanya terpaut 20 bulan.  Orangtuaku sangat bahagia ketika aku lahir.  Karena lengkaplah sudah mendapatkan seorang anak perempuan dan laki-laki yang sehat.
Menurut cerita ibu saya, waktu saya dilahirkan dengan penuh perjuangan, sampai pada saatnya yaitu 9 bulan 10 hari ibu saya tidak mengalami kontraksi.  Kontraksi itu merupakan tanda-tanda akan melahirkan.  Untuk menghindari terlalu lamanya saya dalam kandungan akhirnya ibuku di “induksi”, yaitu diberi cairan untuk memaksa terjadinya kontraksi.  Induksi dilakukan pada jam 15.00 siang dan ibuku sudah mulai kontraksi dan kesakitan pada pukul 18.00.  Setelah berjuang lama sekali menahan sakit akhirnya lahirlah saya dengan selamat, sehat dan lengkap tengah malam 02.00 tanggal 25 Mei tahun 1996.  Ternyata menurut dokter kandungan yang menangani, posisi saya tidak pada jalan lahir jadi susah untuk keluar.  Berkat bantuan dokter itu dan atas rahmat Allah SWT saya berhasil dilahirkan dengan selamat.
Masa Balita
Masa balita saya dihabiskan di Medan karena pekerjaan ayah saya sebagai pegawai bank yang mengharuskan ayah saya tinggal di Medan. Ibu saya pernah cerita, ketika saya lahir, tubuh saya sangat putih sehingga jika dipegang atau dicubit pipinya kulit saya langsung berbekas merah.  Dan saya juga dulu merupakan anak yang pendiam. Berbeda dengan postur saya ketika tulisan ini ditulis, postur saya dulu sangatlah kurus karena makannya sedikit.  Ibu saya berkata, saya dulu kurus selain karena makannya sedikit, makanan yang saya makan saya simpan dalam mulut dalam waktu lama atau yang orang bilang “diemut”.  Karena kesal, ibu saya memberikan saya makanan pedas yaitu teri balado.  Saya makan dan makanan itu diemut seperti biasa, tetapi karena saya dulu tidak tahan pedas jadinya teri itu langsung saya telan.  Sejak saat itu saya kalau makan tidak diemut lama lagi. 
Ketika usia saya 3 tahun, saya pindah ke Jakarta.  Karena pada saat itu rumah dinas keluarga kami belum jadi, kami akhirnya tinggal selama 1 bulan di Hotel Indonesia.  Ayah saya pernah bilang, saya ini orangnya sangat suka merangkak ke mana-mana.  Sehingga pernah orang tua saya berusaha mencari saya yang waktu itu tiba-tiba menghilang dan ketika dicari-cari saya ternyata sudah berada di kamar mandi.
Setelah 1 bulan saya tinggal di Hotel Indonesia, saya akhirnya pindah ke rumah dinas ayah saya yang terletak di Rempoa, Ciputat, Banten. Saat itu saya tinggal di rumah bernomor H/9. 
MASA PLAYGROUP DAN TK
Masa playgroup saya dimulai ketika umur saya 3 tahun 3 bulan karena orangtua saya memasukkan saya ke Playgroup Mutiara Indonesia, sekolah yang dimiliki oleh Kak Seto yang kebetulan tidak terlalu jauh dari rumah.  Saya waktu itu tidak melalui playgroup kecil, tetapi langung masuk Playgroup besar. Karena menurut orang tua saya umur 2 tahun masih terlalu kecil untuk sekolah.  Saya masuk Playgroup ini selama 1 tahun.  Saya bersekolah di playgroup ini 3 kali seminggu.  Yaitu Senin, Rabu , dan Sabtu.  Ibu saya selalu menjemput dan mengantar saya.  Pada saat masuk playgroup besar saya sudah mengenal huruf dan angka dan bisa membaca meskipun belum terlalu lancar.  Saya dapat lancar membaca ketika berumur 3,5 tahun.  Kata ibu saya, saya ketika playgroup sudah bisa membaca koran.  Guru-guru di TK saya heran dengan kemampuan saya ini.  Hal ini bisa terjadi karena kata ibu saya metode pengajaran membaca dengan bentuk mengeja dapat membuat anak lama dapat bisa membaca.  Jadi ibu saya mengajar saya dengan cara mengenalkan huruf-huruf dan langsung membaca.  Ibu saya juga berkata bahwa saya senang sekali belajar membaca karena ibuku mengajari saya sambil bermain dengan alat bantu potongan bermacam-macam suku kata.  Lama-lama saya hafal, terbiasa, dan akhirnya bisa membaca.
Di masa ini juga saya pindah rumah dari H/9 ke rumah bernomor D/3.  Rumah ini saya tempati hingga saya lulus SD.
Setelah masuk playgroup, saya mulai memasuki TK Mutiara Indonesia yang kebetulan pindah dari tempatnya yang lama yaitu tempat playgroup saya.  Saya masuk TK A pada tahun 2000.  Di sana saya diajarkan.  Saya juga merayakan ulang tahun saya yang ke empat di TK itu. Saya juga masih ingat ketika menjelang hari kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus, saya dipilih oleh guru saya sebagai pembaca teks proklamasi ketika upacara bendera yang dilaksanakan tanggal tersebut.  Saya dipilih oleh guru saya karena kemampuan saya yang telah disebutkan tadi yaitu dapat membaca dengan lancar.  Ibu saya lalu menunjukkan saya teks proklamasi tersebut dan saya bisa membacanya dengan baik.  Dan Alhamdulillah upacara bendera tersebut berjalan lancar dan saya dapat membaca teks tersebut dengan baik. 
 Foto ketika saya membaca teks proklamasi

                                                               
Di masa TK ini saya sering mengikuti lomba busana, mulai dari busana muslim hingga busana daerah.  Tingkatan lomba ini bermacam-macam. Dari tingkat TK saya sampai seluruh cabang Mutiara Indonesia.  Ibu saya selalu berusaha untuk saya dengan memilihkan baju yang tepat untuk saya dan melatih saya berjalan di panggung perlombaan.  Dan prestasi tertinggi yang saya pernah dapatkan dari lomba semacam ini adalah juara 1 Lomba Baju Daerah Kartono Cilik Antar Seluruh Cabang Mutiara Indonesia yang diadakan di Sentul.  Bisa dibilang tidak percuma ibu saya melatih saya dan memilihkan baju yang tepat.
Foto ketika saya ikut Lomba Busana Daerah

                                                                      
Selain mengikuti lomba busana, saya pernah mengikuti lomba-lomba yang jenisnya lain.  Seperti lomba yang disingkat dengan LOKETA(Lomba Keterampilan Agama).  Di lomba ini saya mengikuti kategori Tilawatil Qur’an dan Busana Muslim.  Pada lomba Busana Muslim saya dapat juara 3 dan di lomba Tilawatil Qur’an saya mendapatkan juara Harapan 1.  Saya juga pernah ikut lomba foto yang diadakan oleh majalah Junior.  Foto yang ibu saya kirimkan adalah foto saya yang sedang memukul drum kecil dan kakak saya yang memainkan semacam keyboard mainan.  Foto itu akhirnya bisa menembus babak final meskipun tidak juara.  Mungkin foto itu juga bisa menjadi preview minat saya saat ini.  Saya juga sering mendengarkan music dari Bee Gees,Queen, dan The Beatles. Hal ini berlanjut hingga awal SD.
Foto ketika saya berada di tempat LOKETA. Saya laki-laki sendiri di foto ini. 

                                                 
Foto yang berhasil masuk babak final Junior. Saya berada di drum 
Masa TK saya berakhir pada tahun 2002.  Ketika itu perpisahannya di Taman Mini Indonesia Indah.  Di perpisahan itu saya membaca puisi yang berjudul “Terima Kasih Guruku” untuk Dirgahayu Mutiara Indonesia pada saat itu bersama 2 orang anak dan memberikan karangan bunga.  Karangan bunga tersebut saya berikan ke Kak Seto.  Di acara itu kebetulan ada Pak Raden namun dulu saya tidak berani melihat mukanya karena kumis lebarnya dulu membuat saya takut.
MASA SD

Masa SD saya dimulai tahun 2002, dimana saya masuk ke SD Islam Harapan Ibu yang terletak di Pondok Pinang.  Alasan masuk ke sekolah itu adalah karena sekolah saya waktu itu dan kaka saya sama jadi jemputnya bisa bersamaan dan kuatnya pendidikan agama di sekolah itu.  Ibu saya berkata ketika tes masuk SD itu, saya keluar paling pertama.  Saking tidak percayanya, ibu saya bertanya ke pengujinya “Maaf, apakah kertas anak saya sudah diisi semua?” Akhirnya aku diterima oleh SD tersebut.   
Saya masuk pada saat itu di kelas 1 F, kelas yang tidak ada tahun sebelumnya.  Di kelas ini saya berkenalan dengan Cyril, teman saya yang saat itu satu kompleks rumah dengan saya.  Dia teman yang baik menurut saya.  Di kelas 1 ini juga saya diikutkan les piano clavinova oleh ayah ibu saya karena les piano dapat dipercaya untuk menambah kecerdasan.  Semester pertama saya mendapatkan rangking satu di kelas saya.  Ketika semester 2, saya turun ke rangking 2 karena diopname dalam waktu yang lama.  Sakit yang kualami itu adalah tiba-tiba kaki saya terasa lemas dan saya pada saat itu tidak bisa jalan sama sekali.  Dokter yang merawatku berkata pada ibu saya bahwa yang menyebabkan kaki saya seperti itu adalah osmositis, dimana otot kaki saya selalu mengalami kontraksi.  Saya dirawat di Rumah Sakit Puri Cinere selama 1 bulan dan harus diterapi agar saya bisa berjalan seperti semula.
Saya kemudian naik ke kelas 2.  Saya masuk ke kelas 2A yang terletak di lantai bawah sementara ada kelas yang lain terletak di lantai atas. Di semester ini saya mendapatkan rangking.   Di antara libur kelas 2 dan 3, Cyril pindah ke Bandung mengikuti ayahnya yang pindah kerja.

Foto saya ketika berlibur dengan keluarga saya di Malaysia ketika kelas 4 SD
Masa SD saya berakhir pada tahun 2008 di kelas 6C.  Kelulusan tahun saya unik karena baru pertama kalinya diadakan UASBN yaitu Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional.  Pada saat kelas 6 semester dua, aku ikut kursus drum di Nuansa Musik seberang sekolah karena aku memang menyukai instrumen ini dan berminat untuk mempelajarinya lebih lanjut.
Saya mendaftar ke 2 SMP, yaitu SMP Al Ikhlas Cipete dan SMP Labschool Kebayoran.  Ada sedikit cerita unik saat saya mendaftar sekolah.  Saya mendaftar di Al Ikhlas ketika golongan ke dua karena sebelumnya saya mengikuti tes masuk SMP Labschool Kebayoran.  Setelah tes dan wawancara, ada satu tes yang belum dilaksanakan, yaitu tes psikologi atau psikotes.  Tapi ada kesalahan oleh pihak resepsionisnya dimana mereka menulis tanggal psikotes di jadwal saya sehari setelah psikotes yang asli dilaksanakan.  Misalnya yang harusnya dilakukan tanggal 28 ditulisnya tanggal 29.  Ketika saya datang pada hari yang ditulis di jadwalku, sekolah tersebut dalam keadaan sepi.  Ketika aku bertemu seseorang yang ternyata guru dari SMP tersebut, dia mengatakan bahwa untuk saya akan dibuat jadwal baru karena kesalahan penulisan tanggal.  Beberapa hari kemudian ketika pengumuman masuk Labschool sudah ada, saya mengecek nomor saya dan Alhamdulillah nomor tersebut ada.  Jadi saya tidak perlu lagi ikut psikotes SMP Al Ikhlas.
Foto saya dengan teman-teman kelas 6 saya. Saya berada di barisan laki-laki keenam dari kanan.
MASA SMP

Masa SMP saya dimulai pada tahun 2008 dan dihabiskan di SMP Labschool Kebayoran.  Pada saat pertama kali masuk, saya merasa bingung dengan Labschool.  Dari mulai tidak banyak yang saya kenal dan budaya-budaya Labschool.  Nametag MOS saya masih ingat betapa susah membuatnya, karena bentuknya yang aneh dan banyak pernak-perniknya.  Ditambah lagi dengan OSIS yang siap membentak atau menegur kami ketika ada kesalahan yang kami perbuat.  Alhamdulillah MOS berjalan dengan lancar.  Di masa SMP ini saya pindah rumah dari Ciputat ke Cibubur karena ayah saya menginginkan tanah yang lebih besar sehingga bisa dibuat studio musik rumahan dan memang orangtua saya menginginkan rumah sendiri karena rumah yang di Ciputat itu rumah dinas.  Meskipun jaraknya jauh, tapi hal itu membuat keluarga kami lebih tepat waktu karena dari Cibubur ke misalkan daerah Pondok Indah bisa makan waktu 30 menit-1jam.  Di masa ini saya les drum di dua tempat yaitu di Yamaha dan Jakarta Drum School namun saya memilih Jakarta Drum School karena ilmu yang diajarkan lebih banyak.
Foto ketika sedang bermain drum
Kelas pertama saya di SMP ini adalah kelas 7A dengan wali kelas Pak Tri Asmoro Pamuji, guru olahraga.  Kelas ini lumayan menyenangkan bagi saya.  Di sekolah ini juga saya mengikuti ekstrakurikuler baseball.  Sangat aneh bagi saya yang jarang melakukan aktivitas fisik mengikuti
ekskul ini.  Tapi toh saya tetap menjalaninya sampai saya lulus. 
Foto dengan Tim Baseball (saya kelima dari kanan) ketika mengikuti Indonesian Little League 
Banyak kegiatan yang kami jalani saat kelas 7, mulai dari KALAM(Kajian Islam) yang dilaksanakan di semester 1 dan LDKS(Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa) yang dilaksanakan pada semester 2.  Sesuai dengan kebiasaan Labschool, kegiatan-kegiatan tersebut dibutuhkan nametag dengan bentuk yang disesuaikan dengan kelompok masing-masing.  Di LDKS ini yang merupakan seleksi untuk menjadi OSIS saya tidak lulus.

Foto ketika Refleksi kelas 7
Kelas kedua saya di SMP ini adalah kelas 8D dengan wali kelas Bu Sari Rahmah, guru sejarah yang baik tapi kalau marah bisa menakutkan.  Kelas ini bisa dibilang kelas yang paling menyenangkan yang pernah saya alami.  Teman-temannya kompak dan baik.  Saya juga punya banyak teman disini.  Di semester 2 saya bertemu dengan kegiatan Labschool yang lain yaitu Bimensi atau Bina Mental Siswa.  Bimensi angkatan saya ini unik karena baru pertama kali diadakan di instansi kepolisian karena biasanya Bimensi diadakan di instansi kemiliteran.  Di Bimensi ini saya diajarkan agar lebih disiplin, berani, dan tanggung jawab.  Selain anak Labschool Kebayoran, ada juga anak dari Babusalam Riau yang ikut kegiatan ini.  Kebetulan salah satunya menginap di rumah saya. Dia bernama Rio.  Dia merupakan orang yang baik dan sopan menurut saya.
Foto nametag-nametag saya selama SMP(tanpa MOS) dari ki-ka:Bimensi(Rio),Bimensi(Saya),KALAM,LDKS 

Kelas 9 saya dimasukkan ke 9C.  Disini saya sudah mulai serius untuk mempersiapkan diri untuk Ujian Nasional.  Bermacam-macam les saya ikuti agar saya bisa mendapatkan NEM bagus.  Dan hasil yang saya dapat tidak buruk-buruk amat.  Saya hanya mendaftar 1 SMA, yaitu SMA Labschool Kebayoran dengan Jalur Khusus. Jalur Khusus ini ditujukan kepada siswa-siswi yang rata-rata nilainya di atas 80 dari semester 1 kelas 7.  Dan Alhamdulillah saya diterima dan tidak usah cari SMA lagi.  Lagipula saya sudah akrab dengan lingkungan Labschool Kebayoran.
Foto dengan teman saya Ilman ketika lari pagi terakhir 
MASA SMA

Ketika SMA, saya masuk SMA Labschool Kebayoran.  Saya menyukai budaya-budaya yang ada di Labsky dan saya sudah akrab dengan lingkungannya adalah hal yang memperkuat keinginan saya untuk melanjutkan pendidikan di SMA ini.  MOS juga harus membuat name tag dan saya sudah mulai terbiasa dengan hal itu. 
Pada saat kelas 10, saya masuk ke kelas 10 D. Kelas saya ini terkenal oleh guru-gurunya sebagai kelas yang berisik.  Tetapi kelas ini juga dikenal sebagai kelas yang kompak.  Ketika awal masuk kelas yang lain masih malu-malu berkenalan, kelas kami sudah sering mengobrol dan kumpul satu sama lain.  Kelas 10 menurut saya kelas yang cukup berat di Labsky karena banyaknya kegiatan dan adanya penjurusan yang membuat siswa kelas 10 harus serius mempersiapkannya.  Ketika Bulan Ramadhan tiba, ada kegiatan yang bernama PILAR.  Di kegiatan ini kami dipandu oleh kakak-kakak dari Daarut Tauhid.  Di kegiatan ini kami diajarkan tentang kerohanian Agama Islam.  Setelah PILAR, ada kegiatan yang bernama Trip Observasi atau yang biasa disingkat TO.  TO ini merupakan kegiatan di mana siswa siswi SMA Labschool Kebayoran menginap di sebuah desa selama 5 hari dan meneliti kehidupan di sana.  Seperti biasa, di kegiatan ini kita membuat nametag dan tongkat, rambut saya juga dicukur dengan ukuran sepatu 0.  Kegiatan ini sangat menyenangkan menurut saya karena kita bisa tahu kehidupan selain kehidupan kita.

Foto bersama kelompok TO saya(saya baris paling bawah, kedua dari kiri) 

 Di semester 2, ada juga kegiatan yang bernama Bintama. Kegiatan ini mengharuskan kita pergi ke Grup 1 Kopassus selama 5 hari dan disana kita dilatih mental dan fisik.  Awalnya seperti tidak tahan tapi ketika mau pulang rasanya jadi ingat masa-masa Bintama.
Nametag-nametag saya selama SMA. Dari ki-ka:TO,MOS,Pilar
Di sekolah ini saya mengikuti ekskul Jurnalistik dan saya dulu ikut Komunitas Lamuru namun saya keluar di tengah jalan karena susah membagi waktunya dan ingin fokus ke minat drum saya.  

Ketika mulai pergantian kelas 11, saya masuk ke kelas 11 IPS 3 karena saya ingin sekali jadi pengusaha dan saya suka sekali dengan masalah-masalah yang berhubungan dengan sosial.  Saya ingin melanjutkan kuliah saya di Sekolah Bisnis Manajemen ITB atau ke luar negeri misalnya Singapura sekalian juga kursus musik agar menambah pengetahuan drum saya.  Semoga impian saya ini bisa tercapai.  Amin.
Foto setelah tampil bersama Ganen
Foto dengan teman sekelas 10. Saya berada di barisan kedua ketiga dari kiri 

Foto Sebelum Tampil


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar