Sabtu, 25 Agustus 2012

Tugas 1-Autobiografi Fauzan Kurniawan


16 Tahun yang Penuh Arti 


            Tanggal 1 Juni merupakan hari yang sejarah bagi bangsa Indonesia, karena pada hari itu lahirlah ideologi bangsa ini. Ideologi yang berbeda pada zaman itu. Pancasila, nama itu berartikan 5 asas/prinsip sebagai penuntun arah bangsa ini. Pada tanggalan jawa, hari itu adalah hari sabtu suro dimana pada perhitungannya hari itu memiliki hitungan paling tinggi, dan pada pada hari itu juga lahirlah Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Bagi kedua orang tua saya, hari itu merupakan hari bersejarah yang memiliki arti melebihi kedua sejarah diatas karena pada hari itu saya, Fauzan Kurniawan lahir didunia ini setelah 11 bulan lamanya berada di kandungan. Saya terlahir dengan berat 3,43 Kg dan panjang 50 cm. Sejak saat itulah saya memulai perjalanan hidup saya.
Masa Balita
Pada masa kecil, saya sangatlah aktif bergerak dan ingin mengetahui segala hal. Sampai-sampai pada suatu hari saya bermain sepeda di halaman rumah. Dikarenakan kecepatan sepeda yang begitu tinggi mengakibatkan saya terpental ke taman. Hal itu mengakibatkan luka memar di jidat saya yang membekas hingga saat ini.
Pada tahun 1999 bapak saya ditugaskan di Kalimantan Selatan tepatnya di daerah Barabai. Mungkin banyak dari pembaca yang belom mengetauhi tempat ini. Menyadari akan pentingnya kasih saying pada anak-anaknya orang tua saya akhirnya memutuskan untuk pindah ke Barabai. Dahulu tempat ini sebagian besar masih berupa hutan, fasilitasnya sangat minim dan masih banyak satwa liar berkeliaran, seperti ular. Daerah itupun sangat sering terendam banjir jika musim hujan tiba. Tak tanggung-tanggung banjirnya hingga seperut orang dewasa. Walaupun masih banyak pepohonan disana-sini, tanah di daerarh tersebut tidaklah cukup bagus untuk bercocok tanam. Maka dari itu jangan kaget apabila harga sayuran dan buah-buahan disana cukup mahal. Kemudian untuk mendapati kebutuhan pokok seperti gas,beras, dan sebagainya kami harus berkendara hingga ke kota. Barulah disana kami mendapatkan barang-barang tersebut. Jika anda mencari KFC maka anda harus siap menempuh jarak yang kira-kira sama dengan jarak Jakarta-bandung dari tempat tinggal saya. Kemudian hal yang paling saya jumpai adalah truk besar terkadang truk gandeng yang melewati depan komplek perumahan saya.
Pendidikan saya selama di Barabai dimulai ketika saya masuk taman kanak-kanak atau yang lebih sering disebut playgroup ketika umur 3 tahun. Letaknya tak begitu jauh dengan tempat tinggal saya dan dapat ditempuh dengan sepeda dalam waktu 5 menit. Kemudian setelah saya berumur 4 setengah tahun saya dipindahkan ke taman kanak yang lebih bagus. Namun letaknya agak jauh. Terkadang saya berangkat diantarkan bapak saya namun terkadang saya juga berangkat dengan menggunakan becak langganan saya.
Setelah 3 tahun berada di Kalimantan saya kembali ke Jakarta. Karena terbiasa dengan bahasa Kalimanatan saya sedikit canggung ketika harus beradaptasi disini. Namun seiring waktu berjalan semua itu tidak menjadi masalah. Di Jakarta saya kembali menempati rumah saya yang dulu yaitu di Pondok Safari Indah. Tak begitu besar dan tidak begitu mewah tetapi sangat nyaman tinggal didalamnya. Orang tua saya memutuskan untuk memasukan saya di Taman kanak-kanak Kartika x10 dikarenakan pada saat itu sudah bulan Januari dan di bulan Juninya saya harus masuk sekolah dasar. Di sana kepercayaan diri sangatlah tinggi. Setiap ditanya siapakah yang maju untuk bernyanyi saya selalu menagcungkan tangan walaupun sebenarnya saya tidak mengetauhi lagu tersebut.
Masa SD
Ketika bulan Juni tiba, saya mengikuti tes di sekolah dasar pesanggrahan 10 pagi. Ketika ditanya, saya hanya menjawab semua itu dengan percaya diri tanpa mengetauhi kebenaran jawaban saya itu. Dan benar ketika pengumuman pun saya mendapat peringkat 36 dari 40 orang yang diterima. Selama kelas 1 saya dikenal sebagai murid yang paling suka mengobrol dengan teman satu meja. Terkadang guru yang sedang mengajar sering saya buat kesal dengan ulah saya ini. Prestasi yang saya dapatkan pun tidak cukup membanggakan. Malah suatu ketika saya ingat ketika ada tugas matematika mengerjakan perkalian yang di dalam kotak-kotak saya mendapatkan nilai 0. Dirumah waktu kebanyakan saya habiskan dengan bermain playstation atau menonton televisi. Acara kesukaan saya dahulu  adalah kartun kapten Tsubasa. Hampir setiap sore saya tidak pernah terlewat satu episode pun. Nahh sejak saat itulah saya mulai mengerti mengenai sepak bola. Dan sejak saat itulah pula saya mulai menghafal nama-nama pemain bola mancanegara. Saya mulai membeli beberapa jersey bola. Jersey klub yang pertama saya miliki adalah milik FC Parma. Salah satu tim di Liga Italia. Kemudian saya mempunyai baju Lazio bernomor punggung 9 milik Marcelo Salas. Namun klub kesukaan saya dari waktu itu hingga sekarang tetap Manchester United. Dahulu ketika Liga Inggris masih disiarkan tv lokal, saya selalu menghabiskan malam dengan menonton pertandingan tersebut. Kesukaan saya pada waktu itu adalah bermain catur. Walaupun tidak terlalu jago, saya sangat senang bermain ataupun sekedar melihat permainan catur. Permainan ini memerlukan pemikiran yang matang sebelum bergerak. Kita juga tidak boleh tergesa-gesa dalam permainan ini. Dan sebelum menggerakan bidak catur kita harus berfikir sebab dan akibat dari gerakan itu. Sungguh permainan sangat sarat makna. Jika pemimpin negara kita dibaratkan sedang bermain catur dengan baik dan benar, maka saya jamin tidak ada lagi demo disana-sini.
Di masa-masa sd ini saya mulai mengenal gitar. Awalnya saya hanya melihat gitar yang sudah tak digunakan lagi di kamar kakak saya. Waktu itu saya tak pernah berfikir akan mempelajari alat musik ini. Namun saya menemukan keasyikan sendiri ketika memegang gitar. Saya memutuskan untuk mengikuti les gitar klasik di sekolah musik Farabi Bintaro. Pada beberapa pertemuan awal saya sempat merasa jenuh dengan apa yang diajarkan disana. Seiring waktu berjalan lama-kelamaan saya mulai jatuh cinta dengan alat musik ini. Yamaha C-40 menjadi instrumen pertama saya. Tetapi permasalahan berikutnya muncul. Saya tidak dapat bermain seperti orang pada umumnya. Saya hanya dapat bermain dengan not balok. Bahkan untuk bermain kunci-kunci mudah seperti  C mayor saya tidak melakukannya. Oleh karena itu, teman saya mulai mengajari saya mengenai gitar kontemporer.
 Masa SMP
Singkat cerita saya sudah kelas 6 dan lulus dari SDN Pesanggrahan 10 Pagi. Dan saya melanjutkan pendidikan ke SMP Labschool Kebayoran. Saya merupakan satu-satunya siswa dari sd saya yang diterima di sekolah ini. Dapat anda bayangkan masuk sekolah dengan suasana yang sangat berbeda dan tanpa satu orang pun yang anda kenali. Itu merupakan hal yang sulit sekali untuk saya. Terlebih teman-teman saya di sekolah ini banyak yang berasal dari sd yang sama. Perlahan tapi pasti saya mencoba beradaptasi dengan kehidupan di Labchool. Perjuangan saya dimulai ketika pra mos. Disana saya harus membuat nametag yang sangat ribet. Kemudian ketentuan rambut yang sedikit membuat saya berguman, dan daftar makanan yang harus dibawa setiap harinya. Dan yang paling mengejutkan bagi saya adalah jadwal untuk hari jumat. Kami diharuskan tiba disekolah pukul 5.45 untuk mengikuti  lari pagi. Itu merupakan rekor jam masuk sekolah terpagi yang pernah saya alami sebulumnya. Hari perrtama mos pun tiba. Murid-murid baru tersebut dibagi kedalam 12 kelompok. Kami harus berbaris untuk mengikuti apel pagi. Kemudian mendengarkan materi-materi yang sedikit membosankan. Mos tanpa kakak Osis yang marah bagaikan sayur tanpa garam. Hampir setiap hari kami selalu mendengarkan marahan dari kakak Osis. Tetapi berkat itulah angkatan kami dapat tumbuh dan berkembang menjadi satu padu. Seminggu berlalu dengan sangat lambat. Saya ditempatkan di kelas xc dengan wali kelas ibu Elin Herlina. Ketika saya masuk kelas hanya ada beberapa teman satu kelompok yang saya kenal waktu itu. Seiring waktu berjalan saya sudah dapat berbaur dengan yang lain serta beradaptasi dengan kehidupan Labschool. Di sekolah inilah saya dapat mengembangkan minat saya di bidang musik khususnya pada alat musik gitar. Saya berjumpa dengan teman-teman yang memiliki kemampuan diatas saya. Hal itulah yang memacu saya untuk belajar lebih banyak mengenai gitar. Saya memutuskan untuk pindah tempat les ke GSI. GSI merupakan kepanjangan dari Guitar School of Indonesia yang didirikan oleh Bernard Larso, Dewa Budjana, dan Andra Ramadhan. Di tempat inilah saya mendapatkan ilmu yang sangat banyak mengenai gitar.
Di kelas 7 prestasi saya tak begitu membanggakan. Ketika saya naik kelas 8 mulailah saya berpartisipasi dalam beberapa lomba seperti lomba roket air di Taman Mini, di SMP Madania, serta ACEX di sekolah saya. Alhamdulillah saya dapat meraih juara ke 3 pada lomba di Madania dan Juara 1 pada ACEX. Kemudian pada bulan Februarinya kami murid-murid kelas 8 mengikuti Bimensi di Tempat Pelatihan Polisi Lido, Sukabumi. Disana kami dilatih dan dididik seperti calon polisi. Segalanya harus serba cepat, teratur, dan kompak. Berkat latihan ini angkatan kami makin kompak dan padu ketika menghadapi segala situasi. Tak terasa saya sudah di kelas 9. Tak banyak lagi waktu untuk bermain dan bersantai. Kami harus benar-benar focus untuk menghadapi ujian. Terlebih lagi kami diberikan tugas Bahasa Indonesia untuk membuat Karya Tulis semacam skripsi yang akan menjadi nilai ujian praktek. Tetapi dibalik itu semua, ada sesuatu momen yang sangat membanggakan dan tidak dapat terlupakan. Yaitu ketika pemberian nama pada angkatan dan pemilihan ketua angkatan. Scavolendra Talvoreight menjadi nama angkatan kami dan Adhitya Bayu sebagai ketua angkatannya. Setelah hari itu kami benar-benar bersiap untuk ujian. Rangkaian try out dan latihan kami tempuh. Saya juga belajar keras demi masuk sekolah tujuan saya yaitu SMA 8. Tapi rupanya Tuhan berkata lain. Saya tidak diterima di SMA 8 dan pada akhirnya masuk ke SMA Labschool Kebayoran.
Masa SMA
 Karena masuk di SMA yang notebene hampir serupa dengan waktu SMP, saya tidaklah terlalu terkejut dengan itu. Pra mos yang diadakan hampir serupa dengan waktu SMP. Saya pun tidak sulit untuk berbaur dengan teman yang lain karena hampir setengah lebih merupakan alumni SMP Labschool Kebayoran. MOS yang kami jalankan terasa tidak terlalu berat karena dilewati dengan semangat.
Setahun pertama saya berusaha untuk berubah dari kehidupan SMP saya. Saya berusaha aktif di dalam setiap acara. Sejak MOS saya selalu mengambil setiap kesempatan yang dapat merubah diri saya. Pengalaman itu antara lain adalah menjadi calon ketua angkatan Dasecakra dan kemudian dilanjutkan dengan menjadi calon ketua umum OSIS. Walaupun keduanya menemui kegagalan itu tidak mematahkan semangat saya untuk dapat memberikan yang terbaik di masa yang akan datang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar