Sabtu, 04 Agustus 2012

Tugas-1 Autobiografi Auliya Devaldi Wiratama

15 Tahun Hidup yang Penuh dengan Kenangan

            Perjalanan hidup saya dimulai dari suatu pagi yang cerah di hari Sabtu, tepatnya tanggal 28 Desember 1996. Pada saat itu, ayah dan ibu saya, yang bernama Wirawan dan Debbie Yoshida, sudah tidak sabar menunggu kelahiran saya. Begitu juga dengan kakak saya yang bernama Denita Biyanda Utami. Walaupun harus menunggu 15 jam dan membatalkan perayaan ulang tahun kakak saya di malam sebelumnya, kedua orang tua saya sangat bahagia setelah mendengar tangisan pertama yang diucapkan dari mulut saya. Mereka langsung memutuskan untuk menamai saya Auliya Devaldi Wiratama, dengan panggilan Valdy.

            Beberapa hari sejak kelahiran, keluarga saya dikejutkan oleh kondisi fisik saya. Tiba-tiba kulit saya mulai berubah menjadi kuning akibat bilirubin yang rendah. Kedua orang tua saya langsung bergegas pergi ke Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI). Di sana, seorang dokter menjelaskan mengenai kondisi saya dan perawatan khusus agar kulit saya kembali menjadi normal. Namun, perawatan tersebut membutuhkan waktu lebih dari 24 jam, sehingga keluarga saya terpaksa "menginap" di rumah sakit tersebut.

Umur 1 bulan

Masa KB
            Di pertengahan tahun 1999, saya memiliki keinginan untuk pergi bersekolah. Namun, orang tua saya sempat mengalami keraguan, karena umur saya masih 2 setengah tahun. Sedangkan waktu kakak saya pertama kali dimasukkan ke sekolah, umurnya sudah 3 setengah tahun. Akhirnya, orang tua saya memutuskan untuk memasukkan saya ke Kelompok Bermain Aulia.

Perayaan ulang tahun ke-3

Masa TK
            1 tahun pun berlalu dan saya sudah siap untuk mengikuti jenjang pendidikan yang berikutnya, yaitu Taman Kanak-kanak, atau biasa dibilang TK. Saya didaftarkan ke TK Pembangunan Jaya yang kebetulan letaknya di Sektor 9 dan tidak jauh dari rumah saya. Di TK tersebut, banyak permainan yang dapat dimainkan bersama teman-teman. Celakanya, saya pernah kurang berhati-hati dalam bermain, sehingga tangan saya tertusuk paku-paku. Salah satu kenangan di TK yang tidak akan saya lupakan adalah acara perpisahan. Di acara perpisahan tersebut, saya menampilkan sebuah tari sederhana, yang dikoreografikan oleh guru saya, bersama 13 murid laki-laki lainnya.

Perayaan ulang tahun ke-5 di sekolah
Penampilan tarian sederhana di acara perpisahan TK (ketiga dari kiri)

            Setelah 2 tahun saya belajar dan bermain di TK, saya memutuskan untuk langsung melanjutkan ke sekolah dasar, walaupun umur saya masih kurang. Awalnya, orang tua saya berencana untuk mendaftarkan saya ke SD An-Nisaa dan SD Al-Azhar Bintaro. Namun, karena faktor umur, saya tidak dapat diterima di kedua sekolah tersebut dan harus menunggu 1 tahun apabila saya masih bertekad untuk masuk ke sekolah tersebut. Akhirnya, orang tua saya memutuskan untuk mendaftarkan saya ke SD Pembangunan Jaya, di mana saya bisa masuk sekolah di umur 5 setengah tahun.

Masa SD
            Yang membuat saya nyaman di SD Pembangunan Jaya adalah rasa toleransi antara satu sama lain, antara satu agama dengan agama lain. Teman-teman saya tentunya bukan hanya yang bergama Islam, namun juga ada yang beragama Protestan, Katolik, Hindu, bahkan ada juga yang beragama Buddha. Seperti yang dikatakan ibu saya,
"Kita harus berteman dengan siapa saja."
Namun, rasa toleransi tersebut mulai hilang. Satu sama lain mulai saling mencaci maki dan setiap murid berusaha untuk mencari kesalahan temannya sendiri. Saya pernah menjadi korban "caci maki" tersebut. Walaupun kata-kata tersebut menyakitkan, namun saya tidak peduli, karena bukan hanya saya yang diperlakukan seperti itu, namun juga ada beberapa murid yang diperlakukan seperti itu dan mereka merasa dikucilkan.

Hari pertama masuk sekolah dasar

            Pada saat saya berada di kelas 5, saya dikejutkan dengan berita bahwa di tahun saya lulus, akan diselenggarakan ujian nasional pertama untuk tingkat SD, atau pada saat itu disebut dengan UASBN. Satu angkatan, termasuk saya, langsung menjadi panik. Kami merasa takut karena kami yang pertama ditunjuk untuk melaksankan UASBN. Namun, dengan persiapan dan bantuan dari guru, kami semua lulus 100% dan saya mendapatkan NEM yg cukup baik.

            Beberapa bulan sebelum saya lulus dari sekolah dasar, ayah saya menanyakan mengenai rencana berikutnya, yaitu mendaftar ke sekolah menengah pertama (SMP). Saya langsung menjawab, "SMP Labschool Kebayoran." Waktu saya mendaftar, saya sangat kagum dengan Labschool dan bertekad untuk masuk ke sekolah tersebut. Namun, takdir mengatakan sebaliknya. Pada saat pengumuman hasil tes masuk, saya sangat kecewa dan sedih karena tidak diterima di SMP Labschool Kebayoran. Ibu saya mencoba untuk menenangkan saya dengan mengatakan,
"Pasti nanti ada waktunya untuk adek."
Walaupun masih ada rasa kecewa, saya harus melanjutkan hidup dan memutuskan untuk belajar di SMP Pembangunan Jaya, karena hanya sekolah tersebut yang saya ikuti tesnya selain Labschool.

Masa SMP
            Selama SMP, saya terus berusaha keras untuk menjadi rajin. Saya berusaha untuk mengatur waktu dengan baik, walaupun pada akhirnya kurang berhasil. Lingkungan yang salah kadang dapat membuat kita berperilaku salah. Saya sempat mengalami konflik dengan beberapa orang karena emosi yang tidak dapat dikendalikan. Yang membuatnya semakin parah adalah, saya terlalu bergantung dengan dunia internet pada saat itu, sehingga semua hal yang saya tidak suka, diungkapkan dengan kasar melalui internet. Untungnya, hal-hal tersebut terjadi di pertengahan SMP. Dari konflik tersebut, saya belajar untuk sabar dan tidak sembarangan, baik dalam berbicara ataupun berperilaku kepada orang lain.

            Setelah konflik tersebut selesai, saya memutuskan untuk merubah hidup saya menjadi lebih baik. Saya, yang awalnya bercita-cita ingin menjadi dokter, tiba-tiba berubah pikiran dan bertekad untuk menjadi akuntan, seperti bapak saya. Tetapi, untuk bekerja di lingkungan sosial, saya membutuhkan pengalaman. Pengalaman tersebut saya mulai dari mendaftarkan diri untuk terlibat dalam Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) pada tahun 2009. Awalnya, saya mencalonkan diri untuk menjadi Wakil Ketua OSIS, tetapi karena kalah suara, saya ditempatkan sebagai Bendahara 1. Selain itu, saya sempat ditunjuk untuk berpartisipasi dalam Olimpiade Matematika dan Fisika di SMP Al-Azhar BSD, serta Olimpiade Sains Nasional dalam bidang IPS. Di luar kegiatan akademik dan kegiatan kesiswaan, saya juga berpartisipasi dalam beberapa kepanitiaan acara, seperti PJ Cup 2010, di mana saya menjadi MC pada saat pembukaan, dan Galaxee Fincivor, di mana saya ditugaskan menjadi Ketua Bidang 1.

            Pada saat saya duduk di kelas 9, saya mulai merencanakan masa depan. Saya mengumpulkan beberapa data sekolah terbaik di sekitar Jakarta Selatan dan Tangerang Selatan. Setelah mengumpulkan data-data tersebut, saya memutuskan untuk mendaftar ke 6 sekolah, antara lain SMA Al-Azhar 1 Pusat, SMA Al-Izhar, SMA Binus International Serpong, SMA Labschool Kebayoran, SMAN 2 Tangerang Selatan, dan SMAN 8 Jakarta. Namun, dari 6 sekolah tersebut, saya hanya sempat mendaftar ke 4 sekolah. Tes masuk sekolah yang saya laksanakan pertama adalah SMA Binus International Serpong. Esok harinya, tanggal 13 Februari 2011, saya melaksanakan tes masuk sekolah kedua yaitu tes masuk SMA Labschool Kebayoran. Mula-mula saya sangat gugup, karena pelaksanaan tesnya sedikit lama. Selain itu, saya juga takut kalau seandainya saya tidak diterima lagi seperti 3 tahun yang lalu. Namun, persiapan saya untuk masuk SMA Labschool Kebayoran sudah sangat matang. Hampir semua soal di buku persiapan masuk sudah saya isi. Pola berpikir saya langsung berubah dan dalam hati mengatakan,
"Saya harus optimis. Kalau saya optimis, insya Allah saya bisa."

            Setelah melaksanakan tes masuk SMA Labschool Kebayoran, saya langsung melanjutkan aktivitas akademik dan mencoba untuk tidak memikirkan tes masuk sekolah untuk sementara. Seminggu pun berlalu dan saya harus mencari tahu mengenai hasil tes masuk tersebut. Apakah saya diterima? Atau tidak diterima seperti sebelumnya? Saya memulai dengan membaca daftar nomor ujian yang dinyatakan diterima. Tidak ada nomor ujian saya di daftar tersebut. Selanjutnya, saya membuka daftar nomor ujian yang dinyatakan sebagai cadangan. Saya kaget karena melihat nomor ujian saya, 1B 20732, di urutan ke-11. Saya sangat bahagia mengetahui bahwa saya masih memiliki kesempatan untuk belajar di Labschool. Tetapi, saya harus tetap bersabar dan berdoa. Pengumuman penerimaan siswa gelombang ke-2 ditampilkan di situs resmi Labschool pada tanggal 1 Maret 2011. Di daftar pengumuman, saya melihat lagi nomor ujian 1B 20732 diurutkan secara acak. Saya sangat bersyukur mengetahui bahwa saya akhirnya mendapatkan kesempatan untuk belajar di Labschool.

            Masa-masa terakhir di SMP merupakan masa-masa yang indah. Saya menikmatinya dengan santai tetapi serius. UAS, UAN, dan ujian karya tulis pun saya lalui dengan ikhlas dan penuh semangat. Setelah 3 tahun bersusah payah, hasil pengumuman kelulusan keluar. Kami langsung berteriak dengan rasa bangga dan senang. Satu per satu dari kami lulus dari SMP, walaupun ada beberapa dari kami yang mengharapkan nilai yang lebih tinggi. Pada tanggal 12 Juni 2011, kami melakukan prosesi wisuda dan resmi lulus dari SMP Pembangunan Jaya.

Acara perpisahan angkatan Fincivor di Lembang (paling kanan)
Foto bersama kelas 9A di acara Wisuda Fincivor (paling kanan, barisan paling belakang)
Penyerahan plakat angkatan di acara Wisuda Fincivor

Masa SMA-sekarang
            Jumat, 8 Juli 2011 merupakan hari yang saya tunggu-tunggu. Hari di mana saya bisa memakai seragam putih abu-abu dengan rasa bangga. Hari di mana saya pertama kali menghirup udara di SMA Labschool Kebayoran sebagai siswa kelas 10. Hari di mana saya pertama kali berkenalan dengan teman-teman yang kelak akan menjadi teman seangkatan saya. Di hari tersebut, kami diberi pengarahan untuk Masa Orientasi Siswa (MOS). Mulai dari pengelompokkan dengan kawan-kawan baru, sampai dengan instruksi pembuatan nametag. Esok harinya, saya dan kelompok saya (kelompok 1: talempong) berkumpul di dekat masjid sekolah untuk bekerja sama dalam membuat nametag. Kami tidak hanya menempel dan menggunting karton berwarna, tetapi kami juga berbicara dan bercanda tawa, mencoba mengenal satu sama lain.

            Pada saat pelaksanaan MOS, saya mendapat bekal beberapa pelajaran dan pengetahuan mengenai Labschool dan juga motivasi untuk menuntut ilmu di SMA. Hal yang baru bagi saya adalah kegiatan makan komado dan lari pagi, karena belum terbiasa melakukannya di SMP. Setelah MOS, saya ditaruh di kelas X-A. Pada awalnya, kelas X-A berjumlah 40 orang. Namun, karena ada 3 orang yang diterima di kelas akselerasi, jumlah siswa di kelas X-A menjadi 37. Pada hari pertama duduk di bangku kelas, kami mulai berkumpul dan menceritakan beberapa hal mengenai kejadian yang pernah terjadi di kehidupan kami. Bahkan, kami mulai menceritakan kisah-kisah misterius. Setelah satu minggu menghabiskan waktu untuk bermain, saya langsung memfokuskan pikiran saya ke pelajaran.

Nametag MOS 2011
Bersama teman-teman di 7-Eleven (kedua dari kanan, paling depan)
            
            Semester 1 di SMA Labschool Kebayoran merupakan semester yang paling berat bagi saya sejauh ini. Walaupun pelajarannya tidak seberat di semester 2, saya tetap harus belajar beradaptasi dengan metode pembelajarannya. Waktu SMP, saya terbiasa belajar dengan cara menghafal catatan yang diberikan guru dan mengerjakan ulang soal latihan yang pernah diberikan olehnya. Namun, cara tersebut tidak dapat diterapkan di SMA. Saya harus mencoba untuk belajar sendiri dan juga mencari refrensi lain, selain dari materi yang dijelaskan oleh para guru.

            Selama semester 1, saya dan teman-teman seangkatan sempat disibukkan dengan kegiatan Trip Observasi (TO). Kegiatan trip observasi dimulai dengan persiapan awal, yaitu PraTO. Sebelum mengikuti PraTO, kami harus membuat nametag, yang tentunya berbeda dan jauh lebih rumit daripada nametag MOS, dan mengecat tongkat berupa bambu yang telah disediakan. Kami juga dibagi menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan kurang lebih 8 siswa. Kami juga didampingi oleh kakak-kakak OSIS serta guru-guru. Pada hari ke-2 PraTO, angkatan kami mulai resmi terbentuk dengan nama Dasa Eka Cakra Bayangkara, yang berarti angkatan sebelas yang menjaga keseimbangan roda kehidupan. Kegiatan TO dimulai dari tanggal 20 dan berakhir pada 24 Oktober 2011. 5 hari kami habiskan di Purwakarta. Rasa kebersamaan dan toleransi kami rasakan selama "perjalanan" kami di sana. Kegiatan tersebut merupakan suatu memori yang tentunya akan menjadi kenangan bagi kami selamanya.

Nametag TO 2011

            Di awal semester 2, saya merasa sangat gugup, karena saya tahu bahwa saya harus bekerja lebih keras dari semester 1. Walaupun saya mendapat posisi rengking di nomor 2, bukan berarti saya harus santai. Saya harus benar-benar belajar sampai batas maksimum. Untungnya, saya mendapatkan banyak libur di semester 2, sehingga saya mempunyai waktu untuk belajar yang lebih lama daripada waktu di semester 1. Namun, kegiatan yang ada di semester 2 juga semakin banyak.

            Kami berangkat ke Bandung dan Lembang untuk melaksanakan kegiatan Studi Lapangan pada tanggal 31 Januari 2012 dan kembali pada tanggal 1 Februari 2012. Di sana kami melakukan penelitian ke beberapa perusahaan yang bergerak di bidang teknik, Museum Geologi, dan Balai Penelitian Tanaman Sayuran. Kegiatan sekolah berikutnya yang kami laksanakan adalah Bina Mental dan Kepemimpinan Siswa (BINTAMA). BINTAMA dilaksanakan mulai dari tanggal 2 sampai dengan 7 April 2012 di Kesatrian Gatot Subroto, Serang, Banten. 6 hari di sana terasa melelahkan, karena kami dibina oleh KOPASSUS untuk melaksanakan beberapa kegiatan fisik dan kegiatan yang menguji mental. Awalnya, kami merasa tidak tahan dan ingin cepat-cepat pulang. Namun, kami semua merasa sedih pada akhirnya, karena kegiatan BINTAMA telah selesai. Kegiatan tersebut cukup indah untuk dijadikan kenangan.... selamanya.

Studi Lapangan kelas 10 2012 (kedua dari kanan)
Kompi 1 Pleton 1 BINTAMA 2012 (kedelapan dari kanan, barisan paling belakang)

            Tidak lama kemudian, bulan Juni pun akhirnya datang. Bulan di mana saya harus membuktikan kemampuan saya selama di kelas 10, dan juga membuat keputusan mengenai penjurusan. Apakah saya akan mengambil jurusan IPA, atau jurusan IPS. Kalau dilihat dari fakultas yang saya inginkan, sebaiknya saya memilih untuk masuk jurusan IPS. Namun, dilihat dari kemampuan, dan mayoritas mahasiswa jurusan akuntansi di PTN, terutama UI, sebaiknya saya masuk jurusan IPA. Sebenarnya, ada beberapa hal, yang tidak bisa saya sebutkan semuanya, yang membuat saya sadar bahwa saya lebih baik mengambil jurusan IPS untuk 2 tahun ke depan. Sempat ada beberapa guru yang menanyakan mengapa saya tidak mengambil jurusan IPA, salah satunya adalah wali kelas saya sendiri, Pak Yusuf. 2 hari sebelum penerimaan rapot, Pak Yusuf menghubungi ibu saya dan menanyakan mengapa saya ingin mengambil jurusan IPS. Ibu saya pun menjelaskan dan langsung menghubungi saya setelah percakapannya dengan Pak Yusuf selesai. Ia juga ingin memastikan bahwa saya tidak salah memilih dan tidak menyesal di kemudian hari.

            Pada saat penerimaan rapor, ibu saya berbincang langsung bersama Pak Yusuf mengenai perkembangan pembelajaran saya selama di kelas 10. Pak Yusuf pun menyimpulkan tanggapannya terhadap saya dan berkata,
"Valdy tuh the best deh."
Tanggapannya terhadap saya membuat saya semakin termotivasi untuk menjadi yang terbaik. Mulai dari sekarang, sampai selamanya.

Lari pagi terakhir bersama kelas X-A (paling kanan, barisan kedua dari depan)
Bersama keluarga di pernikahan saudara (paling kiri)

1 komentar:

  1. Sebuah cerita yang mengalir laksana air, menarik untuk terus diikuti dan rasanya masih belum selesai, karena mash menunggu waktu untuk membuktikan harapan-harapan yang telah dituangkan.

    ms_rasyid@yahoo.com

    BalasHapus