Senin, 27 Agustus 2012

Tugas 1 - Autobiografi Astrid Levina

16 Tahun di Dunia, Membawa Berbagai Cerita Penuh Makna


6 bulan di kandungan mama

9 Juli 1996, pukul 23.50 di Rumah Sakit Bunda, Jakarta. Tepat pada waktu inilah pertama kalinya saya melihat dunia. Tangisan kencang saya dibarengi dengan ucapan syukur, doa, harapan, serta tawa bahagia mama dan papa. Bahagia karena anak keduanya, putri pertama di keluarga itu telah lahir dengan selamat dengan berat 2,8 kg dan panjang 48 cm, walaupun saya lahir normal, saat lahir katanya saya kedinginan, lalu saya dimasukkan ke inkubator selama beberapa jam untuk menghangatkan tubuh saya. Sampai sekarang pun saya adalah manusia yang tidak tahan dengan udara dingin.

Di ruang bayi RS Bunda saat baru dilahirkan

Saya diberi nama Astrid Levina Tampubolon, Astrid Levina memiliki arti ‘bintang yang bercahaya’ sedangkan Tampubolon merupakan marga dari papa saya yang keturunan batak, David Edison Tampubolon. Mama saya berasal dari Jawa Timur, bernama Elizabeth Aryanti. Bagi keluarga saya, saya adalah bintang yang telah ditunggu-tunggu, karena sejak lama kakak saya, Steven Adrian Tampubolon, yang berselisih 5 tahun dengan saya, menginginkan seorang adik perempuan, dan datanglah saya.

Setelah dibaptis, umur 8 bulan.

'tul' di hidung sama papa.

Waktu kecil, saya dekat sama papa, dan saya selalu ingat kalimat yang sering diucapkan papa kepada saya: "Orang yang lahir di tengah malam itu tidak mengenal rasa takut; fearless. Kamu juga begitu. Tetap kejar mimpi-mimpi kamu tanpa rasa takut."

MASA BALITA
Saya tinggal di Bekasi, tepatnya di perumahan Pondok Pekayon Indah. Tetangga-tetangga saya kebanyakan memiliki anak-anak seumuran saya. Setiap sore saya bermain dengan mereka sambil disuapi pengasuh saya. Orangtua saya keduanya bekerja sehingga saya harus melewati pagi sampai sore bersama pengasuh. Meskipun begitu, papa, mama, dan kakak saya memperlakukan saya dengan baik layaknya impian semua balita di dunia. Tidak bosan-bosannya mereka mencium dan memeluk saya. Ketika pulang dari sekolah atau kantor, pasti saya yang mereka cari.

Ulangtahun saya yang pertama :D

Saat umur 3 tahun, saya dimasukkan ke playgroup Marsudirini. Di sana mainannya banyak dan menyenangkan. Pada awalnya saya senang sekali bersekolah di sana, tetapi semua itu berubah saat ada seorang anak perempuan berambut keriting yang mendorong saya saat bermain rumah-rumahan, saya menyebutnya 'si rambut mi'. Sejak saat itu, saya menangis jika mama saya meninggalkan saya di playgroup. Jadi mama saya harus mengawasi saya sampai saya sudah keasyikan bermain, baru diam-diam meninggalkan saya untuk bekerja.


Hari pertama masuk playgroup. Bersama oma & opa.

Pada pertengahan tahun 2000, saat saya berumur 4 tahun, keluarga kami pindah dari Bekasi ke Surabaya karena papa saya dipindahtugaskan. Sebelum mempunyai rumah sendiri, kami tinggal di rumah oma saya dari keluarga mama selama setengah tahun. Saat itu saya bagaikan tuan puteri, karena saya merupakan cucu perempuan pertama dan paling kecil di keluarga mama.

Natal di rumah oma & opa.
Saya (digendong opa) 'si tuan puteri'

MASA TK
Di Surabaya, saya disekolahkan di TK Katolik Santa Clara. Tetapi rupanya kenangan buruk di playgroup masih melekat di ingatan saya, saya jadi menangis dan tidak mau ditinggal mama saat akan masuk kelas sehingga guru saya harus menenangkan saya. Bahkan saya diijinkan untuk mengerjakan tugas di pangkuan ibu guru saya sedangkan anak-anak lain mengerjakan tugas di meja masing-masing , agar saya tidak menangis. Ya, dulu saya adalah anak yang sangat cengeng.

Waktu TK, saya paling suka hari Sabtu. Karena saat hari Sabtu, saya masuk ke TK bukan untuk belajar membaca dan menulis, melainkan untuk belajar menggambar dan menonton panggung boneka yang dimainkan oleh guru-guru TK saya. Setelah itu baru dilaksanakan kegiatan ekstrakurikuler. Saya tergabung dalam ekskul angklung, sebuah ekskul yang kalau dipikir-pikir sekarang, ternyata sangat unik. 

Tampil angklung bersama teman-teman TK.
Saya di baris depan, ketiga dari kanan, paling kecil.

Sejak kecil saya menyukai barang-barang yang mengeluarkan bunyi. Melihat ketertarikan saya, saat umur 4 tahun mama saya mendaftarkan saya les piano di Melodia.  Di sana saya belajar membaca not, bermain piano, dan menyanyi. Di Melodia, saya bertemu seorang anak perempuan mungil seumuran saya, ia bernama Pamela Novita, yang saya panggil Lala. Ternyata rumah kami berdekatan, sehingga kami sering pergi bersama. Selain les piano, saya juga diikutkan les menggambar dan menari ballet. Semua les itu saya ikuti bersama Lala. Lala adalah sahabat pertama saya.


Saat ujian ballet. Saya paling kiri, Lala di sebelah kanan saya.


MASA SD
Setelah lulus TK, saya masuk ke SD yang terletak di sebelah TK saya. SD Katolik Santa Clara, saya tidak merasa asing karena teman-teman saya kebanyakan juga berasal dari TK yang sama dengan saya. Saya sudah tidak menangis lagi saat masuk SD, mungkin karena selain sudah bertambah besar, saya sudah mulai terbiasa dengan suasana sekolah dan teman-teman yang ternyata bersikap baik sekali.

Saya masuk ke kelas 1 C. Guru kelas saya bernama Bu Vero. Bagi saya, Bu Vero merupakan guru favorit sepanjang masa. Setiap hal bahkan yang tidak penting, kami ceritakan semuanya ke Bu Vero, dengan sabar beliau akan mendengarkan dan tertawa bersama kami walaupun cerita kami sebenarnya tidak lucu.

Bersama kelas 1 C, suster kepala sekolah, & bu Vero.
Saya di baris ke-3 dari depan, urutan ke-4 dari kiri.

Bersama mama & kakak saat liburan ke Jogja.

Pada tahun 2003, keluarga saya menerima kabar bawa papa saya akan dipindahtugaskan lagi ke Jakarta. Saya merasa agak sedih karena harus meninggalkan sekolah saya, Bu Vero, teman-teman saya di Surabaya, terutama Lala. Tetapi mama meyakinkan saya bahwa sekolah baru saya tidak kalah menyenangkan. Maka pada bulan Juli 2003, kami sekeluarga pindah ke Jakarta.

Keluarga saya memilih kawasan Jakarta Selatan, tepatnya di daerah Permata Hijau sebagai tempat hunian kami yang baru. Saya menyukai daerah tempat tinggal saya yang masih hijau dan nyaman. Saya juga suka mengelilingi komplek rumah dengan sepeda karena udaranya masih segar.

Sekolah baru saya terletak di Jalan Barito, Jakarta Selatan. SD Tarakanita 1. Saat hari pertama masuk, saya kembali menangis karena semua anak yang saya lihat memakai topi, sedangkan saya tidak. Saya kira saya salah seragam, tapi ternyata yang memakai topi hanya anak-anak kelas 3 sampai kelas 6, sedangkan saya masih kelas 2. Itulah saya yang masih saja cengeng, menangis hanya karena hal-hal kecil.

Saya masuk ke SD Tarakanita 1 sebagai anak baru di kelas 2B. Suasana sekolah ini begitu baru dan asing bagi saya. Sangat lain dengan sekolah saya di Surabaya. Di sini, sebagian anak-anak sudah memakai bahasa ‘gaul’ seperti menggunakan gue-lo, serta logat Jakarta yang berbeda dengan Surabaya. Satu hal yang sangat saya suka di Tarakanita adalah seragam rok kotak-kotaknya yang bagus.

Kelas 2 SD. Study Tour ke Kebun Raya Bogor.

Prestasi saya di SD terbilang cukup banyak, terutama di kelas 4 sampai 6, di antaranya adalah 5 besar lomba Matematika tingkat kabupaten dan sering dikirim mengikuti kompetisi spelling bee serta lomba pidato dalam bahasa Inggris antar SD. Lomba-lomba ini menambah pengetahuan saya dan sangat menyenangkan karena saya sendiri merupakan anak yang menyukai hal baru.

Kelas 4 SD. Tampil ballet di Graha Bakti Budaya, TIM.

Di Jakarta, saya tetap melanjutkan les ballet di Namarina Gandaria dan les piano serta biola di Sincere Yamaha. Tetapi lama kelamaan, saat kelas 5 SD saya mulai jenuh dengan ballet, mama saya melarang saya berhenti karena saya sudah ada di grade 2, tetapi karena saya terus merengek, akhirnya saya diperbolehkan berhenti. Kemudian saya mulai mengikuti ekskul basket di sekolah, dari sana saya mulai menyukai olahraga tersebut. Dari ekskul tersebut saya juga memperoleh banyak teman. 6 tahun masa SD saya berlalu dengan cepat.

Bersama kelas 6B SD Tarakanita 1 saat perpisahan.


MASA SMP
Tahun 2008, saya lulus SD dan melangkah ke jenjang yang lebih tinggi. Saya masuk ke SMP Tarakanita 5 yang tidak jauh dari SD saya sebelumnya. Setelah mengikuti MOS selama 3 hari untuk mengenal lingkungan sekolah lebih dekat, kami dibagi-bagi berdasarkan kelas. Saya masuk ke kelas 7-1. Di kelas ini saya mulai mengenal anak-anak yang bukan dari SD saya sebelumnya. Kami mulai menyatu dan sering mengobrol bersama.

Awal kelas 7. City Tour ke Museum Fatahillah.
Masih culun bersama teman-teman baru.
Menjadi petugas upacara 17 Agustus (membawa bendera).

Saat kelas 8 saya masuk ke kelas 8-4, di kelas ini saya berkenalan dengan sahabat-sahabat saya yang bernama Angel, Aliq, dan Raras. Kami menyebut kami sendiri ‘kecebong’ dikarenakan kami suka menyanyikan soundtrack Crayon Shinchan, dan ‘kecebong’ adalah bagian dari lirik lagu tersebut. Di kelas 8 ini saya terpilih menjadi anggota OSIS periode 2010-2011, sie olahraga.

Para 'kecebong' (dari kiri) Raras, saya, Angel, & Aliq.

Bersama beberapa pengurus OSIS 2010-2011 saat MOS angkatan bawah kami.
Tibalah masa-masa kelas 9, masa yang sibuk tetapi paling berkesan. Saya masuk ke kelas 9-4. Di kelas 9 kami sudah mengenal satu sama lain dengan dekat sehingga pertemanan satu angkatan sudah mulai kompak. Pada tahun 2011 di bulan Januari, kami mengadakan kegiatan tahunan yang bernama Tarlim Cup XI yang juga merupakan program kerja terakhir OSIS angkatan saya, maka setelah Tarlim Cup XI berakhir, angkatan saya menangis karena itu adalah tanda bahwa tak lama lagi kami akan berpisah.

Saat Tarlim Cup XI.

Di kelas 9, saya belajar dengan giat karena selain akan menghadapi UN, saya juga mengejar untuk masuk ke SMA impian saya sejak kelas 8: SMA Labschool Kebayoran. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa untuk masuk ke sana tidak mudah, dan persaingannya sangat tinggi. Setelah mengikuti tes pada bulan Februari, saat pengumuman ternyata saya lulus tes. Saya sangat gembira karena saya sudah terlanjur melepas SMA Gonzaga yang lebih dulu pengumumannya, dan memberanikan diri untuk tes di SMA Labschool Kebayoran.

Teman-teman SMP tercinta :)
Tim Basket SMP Tarakanita 5 angkatan 2011.
Saat foto untuk buku tahunan. Saya kedua dari kiri.

Di akhir masa SMP, angkatan saya membuat buku tahunan dan mengadakan prom night. Saya menjadi salah satu panitia buku tahunan sie design. Puji Tuhan buku tahunan kami jadi sesuai harapan dan prom night kami terlaksana dengan baik, bertempat di Hotel Sultan. Saya merasa bahagia juga sedih, karena sebentar lagi saya akan meninggalkan kenyamanan SMP dan memasuki fase baru yang asing,  yaitu SMA.

5 Juni 2011 di Hotel Sultan.

Bermain biola saat Prom Night. Bersama Ratih, Natha, & Kanya.
Menerima medali kelulusan.


MASA SMA
8 Juli 2011. SMA Labchool Kebayoran. Hari pertama saya memakai seragam putih abu-abu untuk mengikuti pra MOS. Pada awalnya, saya merasa agak kaget karena nametag untuk MOS terlihat sangat susah sekali. Saya juga masih merasa aneh dengan lari pagi yang ternyata sudah seperti trademark Labschool, yang belum saya ketahui saat itu.

Nametag MOS 2011. Kelompok 1 "Talempong"

Saya masuk ke kelas X-A, yang juga merupakan kelompok MOS saya. Awalnya bagi saya kelas ini biasa saja tetapi ternyata kelas ini sangat sangat gila dan menyenangkan ketika semua aib sudah terbuka di semester kedua.

Bersama X-A dan wali kelas tersayang, Pak Yusuf.

Selama kelas 10, kami menjalani masa-masa yang berat. Kami harus membagi waktu antara tugas yang banyak, ulangan yang susah, serta kegiatan-kegiatan yang terlihat menumpuk semua di depan mata. Seperti Trip Observasi, dimana kami bersama dengan kakak-kakak OSIS tinggal selama 5 hari di desa. Sebelum TO, kami mengikuti Pra-TO, yaitu 3 hari yang penuh dengan latihan kedisiplinan, kekompakan, disertai marah-marah kakak OSIS. Pada saat itulah angkatan saya yang sebelumnya dipanggil ‘angkatan 11’, mendapat nama angkatan ‘Dasa Eka Cakra Bayangkara’.


Trip Observasi 2011, Parakan Ceuri, Purwakarta.
Bersama kelompok 25 "Rasa Sayange" & keluarga asuh.

Kelas 10. Saat malam keakraban, study tour ke Bandung.

Selain TO, kami juga mengikuti study tour ke Bandung dan Bintama, dimana kami selama 5 hari mengikuti kegiatan di group 1 Kopassus, Serang. Setelah Bintama, diadakan acara Lapinsi, yaitu kegiatan yang diperuntukkan bagi siswa-siswi yang ingin menjadi OSIS. Saya mengikuti kegiatan tersebut yang berlanjut ke TPO. Puji Tuhan saya dapat melewati itu semua dengan baik, dan lolos tes untuk menjadi anggota OSIS.

Dasa Eka Cakra Bayangkara saat lari pagi terakhir kelas 10.

Saya mengakhiri kelas 10 dengan prestasi yang sangat baik. Saya masuk ke jurusan IPA, tepatnya kelas XI IPA 3. Sekarang saya sedang dalam proses mengejar impian saya selanjutnya, yaitu kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. Sewaktu kecil, gigi saya rusak karena terlalu banyak makan permen sehingga harus sering ke dokter gigi. Saat itu saya merasa takut ketika pernah mendapat dokter yang jutek dan tidak peduli saya merasa sakit atau tidak. Kelak nantinya, saya ingin membuat pasien-pasien saya merasa senang dan nyaman. Saya ingin menjadi seorang dokter gigi yang bekerja dengan sepenuh hati, dan bisa membanggakan keluarga saya :)


Mama & papa. Dua orang yang paling ingin saya banggakan.

1 komentar:

  1. "Saya selalu ingat kalimat yang sering diucapkan papa kepada saya, 'Orang yang lahir di tengah malam itu tidak mengenal rasa takut; fearless. Kamu juga begitu. Tetap kejar mimpi-mimpi kamu tanpa rasa takut'."

    Sebuah pernyataan yang patut juga disampaikan oleh orang tua yang lain kepada anak-anaknya. Patut juga disampaikan oleh guru-guru kepada murid-muridnya. Konon Soekarno pernah mengatakan "Gantungkan cita-citamu setinggi langit." Kata-kata itu benar adanya, karena apabila seseorang tidak dapat menjemput bintang, niscaya dia dapat memetik rembulan.

    Semoga demikian juga dengan Astrid...

    BalasHapus