Rabu, 15 Agustus 2012

Tugas-1 Autobiografi Andina Zahra Nabilla


15 Tahun Belajar untuk Hidup

Ayah dan Ibu saya menikah

Ibu mengandung saya

Pada tanggal 26 November 1995, Nina Muthmainnah dan Mohammad Anis Yunianto yang saat itu sama-sama bekerja sebagai pegawai swasta, melaksanakan akad nikah di Masjid Pondok Indah dengan budaya Palembang.  Mereka yang memiliki latar belakang  yang berbeda(Nina dari Palembang dan Anis dari Jawa Timur) dulunya bertemu saat belajar di Institut Pertanian Bogor. Hampir genap setahun setelahnya, pada tanggal 29 November 1996 malam hari, putri sulung mereka yang diberi nama Andina Zahra Nabilla, lahir. Romantisnya, nama Andina diambil dari nama panggilan mereka yang disatukan(Anis dan Nina menjadi Anina atau Andina), kata Zahra memiliki arti bunga, dan Nabilla berarti pintar. Saya dilahirkan dengan massa 3,95 kg di rumah sakit MMC di wilayah Cibubur yang berada di dekat kantor ibu saya waktu itu.

 
Saya di-aqiqah

 
Saya ketika masih bayi

Setelah beberapa hari bermalam di rumah sakit, saya dibawa pulang ke rumah ayah yang terletak di Cimanggis. Saat itu kami masih tinggal bersama adik ayah yang belum menikah dan dekat dengan rumah orangtua ibu saya. Setelah sebulan, orangtua saya melaksanakan aqiqah untuk saya. Saat saya beranjak balita, banyak orang salah mengira saya laki-laki sampai-sampai pernah ada tetangga yang mengatakan, “Mbak, masnya ganteng sekali ya...” kepada mbak saya yang waktu itu mengantar saya jalan-jalan di sekitar rumah. Selain itu, menurut ibu saya, saya lamban dalam berbicara. Saat saudara yang seumuran saya sudah bisa bernyanyi, saya baru bisa menyebutkan beberapa kata yang juga masih salah(seperti ‘adok’ untuk ‘sendok’ atau ‘ndok’ untuk ‘telur’) hingga orangtua saya hampir membawa saya ke dokter anak.


Masa KB

Saya memakai peci topi

Saya memulai sekolah di suatu kelompok bermain bernama “ABC kids” di Cibubur, walaupun saya terlalu kecil untuk mengingatnya, saya hanya bersekolah di sana selama setahun karena setelah saya menginjak usia 3 tahun, kami sekeluarga pindah ke Bintaro, Jl. Titihan Blok HF 13 nomor 19. Di sana kami pindah ke rumah yang sedikit lebih besar dengan satu lantai tambahan di atas.  Dengan pindah rumah ke Bintaro, saya dipindahkan masuk ke kelompok bermain Auliya selama setahun. Setelah saya lulus dari Kelompok Bermain Besar,  saya didaftarkan oleh orangtua ke sekolah yang mereka dengar bagus dari teman kantor mereka yaitu An-Nisaa. Namun karena umur saya masih tidak mencukupi untuk masuk ke TK di An-Nisaa, saya dimasukkan kembali ke Kelompok Bermain sehingga saya seumur hidup melewati periode kelompok bermain selama tiga tahun dan mundur angkatan. Satu hal yang saya ingat di KB An-Nisaa, saat hari pertama, saya tidak mau berpisah dengan mbak yang waktu itu mengantar saya dan akhirnya terus menangis di dalam kelas. Guru saya pun akhirnya memperbolehkannya masuk dan saat pulang saya diberi cap bulan di tangan sebagai tanda saya harus mencoba lebih bagus lagi. Setelah saya menginjak empat tahun, ibu saya hamil dengan adik saya, Adwitya Rafi Aqilla, yang akhirnya lahir pada 16 Desember 2000.

Walaupun saya senang tak main dengan kedatangan adik saya di rumah, menurut orangtua, dulu saya mengalami fase ke-iri-an terhadapnya. Saat ibu saya sibuk mengurusi adik saya, saya mengeluh ke mbak dengan mengatakan, “Kok mama udah gak sayang aku lagi..?”. Namun setelah beberapa lama beradaptasi dan perhatian lebih dari ibu sendiri, saya melewati fase itu dengan sering bermain dengan adik dan juga meminta bubur pisang bayi yang enak darinya. Saya tumbuh  mendengarkan band Irlandia yang bernama Westlife dan dapat menonton film Lion King 5 kali seharinya.

Saat adik baru lahir
Aku dan Adit(di belakang)

Masa TK
Saya melanjutkan jenjang yang lebih tinggi yaitu Taman Kanak-Kanak tetap di An-Nisaa. Di An-Nisaa, saya bertemu banyak teman lama dari KB dan juga teman-teman baru. Saya juga pulang pergi sekplah dengan jemputan sehingga memiliki banyak teman di sana. Pada masa ini, saya dimasukkan oleh ibu ke TPA di kampung depan rumah. Saya pun setiap pulang sekolah bersama mbak pergi ke sana dan membeli jajanan.  Dengan sering pergi ke sana, saya mendapatkan banyak teman yang kerap bermain di rumah walaupun setelah beberapa bulan saya berhenti TPA dan beralih ke les Al-quran privat di rumah. Saya senang bermain dengan teman-teman dari kampung depan, tetangga, dan sekolah. Tidak jarang saya membawa daun singkong dari kampung setelah TPA selesai dan membuatnya menjadi kalung yang elok walaupun mudah rusak. Jalan-jalan mengelilingi komplek pada Sabtu Minggu juga menjadi hobi saya waktu itu.

Karena pada saat itu adik saya sudah cukup umur, saya dan adik saya kerap bermain lego dan masak-masakan. Karena saya memiliki obsesi dengan permainan masak-masakan, saya mengubah permainan lego menjadi masak-masakan. Pohon-pohon saya anggap menjadi ayam, bunga saya anggap sayur, dan orang saya anggap menjadi jamur.

Dulu ya, kamu tuh kalo nenek datang ke rumah, minta main masak-masakan. Kakek mu malah kabur tuh..” Kata mendiang nenek Tien kepadaku beberapa tahun lalu.
Aku dan Adit


Masa SD

Saat saya menyelesaikan Taman Kanak-Kanak, orangtua mendaftarkan saya untuk masuk ke SD Al-Azhar BSD. Namun takdir berkata lain, saya tidak diterima masuk, sehingga saya kembali masuk ke SD An-Nisaa. Di sana saya bertemu kembali dengan banyak teman yang lama maupun baru. Saya sangat senang bersekolah di An-Nisaa. Di sana banyak acara bagus dan sangat berkesan seperti Sports Day, Assembly yaitu penampilan setiap kelas setiap Jumat 2 mingguan, Book Fair, dan pameran Budaya. SD An-Nisaa memiliki tiga kelas setiap jenjangnya dan yang membuat An-Nisaa berbeda dengan kelas lain adalah nama kelasnya diambil dari nama guru yang mengajar serta baju perempuannya yang seperti daster. Selama saya bersekolah di sana, saya masuk dalam kelas 1F, 2T , 3T, 4D, 5M, dan 6W.

Tahun pertama merupakan tahun yang menyenangkan, kelas saya mendapatkan Filipina untuk pentas budaya. Kami membuat stan tentang semua hal yang ada di Filipina dan saya membawa miniatur mobil tradisional Filipina milik ibu saya untuk dipajang di stan. Kami masing-masing membuat pernak pernik seperti pin dan notes dan membuatnya bertema Filipina untuk dijual. Mendekorasi stan nya pun tak kalah seru, kami memasang berbagai gambar dan aksesori yang bertema negara tersebut dan saat hari H nya, kami memakai baju tradisionalnya. Saya memakai baju terusan warna merah muda yang juga digunakan saat mementaskan tari tradisional Filipina. Selain pameran budaya, kelas saya juga mendapat projek kelas untuk mengamati proses metamorfosis lalat dengan menyimpan suatu makanan di dalam toples dan membiarkannya terbuka. Dan setelah beberapa lama, makanan itu pun busuk dan mengundang lalat untuk datang. Dengan tema projek kelas ini, kelas saya menampilkan assembly yang berjudul Laluna Mencari Makan berdasarkan lagu Arjuna Mencari Cinta yang saat itu tengah populer dengan cerita seorang lalat yang mencari makan.

Tidak ada hal yang terlalu signifikan pada tahun kedua, namun tahun ini tidak kalah serunya. Assembly yang ditampilkan kelas saya waktu itu adalah tentang kesehatan, dengan tokoh utama yang sakit dan komponen penting makanan(karbohidrat, protein) muncul sebagai peran tambahan. Penampilan ini ditampilkan untuk mempromosikan makanan 4 sehat 5 sempurna. Pada tahun ketiga, saya mendapatkan guru yang sama dan dapat sekelas dengan banyak teman, salahsatunya adalah sahabat karib saya Fina, dan beberapa anak yang akhirnya dekat dengan saya di Labschool seperti Putri Khalisha. Di masa itu, Detective Conan dan Extravaganza memang sedang marak di antara siswa sehingga kami sekelas sering bermain peran yang ada di dalamnya. Kami juga sibuk bertukar kertas file yang berilustrasi menarik untuk dikoleksi. Saya ingat pada saat itu saya juga sedang terobsesi dengan majalah Donal dan turut mengikuti kuis yang diadakan setiap minggunya. Rasanya senang tidak main saat tahu saya memenangkan sebuah kotak pensil yang akhirnya saya gunakan untuk menyimpan perangko koleksi. Pada tahun ini, saya juga mulai belajar di satu institusi les bahasa Inggris yang bernama ILP. Assembly yang kami tampilkan tahun itu bertajuk tentang “Good Habits” yaitu tentang perilaku yang baik untuk diterapkan di hidup kita tiap harinya. Organisasi dalam sekolah yang saya ikuti pada masa ini merupakan ensemble yaitu grup pemusik dengan saya memainkan recorder.

Foto Kelas 3T (Saya di paling belakang kedua dari kiri)

Tiga tahun terakhir terasa sangat cepat. Saat sekolah dasar, saya sangat menyukai pelajaran matematika dan komputer sehingga saya meminta orangtua untuk memasukkan saya ke dalam les kumon. Setelah 2 tahun belajar, dan level J di tangan, saya berhenti karena tekanan nya sudah terlalu besar dan saya sudah tidak mengerti apa yang saya kerjakan. Betapa kagetnya saya mendapatkan piala penghargaan “ComputerKid” tanpa alasan yang jelas.  Setelah itu, saya mulai mengikuti lomba-lomba matematika setelah dianjurkan oleh guru dan dapat memenangkan tiga diantaranya. Senangnya bukan main. Saya mulai diperkenalkan dengan SMP Labschool Kebayoran dan dianjurkan oleh orangtua untuk mengerjakan soal-soalnya. Pada penghujung sekolah dasar, UASBN pun semakin dekat dan saya mengikuti suatu bimbingan belajar untuk UASBN dan tes Labschool. Masa sekolah dasar saya diakhiri dengan Pementasan Akhir Tahun seangkatan yang tak kalah serunya dibanding assembly-assembly dahulu dan berpisah dengan teman-teman di Bagedor.

Saat foto untuk buku angkatan. 

Saya bersama teman bimbingan pelajar

Masa SMP
Saat akan mengikuti tes akselarasi di Labsky

Kini saya beranjak ke jenjang SMP, saya mengikuti empat tes seleksi sekolah; yaitu Bina Nusantara, Al-Izhar, An-Nisaa, dan juga Labschool Kebayoran. Keempatnya diterima, namun setelah pertimbangan lebih lanjut oleh saya dan orangtua, saya akhirnya memilih SMP Labschool Kebayoran sebagai SMP saya. Pada saat itu, saya juga ditawarkan tes akselarasi oleh Labschool karena nilai PSB saya mencukupi, karena dengan niat untuk mencoba tes saja, saya pun mengikutinya. Takjub lah saya saat mengetahui bahwa saya diterima dan awalnya memutuskan untuk menolak. Namun dengan rekomendasi guru BK dari sekolah, orangtua saya pun membujuk saya untuk mengikuti program akselarasinya saja. Dengan berat, saya pun mengikutinya dan bertemu dengan banyak teman yang bernasib sama dengan saya; ogah-ogahan. Bahkan ada satu anak yang setelah satu hari keluar dari program akselerasi.

Namun setelah beberapa lama, teman-teman sekelas menjadi menyenangkan karena kita memiliki nasib yang sama. Dua tahun merupakan lebih dari cukup untuk memupuk persahabatan yang kami punya. Dengan jumlah anak 21 orang satu kelas, kami selalu mengobrol satu sama lain walaupun tingkat intensitas nya dapat berbeda. Kami pun dikenal dengan aksel yang berandal, sudah dikunci di luar kelas oleh guru musik lebih dari 3 kali dan pernah membuat nangis seorang guru. Walaupun dengan teman yang menyenangkan, intensitas pembelajaran nya pun lama-lama menekan, terutama saat kami menginjak kelas 8 karena waktu yang kami punya untuk menyamakan diri dengan angkatan di atas sangat sedikit. Nilai saya pun jatuh dan untuk mengalihkannya, saya sibuk dengan komputerku dan perawakan saya berubah menjadi temperamental. Nilai saya hanya membaik setelah saya mengikuti program homestay, mungkin karena beban saya telah terlepas. Homestay di Melbourne merupakan pengalaman yang sangat berkesan untuk saya. Selama dua minggu di sana saya dapat merasakan lingkungan yang berbeda dengan budaya yang juga berbeda di Australia. Di sana juga terlihat bagaimana sistem edukasi nya sangat lebih mementingkan praktek daripada teori dibanding di Indonesia. Saya juga mendapatkan situasi yang berbeda dengan teman yang lain; saya mendapatkan 2 host parents sehingga saya mendapatkan dua pengalaman yang berbeda. Host parents pertama saya adalah keluarga Oakley, mereka adalah keluarga Australia tulen. Dan host parents kedua tempat saya menetap lebih lama merupakan keluarga Dunlop yang berbudaya India, pemerhati kesehatan, dan vegetarian. Untuk saya yang terbiasa tidak suka sayur dan olahraga, ini merupakan pengalaman unik untuk saya mencoba menyantap kari dengan tahu yang rasanya menyerupai ikan. Saya dibawa pergi mengelilingi kota di Melbourne dan menaiki sepeda ke rumah teman anak keluarga Dunlop. Saya pun akhirnya terbiasa tinggal di sana dan merasa sedih saat harus meninggalkan Australia.
Saya dengan teman sekelas

Saat Homestay di Australia

2 tahun pun terlewati dan kami bertemu lagi dengan ujian akhir sekolah kini dengan nama UAN. Saya hanya mengikuti bimbel pada 6 bulan terakhir sekolah dan bersyukur dapat mendapatkan hasil yang memuaskan.
Saat lari pagi berkostum

Masa SMA

Saya merupakan orang yang cukup labil saat menentukan SMA. Awalnya saya mau mengikuti jalur khusus Labschool, namun sehari sebelum jalur itu ditutup, saya memutuskan untuk ingin mencoba SMAN 28 sehingga membatalkan jalur khusus. Beberapa bulan setelah itu saya menyesal dan akhirnya berjuang sendiri mengerjakan soal-soal SMA Labschool yang super sulit namun tetap mencoba SMAN 28. Setelah seleksi Labsky, saya pun hanya bisa pasrah karena soal nya sangat sulit menurut saya. Betapa bersyukurnya saat saya tahu saya diterima oleh kedua sekolah. Saya pun bingung dalam memutuskan sekolah dan karena banyak pertimbangan, memutuskan untuk melepas SMAN 28 untuk masuk ke Labsky.

Bersama teman sekelas

Beban sekolah Labsky termasuk sibuk pada semester-semester awalnya, hampir dapat menyaingi akselarasi. Satu tugas selesai, tumbuh seribu tugas lainnya. Materinya pun banyak yang harus saya pelajari ulang karena ada beberapa materi yang terlewat di akselerasi. Kegiatan-kegiatan sekolah juga berlimpah, seperti MOS, Pilar, TO, dan Bintama. Namun tidak dapat berkilah bahwa di luar kesibukan itu, teman-teman yang saya punya menyenangkan. Saya juga mengikuti komunitas lamuru dan lumayan aktif pada tahun pertama ini. Kini saya berada di jenjang kelas 11 dan masih belum mengetahui fakultas apa yang nanti ingin dituju.
Lamuru sebelum tampil di JIG 2011

Studi Lapangan Bandung

Lari pagi kelas X terakhir

Sekian dari saya dan mohon maaf jika ada yang salah dalam penulisan autobiografi ini, terima kasih telah meluangkan waktunya untuk membaca autobiografi saya ini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar