Rabu, 29 Agustus 2012

Tugas 1 - Autobiografi Aliya Salsabila

16 Tahun untuk Selamanya.

Masa Balita

Seorang anak perempuan bernama, Aliya Salsabila, lahir ke dunia dengan selamat dan sehat walaupun saat proses persalinan harus dibantu dengan alat kedokteran seperti tang. Ia ahir pukul 9 malam Waktu Indonesia bagian Barat, Jumat, 27 September 1996, di Rumah Sakit Ibu & Anak Budi Kemuliaan, Tanah Abang. Bayi itu adalah saya. Saya lahir dengan panjang 50 sentimeter dan berat 3.3 kilogram. Kebetulan, yang membantu persalinan saya adalah kakak ipar dari ayah saya sendiri, yang merupakan seorang dokter kebidanan.

Nama Aliya Salsabila itu sendiri berasal dari bahasa Arab yang kata ibu saya saat itu lagi nge-hits banget dikalangan ibu-ibu untuk memberi nama anaknya. Kata ‘Aliya’ itu diambil dari salah satu Asmaul Husna  (nama-nama baik Allah) ‘Al-Aliyyu’ yang berarti ‘tinggi’. Sedangkan ‘Salsabila’ berarti ‘mata air di surga’. Sehingga ketika Aliya Salsabila digabungkan, artinya adalah mata air di surga yang paling tinggi.

Di hari-hari pertama kelahiran saya, saya dianggap sebagai ‘bayi kuning’, karena fungsi hati saya saat itu belum bisa bekerja dengan baik. Maka, saya diinapkan beberapa hari dahulu di dalam inkubator. Setelah pulih, saya dan ibu saya pun bisa kembali ke rumah.

Digendong Ibuku saat masih berumur 2 bulan
Duduk di atas troller saat berumur 7 bulan
Setelah umur 2 bulan, saya diurus oleh bu’de saya di Cipulir karena kedua orang tua saya bekerja. Jadi ASI eksklusif ibu saya dititipkan kepada beliau. Saya tumbuh dirumah beliau selama ± 4 bulan dan lalu ibu saya membawa saya pulang kembali ke rumah. Ibu saya bilang, saya tergolong bayi yang besar dan sehat, jadi tidak perlu perawatan khusus. Ayah saya juga sangat serin memandikan saya, beliau hanya tidak suka saat saya buang air besar saja. Saya juga sempat hampir memiliki 2 orang adik, namun ibu saya mengalami keguguran sehingga jadilah saya anak tunggal atau anak sematawayang seumur hidup.


Bersama kakek saat kumpul keluarga
Karena kedua orang tua saya masih bekerja, mereka mencarikan saya seoran baby sitter yang menginap. Lalu dapatlah mereka seorang bernama Henny. Mba Henny mengurusi saya selama kurang lebih dua setengah tahun. Pada tahun 1998, terjadi Krisis Moneter yang membuat kedua orangtua saya di-PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) sehingga mereka tidak memiliki pekerjaan lagi. Karena pesangon yang mereka terima tidak cukup lagi dan Mba Henny tahu akan hal tersebut, lalu Mba Henny pamit pergi bekerja sebagai TKW di Arab Saudi, dan sampai saat ini saya belum pernah bertemu dengan dia lagi.

Lalu ibu saya memulai usaha sendiri dengan membuat makanan siap goreng yaitu Ayam Presto. Sehingga setidaknya untuk beberapa bulan, ada sesuatu yang bisa menghidupi keluarga saya. Dan ayah saya kembali melamar pekerjaan di perusahaan-perusahaan di Jakarta. Pada akhirnya, ayah saya kembali memiliki pekerjaan dan ibu saya tetap melanjutkan usahanya.


Pada ulang tahun saya yang ke-3, karena mengetahui kondisi ayah saya yang sedang minim, bu’de saya yang mengasuh saya dulu merayakan ulang tahun saya dirumahya. Saya sendiri masih ingat segala kejadian kala itu. Dan perayaan itu sangatlah menyenangkan. Setelah beberapa bulan, ayah saya pun kembali memiliki pekerjaan.


Merayakan ulang tahun bersama keluarga besar di rumah bude
Saat memamerkan hadiah ulang tahun
Masa TK

Ketika saya umur 3 tahun 8 bulan, saya didaftarkan ke TK Kusuma Jaya yang letaknya tidak begitu jauh dari rumah dan memiliki mobil antarjemput untuk memudahkan transportasi. Ketika saya masuk TK pun, ayah saya kembali kehilangan pekerjaannya. 


Saat akan berangkat ke TK


Saya dikatakan sebagai anak yang mandiri oleh semua guru di TK saya karena hanya saya murid satu-satunya yang pengasuhnya tidak menunggui saya di sekolahan. Saat ulang tahun ke-5 saya juga sempat merayakannya bersama-sama teman disekolah.

Baru pulang sekolah
Saat kelulusan TK, saya disuruh menari tarian burung yang saya sendiri tidak mengerti itu apa dan mementaskannya saat acara kelulusan.


Saya dan teman-teman lainnya yang jadi korban Tari Burung

Masa SD

Ketika umur saya beranjak ke 5 tahun, kakek saya terkena penyakit paru-paru basah yang akhirnya merenggut nyawanya 3 hari setelah ulang tahun saya yang ke-5. Padahal kakek dari ayah saya itu sangat sering memperhatikan saya seperti layaknya ayah sendiri.

Pada saat umur saya 5 tahun 8 bulan, saya kemudian masuk ke SD Islam Al-Azhar 08 Kembangan. Saya ingat sekali, pada saat kelas 1, perut saya pernah ditonjok oleh salah satu teman lelaki saya yang memang memiliki kelainan emosional. Tetapi karena saya dulu belum tahu dan terlanjur emosi saya menonjoknya balik dan ia menangis sehingga melaporkan perbuatan saya ke guru, padahal yang memulai adalah dia. 

Berlibur ke Jogja dan berfoto dengan (mungkin) singa di Candi Borobudur

Setelah 3 tahun terlewati dan tidak ada yang spesial dari tahun-tahun saya di SD (kecuali pelajarannya yang mudah), saya naik ke kelas 4 dan memiliki walikelas yang aneh sehingga saya kurang nyaman selama setahun bersama dia dan membuat saya ingin pindah saja. Tapi di akhir tahun ajaran, Al-Azhar membuat sebuah pentas seni yang disebut Akhirusannah. Dan walikelas saya yang sebenarnya guru IPS menyuruh kelas kami untuk memakai kostum seperti pahlawan zaman dahulu. Saya berperan menjadi Maria Walanda Maramis.

Tampil di Akhirussannah. Saya ketiga dari kiri

Sama seperti yang dilakukan di kelas 4, saat saya kelas 5 saya juga mengikuti acara tersebut. Lebih tepatnya lagi, saya adalah pengisi acara. Saya menjadi pemeran utama pada drama musika kecil-kecilan dan bernyanyi menggunakan gitar. Latihannya sangat menguras tenaga dan waktu. Tetapi hasilnya sangatlah memuaskan, dan jutru membuahkan standing applause dari seluruh orangtua murid dan penonton di Gedung Pertamina Permata Hijau.

Ketika liburan kenaikan kelas 6, saya berlibur ke Bandung dengan keluarga bersamaan dengan ayah saya yang sedang memiliki proyek pengecatan di PT. Pindad. Sehingga ayah saya mengajak saya untuk sekalian berlibur di sana saja. Saya menginap di rumah kakak dari ibu saya di daerah Buah Batu. di hari ketiga saya di Bandung, saya berencana untuk pergi ke Cirebon bersama ibu saya dengan travel dari Bandung. Ketika saya sedang menunggu travel, saya iseng main sepeda berkeliling kompleks. Saya tidak sadar bahwa saya mengendarai sepeda saya dengan kencang. Dan bodohnya, saya menggunakan sepeda kakak saya yang lumayan tinggi dan sendal kakak saya yang kebesaran di kaki saya. Dengan kecepatan yang lumayan tinggi, saya mengendarai sepeda kembali ke rumah, tetapi apa daya, hanya 15 meter saja dari rumah, tiba-tiba saja sepeda saya tergelincir kearah kanan dengan badan saya yang bagian kanan ada dibawah, saya terseret diatas aspal yang rusak dan batu-batu yang sangat tajam. Kepala saya terantuk tempat sampah permanen yang diluarnya ada hiasan batu kali, pipi kanan saya tergerus aspal rusak dan bebatuan tajam yang tercampur pasir, sedangkan tangan dan kaki saya ikut terseret dan banyak luka-luka yang dalam.

Bersama kakak-kakak sepupu di Bandung
Saya ingat sekali ketika itu saya pingsan sejenak. Tetapi tidak jauh dari tempat saya jatuh, banyak pemuda-pemuda yang sedang bersih-bersih rumah dan langsung menolong saya dengan mengangkat saya dan sepeda saya sampai dirumah. Ibu saya langsung panik dan menangis ketika melihat saya penuh darah di muka bagian kanan saya. Kepala saya sedikit bocor saat itu dan yang membuat panik lagi, kacamata saya pecah bagian kanannya. Ibu saya takut kalau mata saya ikut terkena serpihan batu atau malah tertancap lensa kacamata saya sendiri. Pipi saya robek tidak karuan tepat dibawah mata dan hal itu makin membuat ibu dan saudara-saudara saya panik. Ibu saya lalu menggendong saya ke dalam rumah dan mengobati luka yang robek itu seadanya. Lalu sepupu saya berlari keluar untuk mencari angkot untuk disewakan agar bisa secepatnya pergi kerumah sakit dan menelpon ayahnya yang seorang dokter dan bekerja di Rumah Sakit Santo Borromeus, Bandung.

Ketika saya sudah diperjalanan, sayang sekali jalanannya begitu macet, ibu saya sudah berdoa berbagai macam bacaan dan menenangkan saya agar tidak menangis lagi. Kemudia saya tertidur dan tidak lama kemudian sudah sampai di rumah sakit. Saya langsung dibawa ke UGD (Unit Gawat Darurat) agar cepat ditangani. Karena pa’de saya sudah menyiapkan seorang dokter untuk menangani saya, ibu saya lumayan lega. Tapi ibu saya tidak mau melihat proses penjahitan luka saya karena takut dan kasihan. Jadilan kakak sepupu saya menemani saya saat penjahitan luka dan karena saya kesakitan saya meremas tangannya kuat-kuta hingga memar. Kata dokter, jahita saya tidak bisa dijahit dengan sempurna karena banyak daging yang hilang dan robeknya juga tidak karuan alias acak-acakan. Jadi setelah penjahitan dan pelepasan jahitan, akan ada bagian yang tidak memiliki kulit tetapi sudah ter-cover oleh benang-benang kulit muda.

Esoknya ibu saya pergi bersama bu’de saya ke Cirebon dan saa ditinggal dirumah. Kakak sepupu saya mengantar saya membeli pelapis luka yang disebut Sulfatilamit, perban, dan salep yang berbau seperti saus kacang. Dua hari setelah itu saya kembali ke Jakarta dengan di jemput ayah saya. Dan di Jakarta, saya mengontrol jahitan saya selama ± 2 bulan hingga pencopotan jahitan. Saya dibuka rasanya sakit sekali, rasanya kulit itu seperti di gunting. Tetapi, kata dokter di Jakarta, jahitan saya sangat baik dan terawat. Jadi tidak basah lagi. Sehingga hanya perlu diberi Sulfatilamit dan salep yang berbau saus kacang itu. Masa recovery­-nya cukup lama, sekitar 3 bulan setelah pencopotan dan baru boleh terkena air. Selama sekitar 5 bulan itu lah saya kesusahan saat mandi karena takut luka saya terkena air. Dan kehidupan persekolahan saya tetap berjalan seperti biasa hanya saja sebelum lepas jahitan saya tidak boleh mengikuti pelajaran olah raga yang melibatkan bola dan senam lantai.
Di semester kedua seluruh siswa kelas 6 harus melaksanakan Ujian Akhir Nasional (UAN) dan Ujian Akhir Sekolah (UAS). Saat di wisuda atau kelulusan, saya mendapatkan nilai UAS IPS tertinggi seangkatan. Saya sangat senang dengan apa yang saya raih, dan itu sangatlah membanggakan.

Masa SMP

Setelah lulus, saya sudah diterima di SMP Pembangunan Jaya. Dan saya pun melanjutkannya kesana. Saat masuk ke kelas 7, saya ditawarkan untuk menjadi pengurus OSIS periode 2008-2009. Karena iseng-iseng cari pengalaman dan sekedar coba-coba, saya mengikuti tesnya saja. Alhamdulillah, saya diterima sebagai pengurus OSIS Bidang Jurnalistik. Tugas saya selama 1 tahun maa jabatan adalah mengurusi semua kegiatan dan kepengurusan yang ada di ekskul jurnalistik. Di semester kedua kelas 7, karena kakak kelas 9 sudah tidak bisa bertanggung jawab penuh atas ekskul jurnalistik, maka pembimbing ekskul mengangkat saya menjadi Pemimpin Redaksi majalah sekolah.


Dengan teman-teman 7B
Atas: Valdy, saya, Echa, Mirza, Hafez
Bawah: Atha, Dewi, Rania
Kenaikan kelas 8, saya kembali ditawarkan untuk menjadi pengurus OSIS periode 2009-2010. Saat itu, saya berniat untuk menduduki jabatan Sekretaris Umum saja, tetapi guru-guru meminta saya untuk naik ke calon Ketua OSIS. Pada akhirnya saya menjadi salah satu kandidat Calon Ketua OSIS bersama dengan rekan saya Valdy, yang menjadi wakil saya. Namun sayangnya, saya kalah ± 20 suara dari calon lainnya, yang pada akhirnya saya diletakkan di jabatan Sekretaris, seperti tujuan awal saya.

Cewek-cewek 8A.
Atas: Jessica. Tarisa, Tyara, Naddya, Astari, Bana, Inda, saya,  Nabila
Bawah: Cindy, Janitia, Alyssa
Begitu menjadi kakak tertua di SMP, saya turun jabatan dan digantikan dengan adik kelas saya agar saya lebih fokus UAN. Seperti tradisi tahun-tahun sebelumnya, SMP PJ memiliki sebuah pentas seni yang dinamai G@LaXee dan panitia utamanya adalah siswa kelas 9. Sehingga mulai bulan Agustus, setelah memiliki nama angkatan yaitu FINCIVOR, saya dan teman-teman menyusun kepanitiaan dan nama saya kembali tercatat sebagai Sekretaris. Dengan acara ini, saya merasakan kesolidaritasan di dalam angkatan karena satu sama lain harus saling bahu membahu dalam mencari sponsor serta dana demi berlangsungnya acara tersebut.

Ketika Hari H tiba, seluruh perlengkapan stage dan sound system untuk G@LaXee FINCIVOR sudah siap, saya dan teman-teman sangat tegang namun tetap berdoa untuk yang terbaik. Jam demi jam acara berlangsung, kesibukan semakin meningkat. Semakin malam acaranya, semakin seibuk juga seluruh panitia. Tetapi seselesainya acara, kami semua senang, bangga, & terharu, atas pencapaian acara besar kami hari itu. Sangat memuaskan bagi setiap panitia. Dan acara ini juga salah satu bekal untuk kami agar bisa menjalankan acara lebih baik lagi di tempat yang berbeda.


Sesaat setelah briefing G@LaXee FINCIVOR
Ki-ka: Tyara, Cara, saya
Seluruh panitia G@LaXee FINCIVOR 2011!
Setelah hiruk-pikuk acara, seluruh angkatan langsung fokus kepada UAN dan tes masuk SMA. Saya sendiri berencana untuk tes ke beberapa SMA kala itu. Yaitu SMA Bina Nusantara Serpong, SMA Labschool Kebayoran, & SMAN 70 Bulungan. Kebetulan sekali, tes masuk SMA Binus Serpong itu satu hari sebelum tes masuk SMA Labschool Kebayoran. Tapi karena sudah terlanjur mendaftar keduanya, saya pun tetap melaksanakan tes-tes tersebut. Hingga pada hari pengumuman, keputusan diterima atau tidaknya saya di kedua SMA tersebut juga di hari yang sama. Alhamdulillah, saya diterima di kedua SMA tersebut dan saya rasa hasil jeri payah saya menghasilkan buah. Tetapi atas berbagai pertimbangan saya & orangtua, saya akhirnya memilih SMA Labschool Kebayoran. Dan karena sudah resmi mendapatkan SMA, saya malah lupa untuk mecari info tentang tes SMAN 70 dan akhirnya terlewat sudah. Masa SMP saya sangatlah menyenangkan, disamping teman-teman yang membuat saya nyaman, tapi kondisi sekolah yang selalu kondusif juga menjadi satu alasan saya tidak ingin melepaskan masa SMP begitu saja.


PJ - ChelseaFC #KTBFFH
Ki-ka: saya, Raudya, Panji, Akhsa, Bu Eka, Faisal

FINCIVOR #15 

Masa SMA

Hari pertama masuk sekolah adalah Pra MOS. Saat itu kami sebagai siswa baru sekaligus calon peserta MOS 2011, diberi pengarahan tentang apa saja yang akan dibuat untuk MOS dan perlengkapan apa saja yang boleh dibawa. Pertama kali saya melihat bentuk name tag MOS-nya, saya benar-benar kaget, karena bentuk name tag-nya sangat rumit dan tidak biasa. Ternyata, mengerjakannya harus dengan trik kerjasama kelompok. Dan akhirnya name tag pun selesai.

Hari pertama MOS saya kembali dibuat kaget karena saya belum pernah mengalami masuk sekolah pukul setengah 6 pagi dan harus berlari dengan rute yang cukup jauh buat saya. Tetapi lama-kelamaan saya mulai terbiasa. MOS di Labschool Kebayoran memang unik sekali bagi saya.


oranggila
Ki-ka: Ramadhanu, saya, Dipsya, Aqil
Selama kelas 10, saya mengalami masa sulit untuk beradaptasi dengan materi-materi baru dan tidak masuk akal. Menjalani berbagai remedial sudah menjadi santapan apalagi saat UTS. Saya juga mengikuti komunitas perkusi sekolah yaitu LAMURU (Labsky Drum Community). Namun setelah 1 semester berlalu, saya mulai dapat menyeimbangkan antara kegiatan Lamuru dan pelajaran.

Saat bulan Oktober 2011, angkatan saya, Dasecakra, melakukan Pra Trip Observasi dan Trip Observasi. Pada saat Pra Trip Observasi, kami di haruskan mengecat tongkat dan juga name tag yang tingkat kesulitannya melebihi name tag MOS. Saya memilih untuk mengecat tongkat. Di Pra TO juga angkatan kami baru memiliki nama. Yaitu Dasa Eka Cakra Bayangkara yang disingkat Dasecakra. Empat hari setelah Pra TO, kami pun berangkat ke lokasi TO di Purwakarta. Selama 5 hari kami tinggal disana, di rumah penduduk di desa setempat. Trip Observasi merupakan pengalaman paling tak terlupakan selama di Labschool.


Goes to Bandung!
Karena saya juga mengikuti komunitas Paskibra, awal bulan Januari 2012 saya mengikuti pelantikan Paskibra di daerah Bogor. Pelantikan juga salah satu kegiatan di Labschool yang menarik yang pernah saya alami.

Kompi 1 Pleton 2! BINTAMA!
Di awal bulan April 2012, seluruh angkatan Dasecakra melakukan salah satu kegiatan wajib Labschool yaitu BINTAMA. Menginap selama 6 hari di markas Kopassus Group 2 di Serang, Banten, itu lebih dari sekedar pengalaman tapi sebuah keberuntungan. Tidak semua sekolah melakukan wajib militer seperti ini. Sangat tidak terlupakan. Bahkan saat kami seangkatan hendak pulang, kami menangis karena terharu atas pidato salah satu pelatih dari Kopassus dan juga karena kami tidak mau mengakhiri BINTAMA di sana. Kami tidak menjalankannya dengan beban, tapi justru semangat.


BEFORE (2011) - AFTER (2012)
X-D 
TIM DO-FUN X-D.
Baris teratas: Jafar, Addo
Baris 2: Nadoa, Sarcil, saya, Eki, Kariim
Baris 3: Ukay, Dipsya, Bagus, Irsyad, Kalista
Saat kenaikan kelas, dengan nilai yang lumayan rata-ratanya, saya memilih untuk masuk kejurusan IPS saja. Karena menurut saya, passion saya ada disitu. Kabar gembiranya, setelah tes TPO yaitu tes yang wajib dilakukan bagi yang ingin menjadi pengurus OSIS, Alhamdulillah saya diterima sebagai Calon Pengurus OSIS. Dan sekarang saya menempati kelas XI IPS-2. 

Buka Bersama XI-IPS 2 :-D

Tidak terasa, setelah berbagai macam tes dilalui, akhirnya keluarlah hasil dan struktur organisasi OSIS yang saya tunggu-tunggu. Dan tepat pada hari Minggu tanggal 9 September 2012 kemarin, saya dilantik menjadi OSIS. Inilah hasilnya!



Selama 16 tahun, saya telah banyak mengarungi lika-liku kehidupan, naik-turun, dan sebagainya. Tapi saya sadar, itu semua adalah bagian dari pelajaran penting. Hidup itu cuma satu kali, jadi gunakan hidupmu itu untuk meraih semuanya yang kita inginkan!


BEST-MATES :)
Atas: Sarden, Ukay, Dindarpkw
Bawah: saya, Dipsya, Yealinzka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar