Selasa, 02 Oktober 2012

Tugas-2 Plus-Minus Bersekolah di SMA Labsky


Plus Minus SMA Labschool Kebayoran

 

SMA Labschool Kebayoran, sekolah ini terletak di Jl. K.H. Ahmad Dahlan No. 14, Jakarta selatan. Sekolah ini merupakan sekolah untuk mengikuti jenjang SMP dan SMA, teatpi kalau Labschool Rawamangun memiliki jenjang TK dan SD. Fasilitas di sekolah ini juga sangat terjamin, mulai dari kamar mandi yang bersih, masjid yang memadai, memiliki dua kantin ( masing masing kantin depan dan kantin belakang ), dan kelas yang memadai untuk dijadikan kelas belajar mengajar. Labschool Kebayoran adalah sekolah yang berada di 10 besar sekolah terbaik se-jakarta selatan, ini terbukti bahwa banyak program program khusus yang diadakan oleh labschool sendiri, seperti kegiatan Bina Mental Kepemimpinan Siswa ( BINTAMA ), Trip Observasi ( TO ), Pesantren Kilat, dan juga kegiatan lari pagi setiap hari jum’at. Banyak siswa siswa yang ingin bersekolah pada masa SMP dan SMA di Labschool Kebayoran, tak terkecuali saya. Saya bisa merasakan bahwa labschool kebayoran akan membuat saya lebih baik lagi dalam kehidupan saya kedepannya. Serangkaian tes pun dilangsungkan, mulai dari tes psikologi maupun tes tertulis. Angkatan saya termasuk angkatan yang ketika siswa/siswi yang mengikuti tes disana paling banyak, pada angkatan saya, siswa/siswi yang mengikuti tes disana mencapai angka 700 peserta, sedangkan pada akhirnya yang diterima oleh pihak labschool pada saat itu adalah 249 siswa/siswi. Alhamdulillah saya masuk ke sekolah itu dan saya sangat bersyukur dan bahagia atas kerja keras saya yang sudah dibayar dengan diterimanya di sekolah tersebut.

 

     

Pada tugas Sejarah kali ini saya di suruh mewawancarai 3 alumni SMA Labschool Kebayoran dan menanyakan apa kelebihan dan kekurangan bersekolah di SMA Labschool Kebayoran (plus minus di Labsky). Dan berikut laporannya.

 

Alumni yang akan saya wawancarai adalah kak Adinda, kak  M E Islamey, dan kak Gusti Rainada Dipta Noor. Kebetulan sekali ka Dinda adalah kakak sepupu saya, sehingga cukup memudahkan saya untuk mewawancarainya walaupun hanya ketemu saat ada kumpul bersama keluarga karena sekarang mereka sudah sibuk dengan kuliah tetapi masih mempunyai waktu untuk ini. Berdasarkan hasil wawancara saya, Labschool sudah menjadi sekolah yang bagus dan menarik tetapi tentu saja tidak sedikit yang masih harus di ubah dari sekolah ini. Walaupun sekolah Labschool Kebayoran baru berumur kurang lebih 12 tahunan, sudah menjadi sekolah yang cukup terkenal dan kualitas muridnya tidak meragukan.

 

 

 

1.Adinda ( kak Dinda):

Plus Minus:

Setelah saya mewawancarai kakak sepupu saya kak Dinda ia berkata bahwa pergaulan di SMA labschool kebayoran ini masih normal atau di batas wajar pergaulan anak SMA. Biasanya anak-anak labschool memiliki soft skill yang baik di karenakan program-program non akademik nya itu. Tidak ada tauran dan keanehan keanehan lainnya. Tidak sedikit guru labschool yang selalu ikut berpartisipasi dalam acara sekolah non akademis dan mereka memang baik di bidangnya.

Kekurangannya adalah, ada beberapa guru yang memang tidak berkompeten dalan mengajar, jadi tidak menanamkan konsep kepada muridnya. Tetapi biasanya beberapa guru itu berpartisipasi dalam acara sekolah non akademis tersebut, yang memang mereka baik dalam hal tersebut.   

Dengan begitu kekompakan dan rasa kepedulian di angkatan akan tumbuh dengan kuat. Minus dari SMA Labschool Kebayoran adalah peraturannya, menurut kak Dinda peraturan di SMA Labschool Kebayoran terlalu banyak sehingga murid - muridnya tidak terlalu bebas. Saran dari kak Dinda untuk SMA Labschool Kebayoran adalah memperbaiki peraturannya, buat peraturannya lebih longgar lagi, tidak terlalu ketat agar murid - murid SMA Labschool Kebayoran lebih bebas sedikit dan lebih santai dalam bersekolah.

 

2.M. Eldwin Islamey  (kak Eldwin)

Plus Minus sekolah di Lbsky

Saya tertarik untuk mengajukan banyak pertanyaan kepada kak Eldwin. Mengenai pengalaman, kak Eldwin tentunya memiliki banyak pengalaman yang menarik, maupun menyedihkan. Kak Eldwin memberikan plus minusnya selama berada di labsky. “Menurut gue sih, nilai positifnya banyak ya, salah satunya sih kayak lingkungan sekolah di labsky tuh enak banget, orang orang sampe pramubaktinya ramah, terus kalau lo pengen kemana mana itu ga perlu jauh jauh, terus pergaulan di sekolah itu bagus sekali karena antara adik kelas dan kakak kelas seperti tiada batasannya, tidak seperti sekolah lain yang menerapkan senioritasnya itu. Melalui program TO dan Bintama juga labsky berhasil menyatukan angkatan yang awalnya sedikit pecah. Dan kalau ditanya negatifnya, mungkin tugasnya banyak banget, kalau ngga ada tugas itu berasa surga banget deh, dan kadang kadang dari tugas itu suka nyusahin dan murid murid sudah merasa terbebani banget sama pelajaran yang berat, apalagi tugasnya yang bikin males parah”.

 

Tapi dibalik semua hal negatif yang dimiliki oleh labsky, sekolah ini menurut kak Eldwin tetap sekolah yang nyaman dan mengasyikan sekali, dan juga teman-temannya yang bisa dikatakan sangat solid sekali. Mungkin memang ini merupakan salah satu hasil didikan dari program-program yang dimiliki oleh labsky yaitu mengajarkan kesolidan terhadap angkatan sendiri serta membantu sesame angkatannya dan juga menaruh hormat pada angkatan atas serta bawahnya. Kak Eldwin mengatakan bahwa kenangan-kenangan selama bersekolah disini pasti tidak akanpernah ia lupakan.

 

 

3. Gusti Rainada Dipta Noor ( kak Nada)

Saya telah mewawancarai kak  Gusti Rainada Dipta Noor pada (kak Nada) hari jumat tanggal 7 september lalu setelah selesai melaksanakan sholat Jumat berjamaah.  Kak Nada adalah alumni angkatan ke 3 TRISEKA dan dahulu merupakan salah satu anggota OSIS. Kak Nada mengambil jurusan ilmu pengetahuan sosial di SMA Labschool Kebayoran ini. Setelah lulus, beliau berkuliah di Universitas Trisakti dan mengambil jurusan kesenian.

     Menurut Kak Nada keunggulan atau kelebihan (plus) SMA Labschool kebayoran adalah memiliki fasilitas yang sangat baik, sistem pelajarannya juga cukup bagus, ektrakulikuler atau ekskul yang terdapat di Sma Labschool Kebayoran  menarik, biaya yang diperlukan untuk sekolah di Sma Labschool Kebayoran  juga tidak terlalu mahal seperti sekolah swasta lainnya dan guru-guru yang mengajar cukup baik kepada murid-murid Sma Labschool Kebayoran.  Ia merasa senang bersekolah selama tiga tahun di SMA Labschool Kebayoran ini.                                                                                                                                          

     Tetapi Kak Nada mengatakan kekurangan (minus) bersekolah di SMA Labschool Kebayoran ini adalah dulu saat ia Sma di Labschool Kebayoran ia pernah menghadapi konflik-konflik kecil terutama karena beliau adalah seorang anggota OSIS, dan beliau menyayangkan pelajaran kesenian karena waktu yang diberikan oleh Sma Labschool Kebayoran kurang di konsentrasikan, menurut Kak Nada sekolah seharusnya menyeimbangkan antara seni dan akademik, menurut ia di Sma Labschool Kebayoran kesenian kurang di hargai atau beliau anggap tidak penting karena di Sma Labschool Kebayoran hanya diadakan satu minggu sekali dan hanya dua jam pelajaran, menurut kak Nada materi kesenian yang diberikan kepada siswa di Sma Labschool Kebayoran kurang penting dan harus ditingkatkan lebih baik lagi, baik dalam segi materi maupun jam pelajarannya. Menurut beliau semua pelajaran di Sma Labschool Kebayoran Baru secara tidak langsung akan terpakai pada kehidupan dan saat kuliah nantinya

Sabtu, 29 September 2012

Tugas-1 Autobiografi

                  16 TAHUN PENGALAMAN HIDUP



Waktu bayi
Pada pagi hari tanggal 14 Mei 1996 lahirlah seorang anak laki-laki dengan berat 2,5 kilogram di rumah sakit Asih Jakarta. Anak tersebut bernama Rizki Taufik Megananda Wirahaditenaya, anak pertama dari bapak Tony Gastina Megananda dan ibu Dita Ramdhani Menuk. Asal nama Megananda adalah nama dari marga keturunan ayah saya, nama Wirahaditenaya adalah nama yang diberikan khusus oleh kakek dari ayah saya karena saya anak laki laki dari putranya, dan Rizki Taufik adalah nama saya sendiri. Saya 2 bersaudara, adik saya lahir cukup lama setelah saya, 5 tahun lamanya, yaitu pada tanggal 18 Agustus 2001, sehari setelah hari perayaan kemerdekaan indonesia (17 Agustus).


Waktu bayi bersama ayah

Saat kecil, saya senang sekali merayakan hari ulang tahun saya, seperti anak anak lain kebanyakan, saya merayakannya hampir setiap tahun, biasanya ibu saya mengajak keluarga besar saya atau teman-teman juga tetangga saya. 


Yang ini saat ulang tahun sepupu
 
Taman Kanak-kanak

Pada umur 3 tahun saya akhirnya mulai bersekolah atau masuk ke taman bermain di Kelompok Bermain An-nisaa (KB An-Nisaa). Disana saya mulai mengenal teman-teman baru dan mulai belajar membaca dan menulis, setahun kemudian saya melanjutkan ke tingkat TK yaitu Taman Kanak-kanak dan masih tetap di sekolah An-nisaa tersebut. Saya masih teringat saat itu saya sangat sering bermain dengan teman saya yaitu andra dan randa. Saya sendiri mengalami Taman Kanak-kanak tersebut selama 2 tahun sebelum saya masuk SD, yaitu TK A dan TK B dalam kata lain adalah TK besar dan TK kecil. Saat itu adalah saat benar benar bermain dan belajar. Kadang-kadang juga kita disuruh membawa mainan kita ke sekolah sehingga kita suka bertukar dengan teman-teman lain dan bermain bersama.



Bersama adik saya waktu bayi



 Sekolah Dasar

Setelah menempuh masa-masa yang lebih senang bermain itu akhirnya pada umur 6 tahun saya masuk ke jenjang SD, dan masih di An-Nisaa juga. SD An-Nisaa menurut sya sendiri sangat bagus, sistem pembelajaranny menarik, dimana di setiap kelas terdapat karpet selain meja dan kursi, jadi saat kita mendengarkan guru menerangkan pelajaran, kita semua duduk di karpet dan setelah itu saat mengarjakan tugas atau ulangan, kita duduk di meja. Menurut saya itu sangat efektif buat saya sendiri sehingga sewaktu SD, semua pelajaran tersebut bisa masuk dengan mudah ke otak saya dan Alhamdulillah saya hampir setiap tahun masuk 5 besar.


Acara Keluarga di puncak


Outbond pertama dengan ayah
Di masa-masa SD saya sedang senang-senang nya bermain bola, dan mencoba hal hal baru, seperti foto outbond di samping. hampir setiap hari saya bermain bola, tidak di sekolah dan tidak di rumah pasti selalu bermain bola dan itu membuat kulit saya menjadi lebih gelap pada saat itu. Dulu setiap istirahat kita selalu bermain bola entah itu di hall atau di lapangan hijau, saya juga mengikuti ekskul bola selama beberapa tahun walaupun saya tidak mahir-mahir dalam hal itu, dan saat sepulang sekolah saya selalu ikut tetangga-tetangga saya bermain bola di lapangan bola, kita selalu bermain nyeker atau tanpa menggunakan sepatu atau sandal, karena menurut saya kita akan lebih semangat dan bergerak bebas tanpa ada sesuatu di kaki. Pokoknya semua tentang bola bola dan bola, dimana saya sering membeli bola dan menghilangkannya dan membuat bola tersebut terbang jauh entah kemana.

Tentu saja kita pasti di beri pelajaran-pelajaran dasar saat SD, pelajaran dasar tersebut di antaranya adalah seperti manasik haji, dimana kita berpura-pura melakukan haji, seperti melempar jumrah, memotong rambut, mengenakan pakain haji dan lain-lain. Kegiatan lainnya adalah sex education, pentas seni setiap tahun, assembly di setiap jam akhir hari jumat, dan masih banyak lagi yang terlalu banyak jika saya sebutkan semuanya (padahal lupa nama-nama acaranya).

Acara SD

 
Pada saat SD saya mempunyai sahabat dekat yang sangat baik orangnya, rumahnya hanya berjarak beberapa meter dari rumah saya, hanya menyebrangi jalan raya satu kali saja, kita sering main bersama baik di sekolah maupun di rumah, dia sering bermain ke rumah saya dan saya juga sering main kerumahnya. Saking akrabnya saya malah sering mengajak tetangga dekat saya untuk main kerumahnya juga, dan dia juga mengajak tetangganya sehingga menambah teman bermain. Dulu kita sering bermain sepeda, bermain bola, juga PS (PlayStation). Ibu kami juga sangat dekat, saat itu juga saya dekat dengan teman saya randa dan ega, dan ibu kami berempat juga sangat dekat, sering mengobrol dan bertemu, sehingga saat kelas 6 SD pun kami 1 tempat les bimbel untuk menghadapi UAN (Ujian Akhir Nasional) pertama untuk tinggat SD. Kalau tidak salah saat itu adalah UAN pertama, tetapi saya tidak ambil pusing soal itu.

Nilai UN saya saat SD cukup bagus, yaitu 26,65 hampir mendekati rata-rata 9. Sampai sekarang pun kami masih menjalin hubungan, seperti buka bareng angkatan 7, reuni angkatan setiap tahunnya dan lain-lain.

Acara keluarga di puncak

Setelah kelulusan SD An-Nisaa saya sudah mencoba tes di beberapa sekolah sepeti LabSchool dan Pembangunan Jaya, tetapi pada saat itu saya tidak diterima di Labschool karena pada saat tes saya tertidur sehingga tidak mengerjakan seluruh soalnya. Ha ha ha. Akhirnya saya di terima di SMP PJ (Pembangunan Jaya). Dan bukan saya sendiri yang diterima di SMP Pembangunan Jaya tersebut berasal dari SD An-Nisaa, terdapat beberapa teman saya juga. SMP Pembangunan Jaya terletak di sektor 3 Bintaro Jaya, saat itu saya memikirkan untuk kembali lagi ke An-Nisaa karena letaknya lebih dekat dan masuknya sedikit lebih siang, tetapi orang tua saya menyarankan agar tetap di Pembangunan Jaya saja.


Lebaran 2008


Sekolah Menengah Pertama

Disuruh membersihkan lapangan
Saat kelas 1 SMP atau kelas tujuh, saya mendapat kelas 7A dan disana saya sering bermain dengan teman saya yg bernama ravi, kami sering ngerjain temen-temen sekelas, dan teman kami yang bernama agie pun punya hobi yang sama, sehingga kita sering merusak kelas. Saat saat ini di mana saya baru beradaptasi di SMP sehingga saya sering cari masalah dengan orang-orang sekitar. Teman saya yang ravi ini sering memalak teman-teman sekelas saya dan kadang dia suka membagi hasilnya kepada saya dan agie. Ravi sudah ada bibit bibit kenakalan sejak dulu sehingga pada saat kelas 8 dia di pindahkan sekolahnya keluar PJ, sedangkan agie. Hampir setiap minggu pasti ada yang kena sama kita bertiga. Saat itu pun di PJ banyak anak berdarah panas yang ingin mengalahkan yang lainnya dalam berkelahi, sehingga awalnya hanya di antara teman sekelas dan akhirnya harus menghadapi teman-teman dari kelas lain juga.


Pada semester 1 pun akhirnya tidak sedikit siswa yang di panggil ke ruang bk dan orang tua pun di panggil ke sekolah. Karena kebodohan seorang teman pun akhirnya video-video perkelahian itu pun tersebar semua, sehingga guru tahu siapa saja yang berkelahi. Apesnya video-video saya juga terpampang disana dan orang tua murid yang di panggil pun di suruh melihat video tersebut. Habislah saya. Kelas 7 adalah masa yg suram karena banyak anak-anak kecil yang sudah merasa dewasa sehingga kelas kita sering melawan guru dan ada juga guru yang keluar kelas atau pun nangis. Tetapi kurikulum di SMP PJ tersebut termasuk bagus, sehingga tidak ada penyesalan juga untuk masuk SMP disana. Tergantung sifat anaknya juga dia ingin jadi apa disana, sehingga hanya sedikit yang berakhir buruk. Di angkatan saya setidaknya ada lebih dari 6 orang yang pindah sekolah keluar PJ, dan ada juga yang pindah masuk ke PJ walaupun jumlahnya lebih dikit dari yang keluar. Saat di SMP pun kami tentu tidak melupakan teman-teman SD dan kita suka mengadakan reuni

Reuni SD
Satu angkatan kami terdiri dari kurang lebih 109 anak pada akhir kelas 3 yang ikut kelulusan. Saat kelas 7 saya memang anak yang nakal tetapi nilai saya baik dan saya masuk 10 besar. Karena kenakalan saya dan ravi, akhirnya saat naik ke kelas 8 saya seperti sengaja di asingkan oleh guru-guru, teman sekelas saya tidak ada yang cowonya bandel banget juga, sehingga saya bandel sendiri. Sayangnya di kelas 8 pun kadang-kadang saya masih suka sedikit melawan guru, tapi kali ini saya sendiri, tidak ada teman-teman seperti dulu waktu kelas tujuh, yang lain hanya melihat dan menasehati. Pada kelas 8 ini kita masih merasa bebas karena belum kelas 9 dan masih lama menyambut UN. Sehabis solat kami sering bermain kuda tomprok atau perang sarung.

Join (9C)
Di kenaikan kelas 9 pun akhirnya semua bercampur, sepertinya semua muridnya sama rata, dan pada awalnya angkatan kita pun (angkatan 15) sudah bersatu, tetapi karena suatu masalah akhirnya angkatan kami terpecah pecah pada pertengahan semester 1, setiap kelas di beri nama, kelas 9A ardhox, 9b sab, 9c join, 9d ordhox. Tetapi terbaginya angkatan kami bukan berdasarkan kelas tetapi teman sepermainan di luar, entah bagaimana tiba-tiba kami memberi nama komplots. Cukup aneh sebenarnya melihat teman seangkatan menjadi berkubu-kubu karena hal sepele, tapi ya semua tidak bisa terhindarkan, masalah-masalah sepele itu bertumpul-tumpuk dan lama-lama meledak tak tertahankan.



Kami sering main bareng dan waktu itu kita juga ke bandung bareng, pertama kita ngumpul di rumah temen subuh subuh, lalu kita pergi setelahnya lewat puncak. Kita makan pagi di puncak di dekat rindu alam dan setelah itu bermain di rumah temen saya di bandung. Memang tidak terlalu banyak yang kita lakukan disana, seperti bermain kartu, main catur, ngobrol-ngobrol, dan makan-makan. Tetapi waktu bisa berlalu dengan sangat cepat jika kita menikmatinya dengan teman-teman terdekat.

Komplots



Setelah sekian lama akhirnya perselisihan sedikit berkurang dan sehari setelah pulang dari Bandung anak-anak yang lain mengadakan acara ke dufan, sayangnya anak-anak komplots tidak ada yang datang kecuali saya, karena saya tidak berselisih dengan siapapun maka disana kami bermain seperti biasanya. Tetapi kita kesana tidak terlalu memikirkan tentang wahananya, kita lebih mementingkan kebersamaan sehingga tidak banyak wahana yang kita naiki, hanya beberapa dan di selingi oleh kumpul-kumpul dan makan saja.

Di akhir kelas 9 sekolah kami mengadakan acara study tour di Bandung, disana kami bebas ingin memilih 1 kamar dengan siapa, 1 kamar isinya 4 anak. Anak-anak di kamar saya memutuskan untuk mengangkat kasur dan bergabung dengan kamar sebelah sehingga menjadi lebih ramai, 1 kamar isinya 8 anak. Disana kami bersenang-senang, ada acara api unggun, prom, dan lain-lain. Kebetulan sehari setelah acara puncak tersebut adalah hari ulang tahun saya, sehingga saat satu angkatan beristirahat di rumah teman kami untuk makan siang mulai terjadi cebur ceburan.

Studi Tour

Tidak terasa ternyata sudah 3 tahun sudah kami lewati, akhirnya pun pengumuman kelulusan menjadi momen penting terakhir selama di SMP buat kami, dimulai dari pembagian lulus atau tidak, pembagian nem (nilai akhir ujian nasional), dan hingga akhirnya wisuda. Semua momen tersebut pun kami rayakan dengan foto-foto dan bercanda ria. Selama liburan pun kami masih sering main bareng untuk mengisi liburan panjang yang kadang membuat bosan tak tertahankan di rumah.

Pengumuman Kelulusan
Wisuda
Saat masih di SMP saya mencoba lagi untuk masuk Labschool Kebayoran, cuma kali ini berbeda, kali ini adalah tes SMA dan kali ini saya tidak tertidur dalam mengerjakannya, tesnya pun cukup lancar hingga akhirnya saya diterima dan masuk ke dalam SMA Labschool Kebayoran, karena sebelumnya ingin masuk ke SMAN 70 dan tidak boleh oleh ibu karena takut seperti dulu lagi, selain itu SMA tersebut masih terkenal dengan taurannya sehingga terdapat kekhawatiran dari orang tua.


Sekolah Menengah Atas

Akhirnya hari yang dinantikan pun tiba, masuk lingkungan baru yang hanya ada 3 anak yang datang dari SMP yang sama dari 240 anak seangkatan. Saat pramos saya pertama kenalan dengan mikhail dary, saat itu dia sangat baik, dia mengajak saya dan rayhan bayu potong rambut bareng dan makan sehabis pramos, sehabis itu dia antarkan lagi ke sekolah. Saat mos saya masih malas banyak ngomong sehingga saya hanya diam dan jarang bergerak. Saat lari pagi pertama mos, saya hanya bermain dengan Bunawar dari SMP Albin (Al-Azhar Bintaro). Dulu SMP kami berdekatan walaupun kami tidak dekat. Akhirnya setelah lari dia mengenalkan saya kepana Maga dan maga mengenalkan kami kepada Rendy yang akhirnya maga dan rendy menjadi teman sekelas saya di XB. 


Ketika bosan di kelas

Saat masuk XB semua terasa berbeda, situasi kelas berbeda menjadi lebih sempit dan muridnya juga lebih banyak. Saat itu saya sering duduk sama maga. Saat pertama masuk kelas saya dan maga sering ngisengin anak-anak padahal belum kenal semuanya. Sampai suatu saat Rendy mengamuk gara-gara di katain oleh saya dan Maga. Saya juga dulu sering ngatain badra, awalnya dia selalu marah dan kami tidak akrab, tapi lama kelamaan dia sudah biasa dan sudah mulai asik sehingga akhirnya saya juga sering bermain dengannya. Selama di xb mungkin saya banyak dosa karena dalam sehari pasti ada yang ngambek, semua anak laki-laki di kelas pasti pernah kena, sampai yang sebesar hasif pun ngambek walaupun jarang. Pas upacara 17-an pertama, saya hasif maga jako pun di suruh untuk menjadi petugas upacara, karena bosan akhirnya pun ya kami mau, tetapi kami tidak melanjutkan menjadi pemeriah.

17 Agustus 2011
Di SMA Labschool, saya dan beberapa teman saya mengikuti ekstrakulikuler rugby karena kelihatannya sangat menarik dan beda dari yang lainnya. Olahraga ini terlihat sangat keras dan oleh karena itu kita harus menahan emosi kita juga untuk mengetes kemampuan kita sendiri
Dan Alhamdulillah setelah beberapa kali latihan dan sparing melawan sekolah lain, akhirnya usaha kami tidak sia-sia dan kami pun memenangkan SkyBattle 2012 :)

Di XB cukup menyenangkan, laki-lakinya sering keluar kelas bermain bola dan XB suka mengadakan acara makrab, bukber, dan lain-lain. Saat kumpul pertama kali kami adakan di rumah Melissa, disana semua berkumpul dan kami pun mengajak pak Eri sekeluarga. Disana kami bermain, solat, makan, dan akhirnya bermain kembang api dan ada kejadian yang hampir membuat arkan gosong tertembak kembang api. Waktu itu dengan tidak sengaja maga mengarahkan moncong kembang apinya kpd arkan, saat itu dia kira sudah habis padahal masih ada 2 atau 3 tembakan lagi. Untung saja arkan sempat menunduk dan kembang meledak di belakangnya menabrak tembok. Semua terdiam kaget dan akhirnya pun tertawa. Kelas XB memang penuh dengan keceriaan disertai tawa.

Bukber pertama XB

SMA Labschool Kebayoran selalu dipenuhi dengan acara-acara non akademis yang bagus, contohnya adalah TO, BINTAMA dan lain-lain. Ini lah yang membuat SMA Labsxhool lebih unggul dari sekolah lain. Di tempat tersebut saya belajar kemandirian, kedisiplinan, dan sebagainya, semua itu kira-kira akan sangat membantu di masa yang akan mendatang. Acara nya menarik dan ingin rasanya mengulangnya lagi, di acara-acara tesebut ada penjelajahan, lintas budaya, bekerja di desa, olahraga pagi saat TO dan jurit malam, survival, dan berbagai cara militer (kopassus) saat bintama.

Penjelajahan TO

Saat refleksi kelas atau di sebut perpisahan kelas pun kami mengadakannya di salon milik sekar yang letaknya di sektor 4 Bintaro Jaya. Tempatnya sangat luas dan juga bertingkat sehingga kami bisa bermain dimana saja, kami mengadakan refleksi itu selama 2 hari 1 malam. Siangnya kita hanya sibuk bermain xbox yang dibawa maga, main kartu, dan nonton. Malam harinya barulah kita menonton poling kelas dan saya mendapat ter-telat dan ter-ngantuk, itu memang ngga adil tapi sayangnya semua itu benar. Setelah itu kita lanjutkan dengan nonton lagi dengan infocus. Saat tengah malam ada yang tidur dan ada juga yang tidak tidur sampai pagi. Saya sempat tidur sejam dan akhirnya saat jam 12 lewat bangun lagi dan tidak bisa tidur sehingga kita bermain kartu dan ngobrol di balkon luar yang besar, karena balkonnya itu bagian dari rumah makan yang berada di dalam salon itu.

Study Tour Bandung 2011
Makan-makan 2011

Di kelas XI dengan rasa sedikit kecewa akhirnya saya masuk IPS, karena mungkin IPA memang bukan jalan saya, jadi ya sudahlah jalani hidup apa adanya kaarena Allah tau yang terbaik. Di kelas sebelas ini (XI IPS 1) memang tidak seramai XB, karena memang jumlah muridnya lebih sedikit dan kita sudah penjurusan jadi tidak terlalu berisik seperti kelas sepuluh. Di masa SMA pun saya tidak melupakan teman-teman SMP, saya masih sering main bareng dan tidak jarang juga ada reuni angkatan. Jangan melupakan teman lama ketika ada teman baru.

Lebaran 2012
Reuni SMP

Mohon maaf karena post ini saya bikin secara singkat karena terlalu banyak yang tidak bisa dipublikasikan.

Jumat, 28 September 2012

Tugas-2 Plus-Minus Bersekolah di SMA Labsky



Plus Minus SMA Labschool Kebayoran

Pada tugas kali ini saya di suruh mewawancarai 3 alumni SMA Labschool Kebayoran dan menanyakan apa kelebihan dan kekurangan bersekolah di SMA Labschool Kebayoran (plus minus di Labsky). Dan berikut laporannya.

Alumni yang saya wawancarai adalah Grendilaxrama Santanuaji dari angkatan Hastara, Edwina Prilliantika dari angkatan Saptraka dan Akbar Ridho dari angkatan Nawastra. Kebetulan sekali ka rendi dan ka prilly adalah sepupu saya, sehingga cukup memudahkan saya dalam mewawancarainya walaupun sekarang mereka sudah sibuk kuliah tetapi masih mempunyai waktu untuk ini. Berdasarkan hasil wawancara saya, Labschool sudah menjadi sekolah yang bagus dan menarik tetapi tentu saja tidak sedikit yang masih harus di ubah dari sekolah ini. Walaupun sekolah Labschool Kebayoran baru berumur kurang lebih 12 tahunan, sudah menjadi sekolah yang cukup terkenal dan kualitas muridnya tidak meragukan.

  1. Grendilaxrama Santanuaji (Hastara):
Plus Minus:

Pergaulan di SMA labschool kebayoran ini masih normal atau di batas wajar pergaulan anak SMA. Biasanya anak-anak labschool memiliki soft skill yang baik di karenakan program-program non akademik nya itu. Tidak ada tauran dan keanehan keanehan lainnya. Tidak sedikit guru labschool yang selalu ikut berpartisipasi dalam acara sekolah non akademis dan mereka memang baik di bidangnya.

Kekurangannya adalah, ada beberapa guru yang memang tidak berkompeten dalan mengajar, jadi tidak menanamkan konsep kepada muridnya. Tetapi biasanya beberapa guru itu berpartisipasi dalam acara sekolah non akademis tersebut, yang memang mereka baik dalam hal tersebut. Di masa ka rendi waktu bersekolah disana terjadi pergantian kepala sekolah, dan kepala sekolah pengganti tersebut, masih terlalu subjektif dalam menanggapi acara-acara OSIS, mudah untuk di lobby, disaat itu beliau kurang memiliki pengalaman mengenai sekolah itu sendiri, jadi jatuhnya beliau menjadi paranoid

  1. Edwina Prilliantika (Saptraka):
Plus Minus:

Kelebihannya adalah SMA Labschool Kebayoran itu tidak hanya mengajarkan dan mengembangkan akademiknya saja, tetapi SMA Labschool Kebayoran juga banyak mengadakan kegiatan kegiatan non akademiknya yang akan sangat membantu untuk kedepannya nanti. Sehingga itu membuat SMA Labschool Kebayoran menjadi lebih menarik.

Kelemahan SMA Labschool Kebayoran menurutnya adalah, karena banyak kegiatan non akademisnya itu, membuat kegiatan akademis labschool menjadi kurang perhatian dan kadang masih suka ketinggalan sama sekolah yang lain.

  1. Akbar Ridho (Nawastra):
Plus Minus:

Menurutnya reputasi SMA Labschool Kebayoran cukup bagus, sehingga dia akhirnya masuk ke sekolah ini. Bersekolah di Labschool menambah pengalaman dan pengetahuan untuk masa mendatangnya, seperti TO, BINTAMA, dan lain lain. Kegiatan kegiatan tersebt membuatnya menjadi lebih disiplin dari sebelumnya, sudah lumayan cukup untuk mulai membina masa depan. Cukup menyenangkan juga sekolah ini, bisa di lihat dari teman-temannya, tetapi terlalu banyak aturan yang kurang di perlukan dan ada juga kegiatan kegiatan yang kadang kadang kurang penting tetapi lumayan juga untuk menambah pengalaman.

Tugas-4 Solusi Labsky untuk Kemanusiaan


SOLUSI CEGAH PELANGGARAN HAM DAN KONFLIK DI PAPUA

Pelanggaran HAM di indoensia akhir-akhir ini marak terjadi baik di tingkat daerah maupun di tingkat nasional.
Sejak indonesia merebut papua dari belanda, pada tahun 1960-an dengan berbagai tindakan pembohongan. Hingga saat ini berbagai tindakan yang sifatnya melanggar hak-hak asasi manusia terjadi di papua.
Banyak sekali pelanggaran HAM yang dilakukan oleh pemerintah indonesia terhadap warga sipil di papua, baik secara diam-diam maupun secara terang-terangan. Seperti yang kita ketahui bahwa pada masa orde baru mulai dari tahun 1965 sampai dengan tahun 1999 tidak sedikit pelanggaran HAM yang dilakukan oleh pemerintah secara sistematis terhadap rakyatnya.
Pelanggaran Hak-hak Asasi Manusia sudah cukup memprihatinkan, dan kasus-kasus seperti ini banyak terjadi di papua dan umumnya di lakukan oleh aparat militer terhadap rakyat pribumi di papua. Sampai dengan saat ini kasus-kasus pelanggaran HAM di papua belum diselesaikan secara maksimal, dan dengan adanya hal inilah yang menyebabkan timbulnya akar konflik antara rakyat pribumi dengan pemerintah Indonesia.
Sebaiknya sebagai Negara demokrasi Negara Indonesia harus mencari solusi yang terbaik untuk menyelesaikan masalah pelanggaran HAM di papua. Disamping itu selang waktu berjalan dan tidak sedikit darah yang bertumpahan di bumi ini, dan lebih mengerikan lagi adalah warga-warga sipil yang tak bersalah yang selalu menjadi sasaran utama.
Yang harus dilakukan dalam menyelesaikan masalah pelanggaran HAM di papua adalah “Memberiakan kebebasan yang sepenuhnya kepada Papua untuk mengatur rumah tangga sendiri” alias “MERDEKA” tanpa ada penindasan, penyiksaan, dan tekanan. Tiada cara lain selain cara ini. Sehingga Indonesia jangan dengan sewenang-wenang melakukan penjajahan di bumi papua.
Sebelum hal ini tercapai maka akar persoalan yang terjadi di papua akan terus berlanjut tanpa ada titik penyelesaian yang jelas. Negara indosia juga harus mengakui kedaulatan kemerdekaan papua yang diproklamasikan pada tahun 1962 silam. Karena papua juga memiliki hak untuk memerdekakan diri dalam arti “MERDEKA”, mengatur rumah Tangga sendiri sebagai bangsa yang merdeka di atas tanah leluhurnya.
Sampai saat ini belum jelas kapan akan berakhirnya pelanggaran-pelanggaran HAM yang dilakukan oleh aparat militer terhadap rakyat pribumi yang tak bersalah dibumi papua. Karena bukanlah Negara Indonesia yang memgang nasib hidupnya orang papua.
Bahkan sampai saat ini indonesia merangcang UP4B sebagai solusi untuk menyelesaikan masalah papua saat ini. Indonesia perlu tahu bahwa papua tidak pernah minta uang kepada Jakarta. Sebaiknya Jakarta gunakan uang-uang itu untuk membangun negara indonesia. Karena status papua jelas. Dan papua bukan minta makan atau minum tetapi papua ingin Jakarta membuka ruang demokrasi yang seluas-luasnya untuk papua. Papua selalu dijadikan “anak tiri”nya Indonesia.
Pelanggaran HAM yan dilakukan oleh pemerintah terhadap warga papua kian hari semakin membukit dan terus bertambah. Korban jiwa berjatuhan disana sini. Pelanggaran HAM tersebut tak satupun kasus yang dapat diselesaikan dengan baik tetapi selalu membiarkan dan berlalu begitu saja. Yang lebih parah lagi adalah aparat dalam hal ini TNI/POLRI selalu menyangkal bahkan menyembuyikan tindakan pelanggaran yang mereka perbuat itu.
Hak Asasi Manusia adalah hak-hak yang telah dimiliki seseorang sejak ia lahir dan merupakan pemberian dari Tuhan.Dasar-dasar HAM tertuang dalam deklarasi kemerdekaan Amerika Serikat (Declaration of Independence of USA) dan tercantum dalam UUD 1945Republik Indonesia, yang membicarakan HAM, tetapi negara Indonesia terus dan terus melakukan pelanggaran baik terhadap peraturan yang dibuat oleh negara indonesia.
Lalu apa solusi lain untuk menghentikan ini?

Wakil Ketua Komisi I DPR, TB Hasanuddin, mengatakan ada penyebab utama konflik di Bumi Cendrawasih itu.
Pertama, kegagalan pembangunan dalam menyejahterakan rakyat, terutama di bidang pendidikan dan kesehatan. Kedua, terjadi marjinalisasi dan diskriminasi terhadap masyarakat asli Papua. Ketiga, sebagiam masyarakat sangat trauma dengan pelanggaran HAM akibat operasi militer masa lalu.

"Semua masalah itu harus segera ditangani dan diselesaikan secara komprehensif dan jangan terlambat agar tak berlarut larut," kata dia dalam rilisnya kepada Okezone, Minggu (10/6/2012).

Untuk menghadapi dugaan campur tangan asing dalam menggoyang stabilitas kemanan di Papua, lanjut politkus PDIP itu, harus dilakukan operasi intelijen terpadu dan operasi khusus diplomasi. Operasi intelijen terpadu harus dilakukan secara terpusat.

"Karena daerah sudah tak efektif lagi, melibatkan semua komponen terkait , dengan melakukan kontra-intelejen dan penggalangan yang mampu memotong semua jaringan," ujarnya.
Kemenlu juga harus lebih aktif mengorganisir, memotong, dan melobi, upaya-upaya internasionalisasi masalah Papua. "Kata kunci keberhasilan semuanya ada pada political will Presiden SBY," ujarnya. 


SUMBER :
- http://news.okezone.com

Tugas-3 Solusi Labsky untuk Indonesia


PERMASALAHAN POKOK PENDIDIKAN 


Ada dua permasalahan pokok pendidikan yang kita hadapai saat ini, yaitu:
- Bagaimana semua warganegara mendapat kesempatan bersekolah\ mendapat pendidikan.
- Bagaimana pendidikan dapat membekali keterampilan kerja untuk kehidupan bermasyarakat.

JENIS PERMASALAH POKOK PENDIDIKAN
Masalah pokok pendidikan perlu diprioritaskan penanggulangannya. Ada empat macam masalah pokok pendidikan yaitu: masalah pemerataan pendidikan, masalah mutu pendidikan, masalah efisiensi pendidikan, maslah relevansi pendidikan.



A. Masalah Pemerataan Pendidikan
Masalah pemerataan pendidikan adalah persoalan bagaimana sistem pendidikan dapat menyediakan kesempatan kepada seluruh warganegara untuk memperoleh pendidikan. Masalah ini dapat dipecahkan dengan dua cara yaitu dengan cara konvensional dan cara inovatif. Cara konvensional misalnya pembangunan gedung sekolah dan pergantian jam belajar. Cara inovatif misalnya sistem guru kunjung dan Sekolah Terbuka.

B. Masalah Mutu Pendidikan
Mutu pendidikan dipermasalahkan jika hasil pendidikan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Pemecahan masalah mutu pendidikan dalam garis besarnya meliputi hal-hal yang bersifat fisik dan perangkat lunak, personalia, dan manajemen pendidikan.

C. Masalah Efisiensi Pendidikan
Beberapa masalah dalam kaitannya dengan efisiensi pendidikan antara lain:
- Bagaimana memfungsikan tenaga pendidikan.
- Bagaimana sarana dan prasarana pendidikan digunakan
- Bagaimana pendidikan diselenggarakan
- Masalah efisiensi dalam memfungsikan tenaga Pengajar

D. Masalah Relevansi Pendidikan
Sebenarnya kriteria relevansi cukup ideal jika dikaitkan dengan kondisi sistem pendidikan pada umumnya. Gambaran tentang kerjaan yang ada antara lain sebagai berikut.
1. Status lembaga pendidikan yang bermacam-macam
2. Sistem pendidikan tidak pernah menghasilkan luaran yang siap pakai. Yang ada ialah siap
kembang.
3. Tidak tersedianya kebutuhan tenaga kerja dengan persyaratannya untuk menyusun programnya

SALING KETERKAITAN ANTARA MASALAH-MASALAH PENDIDIKAN
Ada dua. faktor penghambat mutu pendidikan. Yaitu: perluasan pendidikan untuk melayani pemerataan kesempatan pendidikan bagi rakyat banyak memerlukan penghimpunan dan pengarahan dana dan daya. Kedua, kondisi satuan-satuan pendidikan pada saat demikian mempersulit upaya peningkatan mutu karena jumlah murid dalam kelas terlalu banyak, tenaga pendidik kurang kompeten, sarana yang tidak memadai, dan lain-lain.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BERKEMBANGNYA MASALAH PENDIDIKAN
Faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan antara lain: perkembangan ilmu pengetahuan teknologi dan seni, pertumbuhan penduduk, aspirasi masyarakat dan keterbelakangan budaya dan sarana kehidupan.

A. Perkembangan IPTEK dan Seni
Dengan berkembangnya arus globalisasi di negara kita, terutama dengan pesatnya peningkatan teknologi komunikasi, membuat segala sesuatu harus dilakukan dengan cepat dan tepat. Oleh karena itu pendidikan harus senantiasa menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.
Seni merupakan kebutuhan hidup manusia. Pengembangan kualitas seni secara terprogram menuntut tersedianya sarana pendidikan tersendiri disamping program-program lain dalam sistem pendidikan.

B.Pertumbuhan Penduduk
Masalah kependudukan dan pendidikan bersumber pada 2 hal yaitu: pertambahan penduduk dan penyebaran penduduk.

C. Aspirasi Masyarakat
Belakangan ini aspirasi masyarakat semakin meningkat sama dengan peningkatan pemahaman masyarakat terhadap ‘reformasi’. Aspirasi tersebut menyangkut kesempatan pendidikan, kelayakan pendidikan dan jaminan terhadap taraf hidup setelah mereka menjalani proses pendidikan.

D. Keterbelakangan Budaya dan Sarana Kehidupan
Keterbelakangan budaya disebabkan beberapa hal misalnya letak geografis yang terpencil dan sulit dijangkau, penolakan masyarakat terhadap unsur budaya baru karena dikhawatirkan akan mengikis kebudayaan lama, dan ketidakmampuan ekonomis menyangkut unsur kebudayaan tersebut.

PERMASALAHAN AKTUAL PENDIDIKAN DAN PENANGGULANGANNYA UPAYA PENANGGULANGAN
Permasalahan aktual pendidikan di Indonesia sangat kompleks dan semakin berkembang sama dengan perkembangan zaman dan kemapanan sumber daya manusia. Masalah masalah tersebut:
- Masalah Keutuhan Pencapaian sasaran
- Masalah Kurikulum
- Masalah Peranan Guru
- Masalah Pendidikan Dasar 9 Tahun

UPAYA PENANGGULANGAN
Beberapa upaya dilakukan untuk menanggulangi masalah masalah aktual tersebut, antara lain:
- Pendidikan efektif perlu ditingkatkan secara terprogram.
- Pelaksanaan kegaitan kurikuler dan ekstrakurikuler dilakukan dengan penuh kesungguhan dan
diperhitungkan dalam penentuan nilai akhir ataupun kelulusan
- Melakukan penyusunan yang mantap terhadap potensi siswa melalui keragaman jenis program
studi.
- Memberi perhatian terhadap tenaga kependidikan(prajabatan dan jabatan) 
 

SUMBER: http://homeamanah.blogspot.com/

Tugas-5 Perkembangan Buku


Sejarah Kelahiran Buku dan Perkembangannya di Indonesia

 
Sejarah Kelahiran Buku
Bagaimanakah ditemukannya buku?
Pada tahun 2400 SM, orang Mesir kuno menggunakan papirus untuk bahan menulis tentang Raja Neferirkare Kaki, yang kemudian berubah bentuknya menjadi scroll (gulungan). Dan itulah bentuk buku yang paling awal. Bentuk buku yang lain ditemukan jauh setelah itu, misalkan di Kamboja dan China. Buku yang terbuat dari daun tentang Budha itu masih tersimpan hingga kini dan diabadikan oleh National Geographic. Begitupun di pulau Jawa ada jenis buku yang terbuat dari kulit kerbau, dan di Arab Al Hadits ditulis di pelepah daun kurma kemudian disatukan menjadi bentuk buku


Buku pada awalnya hanya berupa tanah liat yang dibakar, mirip dengan proses pembuatan batu bata di masa kini. Buku itu digunakan oleh penduduk yang mendiami pinggir Sungai Euphrates di Asia Kecil sekitar tahun 2000 SM.
Penduduk sungai Nil, memanfaatkan batang papirus yang banyak tumbuh di pesisir Laut Tengah dan di sisi sungai Nil untuk membuat buku. Gulungan batang papirus inilah yang melatarbelakangi adanya gagasan kertas gulungan seperti yang kita kenal sekarang ini. Orang Romawi juga menggunakan model gulungan dengan kulit domba. Model dengan kulit domba ini disebut parchment(perkamen).
Bentuk buku berupa gulungan ini masih dipakai hingga sekitar tahun 300 Masehi. Kemudian bentuk buku berubah menjadi lenbar-lembar yang disatukan dengan sistem jahit. Model ini disebut codex, yang merupakan cikal bakal lahirnya buku modern seperti sekarang ini.
Pada tahun 105 Masehi, Ts’ai Lun, seorang Cina di Tiongkok telah menciptakan kertas dari bahan serat yang disebut hennep. Serat ini ditumbuk, kemudian dicampur dan diaduk dengan air hingga menjadi bubur. Setelah dimasukkan ke dalam cetakan, buku di jemur hingga mengering. Setelah mengering, bubur berubah menjadi kertas.
Pada tahun 751, pembuatan kertas telah menyebar hingga ke Samarkand, Asia tenganh, dimana beberapa pembuat kertas bangsa Cina diambil sebagai tawanan oleh bangsa Arab. Bangsa Arab, setelah kembali ke negrinya, memperkenalkan kerajinan pembuatan kertas ini kepada bangsa Morris di Spanyol. Tahun 1150, dari Spanyol, kerajinan ini menyebar ke Eropa. Pabrik kertas pertama di Eropa dibangun di Perancis, tahun 1189, lalu di Fabriano, Italia tahun 1276 dan di Jerman tahun 1391. Berkat ditemukannya pembuatan kertas inilah maka pembuatan buku di beberapa belahan dunia semakin berkembang.


Sejarah Penerbitan Buku di Indonesia
Di Indonesia, awalnya bentuk buku masih berupa gulungan daun lontar. Menurut Ajip Rosidi (sastrawan dan mantan ketua IKAPI), secara garis besar, usaha penerbitan buku di Indonesia dibagi dalam tiga jalur, yaitu usaha penerbitan buku pelajaran, usaha penerbitan buku bacaan umum (termasuk sastra dan hiburan), dan usaha penerbitan buku agama.
Pada masa penjajahan Belanda, penulisan dan penerbitan buku sekolah dikuasai orang Belanda. Kalaupun ada orang pribumi yang menulis buku pelajaran, umumnya mereka hanya sebagai pembantu atau ditunjuk oleh orang Belanda.
Usaha penerbitan buku agama dimulai dengan penerbitan buku-buku agama Islam yang dilakukan orang Arab, sedangkan penerbitan buku –buku agama Kristen umumnya dilakukan oleh orang-orang Belanda.
Penerbitan buku bacaan umum berbahasa Melayu pada masa itu dikuasai oleh orang-orang Cina. Orang pribumi hanya bergerak dalam usaha penerbitan buku berbahasa daerah. Usaha penerbitan buku bacaaan yang murni dilakukan oleh pribumi, yaitu mulai dari penulisan hingga penerbitannya, hanya dilakukan oleh orang-orang Sumatera Barat dan Medan. Karena khawatir dengan perkembangan usaha penerbitan tersebut, pemerintah Belanda lalu mendirikan penerbit Buku Bacaan Rakyat. Tujuannya untuk mengimbangi usaha penerbitan yang dilakukan kaum pribumi. Pada tahun 1908, penerbit ini diubah namanya menjadi Balai Pustaka. Hingga Jepang masuk ke Indonesia, Balai Pustaka belum pernah menerbitkan buku pelajaran karena bidang ini dikuasai penerbit swasta belanda.
Sekitar tahun 1950-an, penerbit swasta nasional mulai bermunculan. Sebagian besar berada di pulau Jawa dan selebihnya di Sumatera. Pada awalnya, mereka bermotif politis dan idealis. Mereka ingin mengambil alih dominasi para penerbit Belanda yang setelah penyerahan kedaulatan di tahun 1950 masih diijinkan berusaha di Indonesia.
Pada tahun 1955, pemerintah Republik Indonesia mengambil alih dan menasionalisasi semua perusahaan Belanda di Indonesia. Kemudian pemerintah berusaha mendorong pertumbuhan dan perkembangan usaha penerbitan buku nasional dengan jalan memberi subsidi dan bahan baku kertas bagi para penerbit buku nasional sehingga penerbit diwajibkan menjual buku-bukunya denga harga murah.
Pemerintah kemudian mendirikan Yayasan Lektur yang bertugas mengatur bantuan pemerintah kepada penerbit dan mengendalikan harga buku. Dengan adanya yayasan ini, pertumbuhan dan perkembangan penerbitan nasional dapat meningkat denganc epat. Menurut Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) yang didirikan 1950, penerbit yang menjadi anggota IKAPI yang semula berjumlah 13 pada tahun 1965 naik menjadi 600-an lebih.
Pada tahun 1965 terjadi perubahan situasi politik di tanah air. Salah satu akibat dari perubahan itu adalah keluarnya kebijakan baru pemerintah dalam bidang politik, ekonomi dan moneter. Sejak akhir tahun 1965, subsidi bagi penerbit dihapus. Akibatnya, karena hanya 25% penerbit yang bertahan, situasi perbukuan mengalami kemunduran.
Sementara itu, pemerintah melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mashuri, kemudian menetapkan bahwa semua buku pelajaran di sediakan kan oleh pemerintah. Keadaan tidak bisa terus-menerus dipertahankan karena buku pelajaran yang meningkat dari tahun ke tahun. Karena itu, diberikan hak pada Balai Pustaka untuk mencetak buku-buku yang dibutuhkan dipasaran bebas. Para penerbit swasta diberikan kesempatan menerbitkan buku-buku pelengkap dengan persetujuan tim penilai.
Hal lain yang menonjol dalam masalah perbukuan selama Orde Baru adalah penerbitan buku yang harus melalui sensor dan persetujuan kejaksaan agung. Tercatat buku-buku karya Pramudya Ananta Toer, Utuj Tatang Sontani dan beberapa pengarang lainnya, tidak dapat dipasarkan karena mereka dinyatakan terlibat G30S/PKI. Sementara buku-buku “Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai”, kemudian “Era Baru, Pemimpin Baru” tidak bisa dipasarkan karena dianggap menyesatkan, terutama mengenai cerita-cerita seputar pergantian kekuasaan pada tahun 1966.

SUMBER:

Tugas-1 Autobiografi Nabilla Khairunnisa Ishadi



16 Tahun: Dari Kakak Ena, Sampai Nadoa

Masa Kelahiran, Balita, dan TK
Saya adalah anak pertama bagi orang tua saya, juga merangkap sebagai cucu pertama bagi kakek dan nenek saya, baik dari pihak ayah maupun dari pihak ibu. Bisa dibayangkan betapa bersemangatnya mereka menunggu proses kelahiran saya ke dunia.
Usia 2 bulan
Bermain bersama Bunda
                Hari itu, Rabu, tanggal 5 Juni tahun 1996, ibu saya berhasil melahirkan saya ke dunia dengan persalinan normal, di Rumah Sakit Muhammadiyah Taman Puring. Saya diberikan nama Nabilla Khairunnisa Ishadi. Nabilla berarti cerdas, Khairunnisa berarti sebaik-baiknya wanita. Dua nama depan dari nama saya ini diambil dari bahasa Arab. Sementara Ishadi adalah gabungan dari kedua nama kecil ayah dan ibu.
Suatu saat ibu saya menceritakan, beliau hampir gagal membawa saya untuk melihat dunia. “Bunda deg-degan sekali ketika dokter memberikan bunda 2 pilihan, mau mempertahankan atau melepaskan kakak. Jelaslah, bunda pertahankan” Pada usia kehamilan sekitar 3 bulan, tali pusar yang menghubungkan saya dengan ibu saya sempat putus, sehingga dokter kandungan yang membantu ibu meninggalkan orang tua saya dengan 2 pilihan; melepaskan atau melanjutkan. Tentu saja ibu dan ayah saya mengambil pilihan kedua, dengan syarat ibu harus melakukan bed rest selama kurang lebih satu minggu.
                 Sedari kecil, saya menghabiskan waktu saya bersama kakek dan nenek. Saya sering ikut nenek kakek pergi ke suatu tempat, bahkan hingga ke luar kota. Sepertinya, sebagai cucu pertama, saya memberikan keistimewaan tersendiri bagi kakek-nenek saya. "Dadong Ah!" adalah kata-kata yang sangat sering saya ucapkan ketika kecil, yang kini dijadikan bahan ejekan oleh paman saya.
Bersama Adik
                Di usia yang ke 4, saya mulai masuk ke jenjang pendidikan sekolah, yaitu Taman Kanak-kanak atau TK. Saya dimasukkan ke TK Aisyiyah yang jaraknya dekat dari rumah saya. Sebelumnya, di bulan Maret tahun 2000, Tuhan memberikan saya seorang adik perempuan, yang diberi nama Nadhifa Khairunnisa Ishadi. Sejak saat itu, rutinitas saya pun bertambah, yaitu mengganggu adik saya. Mendengar tangisan karena terganggu adalah suatu kepuasan tersendiri bagi saya. Sejak saat itu, predikat sebagai "Kakak" pun diemban saya. Panggilan saya pun berubah, menjadi Kakak Ena.
                Di Taman Kanak-kanak, saya banyak bermain, mengenal teman-teman baru, dan melakukan banyak kegiatan. Guru pertama saya adalah ibu Puji, yang masih sering saya temui hingga kini.

Lomba Menari di Kebun Binatang Ragunan

Prakarya TK
Masa SD
Kesayangan Kakek
Saya melanjutkan sekolah di SD Muhamadiyah 5, Kebayoran Baru. Sekolah ini letaknya berdampingan dengan TK Aisyiyah. Ketika saya disuruh untuk memilih, jujur saya tidak banyak melakukan banyak pilihan ataupun memberikan pendapat, sebab saya belum terlalu memikirkan sekolah. Bulan Juli tahun 2002, saya resmi menjadi siswi Sekolah Dasar.
Saya masuk di kelas 1A, dengan wali kelas bernama ibu Esih Sukaesih. Dari pandangan saya, bu Esih adalah orang yang sangat sabar, sangat baik, sangat ramah, dan tidak pernah marah. Kini, bu Esih sudah pensiun dari pekerjaan gurunya. Di kelas 1A, tidak banyak yang perlu saya lakukan dalam hal bersosialisasi, sebab hampir seluruh teman-teman saya sudah saya kenal semenjak TK.
Pada bulan Ramadhan, saya diminta oleh sekolah mewakili sekolah saya untuk tampil dalam acara televisi yang berjudul “Dunia Anak” yang dahulu ditayangkan di Indosiar. Pembawa acaranya adalah Dewi Hughes kala itu. Saya hanya diminta menjawab pertanyaan “Hewan kurban apa saja sih?”. Di kelas 2, saya ingat bahwa saya diberikan wali kelas yang terkenal galak, jauh berbeda dengan bu Esih. Kalau bisa memilih, saya lebih menginginkan untuk diajar oleh bu Esih saja, tapi tentu itu tidak mungkin.
Selain sempat “masuk TV”, saya juga pernah mencoba untuk “siaran”. Ya, di kelas 3 kebetulan sekolah saya bekerja sama dengan Female Radio, kalau tidak salah di 103.8 FM. Saya bersama teman saya, Nadifa, mengobrol-ngobrol dengan penyiar yang suaranya diperdengarkan melalui radio. Pertanyaannya hanya seputar kegiatan sekolah saja memang.
Di SD pula, sekolah sering mengikutsertakan saya dalam pelbagai perlombaan. Mulai dari Olimpiade, hingga lomba-lomba yang sifatnya keagamaan, didukung oleh Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia. Saya mengikuti Lomba Keterampilan Agama (LOKETA) di kelas 5 hingga kelas 6. Saya pernah ikut di 2 kategori, yaitu lomba MTQ perorangan, dan cerdas cermat. Syukur, keduanya membuahkan hasil yang baik. Terakhir saya juara 3 untuk MTQ tingkat Kodya Jakarta Selatan, dan juara 3 cerdas cermat di tingkat Provinsi DKI Jakarta.
Sejak kelas 5 SD, saya mulai memikirkan apa yang akan saya lakukan di kelas 6, dan di mana saya akan melanjutkan sekolah saya. Pilihan itu jatuh kepada SMP Labschool Kebayoran, sekolah yang sudah saya targetkan semenjak saya duduk di kelas 2. Kebetulan, saya pernah mengikuti lomba di ajang Pekan Ilmiah Indonesia satu sekitar tahun 2003. Tidak banyak yang saya lakukan ketika kelas 6. Saya hanya banyak mengerjakan tryout yang diberikan sekolah. Tidak seperti kebanyakan teman-teman saya, saya memilih untuk tidak mengikuti program bimbingan belajar.
Di pengumuman kelulusan, saya sangat bersyukur karena Tuhan mengabulkan doa-doa saya. Saya diberikan nilai-nilai yang terhitung sangat baik. Predikat sebagai lulusan terbaik juga diberikan kepada saya. Orang tua saya saat itu menyatakan rasa bangganya pada saya. Tidak terhitung betapa bahagianya.
Menutup masa SD sepertinya akan sangat sulit, pikir saya waktu itu.

Masa SMP
Saya lulus Sekolah Dasar tanggal 21 Juni tahun 2008, tepat enam tahun setelah saya mendaftar ke SD Muhammadiyah 5 di tahun 2002. Nilai UASBN saya dapat dikatakan baik, dengan saya meraih peringkat ketiga di angkatan saya. Saya juga berbangga pada diri saya sendiri, dengan meraih predikat sebagi Siswa Terbaik. Intinya, ketika lulus dari SD Muhammadiyah 5, rasa senang dan bangga menjalari tubuh saya. Ditambah, saya berhasil mewujudkan pilihan saya, yaitu masuk ke SMP Labschool Kebayoran, resolusi ketika kelas 2 SD.
Masa di SMP saya diawali dengan rasa sukacita, dengan memikirkan bahwa saya akan mengganti seragam saya menjadi dominan biru. Juga pada pikiran bahwa saya akan menyelesaikan tahap ini dalam waktu yang setengah kali lebih kecil dibanding saat sekolah dasar. Ditambah dengan kabar bahwa saya dapat mengikuti program akselerasi karena masuk dalam 50 besar ketika tes masuk. Memang saat itu masuk program akselerasi adalah tujuan saya. Kebetulan, salah seorang saudara saya ada yang mengikuti program akselerasi ketika ia SMA, di SMA Labschool Rawamangun.
Hari pertama masuk SMP Labschool Kebayoran, saya dihadapkan kepada pemandangan yang riuh, dengan total manusia yang banyak. Saya sempat berpikir, apa kemungkinan sejumlah populasi manusia di dunia berada di Labschool, saking banyaknya manusia di sekolah ini. Mungkin ucapan tersebut adalah bentuk kaget karena selama menjalani masa ketika SD, saya belum pernah melihat orang sebanyak ini.
Saya sudah mengantipasi beberapa kemungkinan terberat yang akan saya jalani selama Masa Orientasi berlangsung melalui berrita-berita yang terdengar. Benar saja, sebagai siswi baru, saya diminta untuk menguncir enam rambut pendek saya. Ditambah membuat name tag yang ukurannya besar dengan bentuk dan warna yang aneh, membawa perbekalan makanan yang banyak serta air minum dengan botol besar, serta membuat tas serut. Kala itu, saya hanya berpikir bahwa kehidupan saya akan sangat seru.
Saya merasa menjadi siswa SMP Labschool tepat pada hari terakhir Masa Orientasi Siswa, hari Jumat ketika lari pagi. Setelah hari Jumat itu, Bapak Masribi Ali, selaku kepala SMP Labschool Kebayoran, memberikan sedikit pesan kepada kami, para siswa baru, sekaligus menutup rangkaian Masa Orientasi Siswa yang diberi nama “Labs Fresh School Day”.
Saya masuk ke kelas saya, kelas 7A. Kelasnya sangat ramai. Kira-kira, ada lebih dari 30 anak di kelas saya. Banyak dari mereka yang sudah saling kenal, terkecuali saya. Saya hanya mengenal dua orang di kelas baru itu. Satu Irfan, yang kebetulan berasal dari SD yang sama seperti saya, yang satu lagi Niken, teman yang secara tidak sengaja membantu saya menutupi seragam saya yang terkena cat dari tas serut yang digendong ketika MOS berlangsung.
Di Labschool, sistem mengajarnya cukup jauh berbeda dengan SD saya dulu. Di Labschool, kami dituntut untuk lebih aktif, dan menganggap bahwasannya guru adalah kawan yang bisa diajak berdiskusi. Saya juga menemukan bahwa guru-guru saya selama di SMP ternyata jauh lebih muda. Kisaran umurnya sekitar 20 sampai dengan 40 tahun. Beda dengan guru SD saya yang bisa mencapai umur 60 tahun ketika mengajar.
Bulan Agustus bisa dikatakan adalah bulan yang paling ditunggu-tunggu di Labschool. Setiap tanggal 17, yakni pada hari kemerdekaan Indonesia, sekaligus sebagai pergantian masa jabatan bagi para pengurus OSIS. Petugas upacara peringatan kemerdeaan Republik Indonesia ini bergilir, dari SMP kemudian tahun berikutnya SMA, begitu seterusnya. Karena banyaknya siswa yang mengikuti ekskul paskibra yang juga sebagai pengurus OSIS atau calonnya, akhirnya dibukalah kesempatan bagi siswa/i kelas 7 yang berminat menjadi petugas upacara. Saya bukanlah orang yang bisa baris-berbaris dengan fasih, tetapi saya memaksakan diri untuk ikut, dengan pemikiran sebatas itung-itung pengalaman. Akhirnya, hampir setiap sore, saya berbaris di lapangan hijau, bersama belasan anak kelas 7 lainnya mengikuti pelajaran baris-berbaris. Saya tidak terpilih menjadi barisan pengibar bendera, tetapi saya tidak merasa sedih karena saya menyadari bahwa kemampuan saya belum maksimal dalam hal baris-berbaris.
Kira-kira satu minggu sebelum hari kemerdekaan Indonesia, sekolah mengadakan upacara mingguan, sebagai ajang gladi kotor sekaligus melihat apakah posisi kami sudah benar sebagai petugas upacara. Saya, didaulat sebagai pembaca doa, melaksanakan tugas saya semaksimal mungkin. Di akhir upacara, banyak yang menilai upacara ini berjalan sukses.
Yang mengejutkan, salah seorang teman sekelas saya, yang ketika itu minta dipanggil dengan nama “Sayuu” (bukan nama sebenarnya), datang menghampiri saya dan mengatakan suara saya terdengar lucu ketika membaca doa. Dia katakan, suara saya terdengar seperti suara salah seorang kakak kelas, yang merupakan Koordinator Bidang Rohani Islam saat itu, yang biasa ia panggil Kak Doa karena kebiasaannya membaca doa.
Karena nama saya Nabilla, akhirnya ditambah kata ‘Doa’ di belakangnya, jadilah nama “Nadoa”. Sejak saat itu, masing-masing dari teman-teman di angkatan saya memanggil saya dengan nama “Nadoa”. Hingga para guru juga ikut-ikut memanggil saya “Nadoa”. Aneh sekali rasanya waktu itu, terlebih ketika orang-orang mulai menanyakan apa maksud dari panggilan tersebut.
Setelah MOS, saya dihadapkan pada KALAM, Kajian Islam Ramadhan. Sama seperti MOS, kami juga diminta untuk membuat nametag sebagai alat pengenal dan sebuah persyaratan. Kembali pertanyaan muncul dalam benak saya Mengapa harus nametag? Mengapa bentuknya harus aneh? Masih segar dalam ingatan saya bentuk nametag saya adalah mata manusia. Ya, mata. Saat itu isu mengenai simbol mata belum terlalu terdengar, jadi bentuk mata belum dianggap terlalu kontroversial. Apalagi digunakan untuk bentu nametag sebuah acara yang berbau keagamaan.
Kegiatan KALAM jujur melelahkan bagi saya. Bulan Ramadhan yang semestinya dinikmati, injustru penuh dengan rasa tidak aman. Bangun tidur dengan pintu yang menggebrak adalah contoh dari rasa tidak aman. Belum lagi teriakan dan suara peluit yang memekakkan telinga. Tanpa diprediksi sama sekali, saya berhasil meraih predikat peserta terbaik KALAM.
Sie. Rohani Islam
OSIS Hasthaprawira Satya Mahadhika
Di kelas 8, kegiatan saya makin bertambah banyak yang membuat kedua orang tua saya keheranan. Tidak jarang saya baru sampai di rumah ketika azan Isya berkumandang. Terlebih ketika saya berhasil terpilih menjadi anggota OSIS, lengkaplah sudah ocehan orang tua dan kakek-nenek saya mengenai jam pulang saya yang terhitung terlalu malam.
Bisa dibilang, kelas 8 adalah masa-masa paling bebas di SMP. Salah satu target saya ketika kelas 8 adalah mengikuti kegiatan pertukaran pelajar, sehingga saya bisa merasakan bagaimana rasanya belajar di sekolah lain yang pastinya berbeda dengan Labschool.
Bersama Anita dan
keluarganya di Malang
Pertukaran pelajar pertama saya adalah ke SMPN 13 Jakarta, yang dilanjutkan ke SMPN 1 Malang. Di Malang, saya merasakan perbedaan yang cukup signifikan dalam hal pembelajaran. Suasana belajar di Malang sama sekali tidak menyita waktu, seperti halnya di Labschool. Di Malang juga saya mendapatkan teman-teman baru, salah satunya bernama Anita, yang bersedia “menampung” saya selama kegiatan di Malang.
Leontos Family, Melbourne
Di kelas 9, saya menargetkan untuk serius daam belajar. Selain masa kepengurusan OSIS yang sudah berakhir, juga karena kelas 9 ini adalah tahun terakhir saya di SMP, sebelum akhirnya melanjutkan ke SMA. Di awal semester, saya berhasil terpilih untuk mengikuti Homestay di Melbourne, Australia, tepatnya di Williamstown Highschool. Di sana, saya tinggal di rumah keluarga Leontos, di wilayah Yarra Ville selama kurang lebih 2 minggu. Teman saya bernama Evangeline Leontos, yang usianya terpaut 1 tahun lebih muda dari saya. Hingga kini, saya dan Evangeline masih sering berkomunikasi melalui fasilitas media sosial dari internet.
  Singkat kata, hari-hari saya langsung disibukkan dengan kegiatan pembelajaran, yang penuh dengan latihan-latihan dan pemantapan untuk Ujian Nasional. Kebetulan, tahun ketika saya akan lulus, format dari nilai akhir kelulusan siswa mengalami perubahan indikator. Tidak hanya dengan nilai Ujian Nasional saja, tapi juga dengan nilai Ujian Sekolah. Tentu saja hal ini awalnya mengkhawatirkan saya, dan kesannya menakutkan karena takut nilai saya tidak mencukupi untuk lulus.
Saya dan Mia (Lala Teletubbies)
Saya juga memikirkan SMA yang akan saya pilih nantinya. Jujur, saya mencanangkan untuk memilih sebuah sekolah negeri di Bandung, namun orang tua saya kurang setuju. “Bunda sama ayah belum mau pisah jauh sama kakak. Nanti saja ya, ke Bandungnya, pas kuliah” begitu ujar ibu saya ketika saya mengutarakan rencana tersebut. Akhirnya, pilihan saya pun jatuh ke SMA Labschool Kebayoran. Kebetulan saya memiliki kesempatan untuk mengikuti jalur khusus, yaitu jalur masuk tanpa tes. Singkatnya, saya berhasil diterima.
Bulan April seakan-akan adalah bulan yang penuh duri. Begitu banyaknya ujian yang harus dilaksanakan, sampai-sampai orientasi kegiatan saya sehari-hari hanya seputar belajar saja. Tanggal 25-28 April bisa dibilang adalah tanggal-tanggal yang mementukan. Ujian Nasional dilaksanakan. Bagi saya, dengan selesainya ujian-ujian tersebut, akan datang juga libur yang panjang dengan waktu istirahat yang tak terbatas.
Dua bulan setelahnya, tanggal 4 Juni 2011, saya dan teman-teman menerima hasil ujian. Saya cukup puas dengan hasil yang saya dapatkan, meskipun belum sampai pada targetnya.

Masa SMA
Di pertengahan tahun 2011, saya menggeser dunia sekolah saya ke “teritorial” SMA. Saya melanjutkan ke SMA Labschool Kebayoran. Bisa dikatakan, saya memang hanya menggeser posisi saya. Karena, letak SMA Labschool Kebayoran yang hanya berbeda bangunan dari SMP Labschool Kebayoran. Jujur, yang saya rasakan pada waktu itu adalah kurang berminatnya saya terhadap dunia SMA. Entah karena saya merasa terlalu nyaman, atau bahkan disebabkan oleh faktor lain, yang mungkin saya tidak sadari itu terjadi. Saya mengawali hari Pra-MOS saya dengan datang terlambat waktu itu. Para siswa Saya mendapati teman-teman saya sedang membuat lingkaran di hall basket. Untung saja saya tidak sendirian.
XD
Saya masuk ke kelompok 8. MOS SMA ini berlangsung selama 3 hari. Beda dengan MOS SMP yang berlangsung selama 5 hari. Agaknya, MOS SMA ini kebih santai ketimbang MOS yang saya jalani 3 tahun lalu. Selesai MOS, saya memulai kegiatan saya sebagai siswi resmi SMA Labschool Kebayoran di kelas XD, dengan wali kelas Pak Tanto.
Tahun pertama di SMA Labschool Kebayoran adalah tahun yang terhitung berat. Di tahun pertama ini, nilai-nilai saya turun. Dikatakan drastis, tidak begitu. Sejujurnya, pola pembelajaran SMA Labschool Kebayoran tidak jauh berbeda dengan SMP. Namun, tanpa disadari, kegiatan belajar kini lebih padat dan seolah tanpa mengenal kata istirahat.
Kelompok 22
Angin Mamiri
Sebagai siswi baru, saya dihadapkan kepada kewajiban untuk mengikuti kegiatan-kegiatan sekolah di luar kegiatan belajar-mengajar. Belum terhitung 3 bulan setelah Masa Orientasi, program Trip Observasi berlangsung. Kali ini, Trip Obsevasi dilaksanakan di Kampung Parakanceuri, Purwakarta. Saya berada di kelompok 22, Angin Mamiri, dengan Pak Afdar sebagai guru pembimbing beserta Kak Valdi dan Kak Karina sebagai OSIS pembimbing.
Trip Observasi adalah kegiatan yang menyenangkan. Jujur, saya merasakan bahwa kegiatan sekolah seperti ini adalah kegiatan tambahan yang ditujukan untuk membuang rasa penat belajar di sekolah. Selama 5 hari kegiatan ini berlangsung. Di hari terakhir, saya dan teman-teman merasakan bahwa kehidupan kami selama Trip Observasi lebih enak untuk dijalani, tanpa beban mengerjakan tugas dan hal-hal sekolah lainnya. Tidak diduga-duga, kelompok sayalah yang terpilih menjadi kelompok terbaik.
Komunitas Rohis #11
Sebagai calon pengurus Rohis kala itu, saya mengikuti kegiatan LAMPION. Pada kegiatan tersebut, saya beserta teman-teman saya yang juga calon Rohis, mengikuti kegiatan pelatihan untuk menjadi pengurus Rohis. Kegiatannya menyenangkan, jauh dari kesan kerohanian yang terkadang membosankan. Kini, setelah dilantik saya menjabat sebagai Sekertaris Umum Komunitas Rohis Angkatan 11.
Di bulan April, saya menjalani kegiatan wajib non-akademik saya yang terakhir, yaitu BINTAMA. BINTAMA juga merupakan kegiatan yang berkesan. Kami melaksanakan kegiatan ini di Grup 1 Kopassus, Serang, Banten. Hampir seperti Pra TO, hanya saja disini tidak ada nametag dan tongkat, dan yang mengendalikan acara bukanlah OSIS melainkan para tentara Kopassus (Komando Pasukan Khusus). Tanpa perlu basa-basi kami pun belajar patuh dan disiplin pada aturan.  Guru-guru mengatakan, BINTAMA angkatan saya adalah BINTAMA yang terberat dibanding para senior sebelumnya. Di BINTAMA, saya belajar kedisiplinan dan bagaimana mengatur dan mengendalikan situasi.
Sie Rohani
OSIS Amarasandhya Batarasena
Selesai BINTAMA, selesai kewajiban program sekolah non-akademik yang harus saya jalani. Menyisakan satu program pilihan, yaitu LAPINSI atau Latihan Kepemimpinan Siswa. Kegiatan ini dikatakan pilihan sebab, kegiatan ini tidak diwajibkanbagi setiap siswa, tapi hanya kepada mereka yang berminat saja. Kegiatan ini dikhususkan untuk para calon pengurus OSIS maupun MPK. Awalnya, saya ragu untuk ikut LAPINSI sebab waktunya yang berdekatan dengan Ulangan Tengah Semester 2. Tapi, dengan dukungan orang tua dan teman-teman, saya ikut LAPINSI. Sekarang, saya resmi dilantik sebagai pengurus OSIS Amarasandhya Batarasena periode 2012/2013, setelah mengikuti LALINJU pada tanggal 9 September 2012.
Kelas 10 ini, saya mantap dengan tujuan utama saya untuk naik kelas dengan nilai baik, dan masuk program penjurusan IPA. Saya bersyukur karena salah satu tujuan saya di SMA bisa tercapai.
Kini, saya memasuki tahun kedua saya di SMA Labschool Kebayoran, di kelas XI IPA 1. Pada tahun kedua ini, saya berharap bahwa semuanya akan terasa lebih baik dan bermakna, untuk kehidupan saya ke depan yang saya harapkan sesuai dengan apa yang saya cita-citakan.
"Yay, saya lebih tinggi!"
Tamasya ke Puncak


Kini